Ketik disini

Giri Menang Headline

Anak Pengungsi Gunung Agung Mulai Sakit-sakitan

Bagikan

GIRI MENANG-Jumlah pengungsi terus meningkat akibat kondisi Gunung Agung, Bali yang dikabarkan dalam status awas. Di Lombok Barat (Lobar) sendiri, beberapa pengungsi dari Pulau Dewata tersebut tersebar di beberapa Desa. Salah satunya adalah Desa Batu Layar Barat, Kecamatan Batu Layar.

Adanya pengungsi yang harus menempuh jalur laut menggunakan alat transportasi perahu, mengakibatkan kondisi mereka tidak begitu baik. Hal tersebut diakibatkan oleh kondisi cuaca buruk dalam perjalanan, dan ditambah lagi dengan perubahan cuaca. Akibatnya, anak-anak yang mengungsi terserang penyakit.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”86″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Nurhidayah, pengungsi gunung Agung, Bali yang baru satu minggu berada di Dusun Melase, Desa Batu Layar Barat, Kecamatan Batu Layar, Lobar terpaksa harus membawa anaknya ke Rumah Sakit Umum Provinsi karena tidak bisa lagi ditangani oleh Puskesmas Batu Layar.

Berbekal surat rujukan yang di dalamnya tertera keterangan pengungsi, ia pun membawa anaknya, Rapa Erlangga yang terserang demam tinggi (step). Setelah kondisi Rapa membaik dan pihak Rumah Sakit memberikan Rapa izin pulang, Nurhidayah kaget karena pihak Rumah Sakit meminta biaya administrasi.

a�?Di kwitansi, saya diminta bayar 345 ribu rupiah. Saya pun kaget, karena saya tidak bawa uang,a�? kata Nurhidayah.

Nurhidayah mengatakan, ketika ia menjelaskan kepada perawat yang sedang bertugas mengenai statusnya yang adalah pasien pengungsi, perawat tersebut tidak menanggapi.

a�?Perawatnya hanya bilang a�?iyaa��, dan meminta suami saya untuk mengurus administrasi di Loket,a�? kata Nurhidayah.

Karena hal tersebut, ia meminta kepada keluarga yang berada di Dusun Melase untuk meminta bantuan dana, agar Rapa bisa segera kembali ke rumah pengungsiannya. Keluarganya di Dusun Melase pun panik. Ibu Hendun, warga Dusun Melase, yang menjadi pemilik rumah tempat para pengungsi singgah mengatakan heran sekaligus kasian melihat nasib Nurhidayah dan suaminya Lukman yang sempat kebingungan mencari uang untuk membayar biaya administrasi yang diminta oleh pihak Rumah Sakit Umum Provinsi NTB.

a�?Seharusnya, tidak dimintai bayaran, kan ini pengungsi. Hidupnya sudah susah karena meninggalkan rumah,a�? tambah Hendun.

Harapan Hendun segera terkabul setelah pihak keluarga, ditemani kepala dusun meminta Dinas Sosial Lombok Barat untuk segera turun tangan dan berkoordinasi dengan pihak RSUP. Setelah 30 menit, Rapa akhirnya diizinkan pulang tanpa biaya sepeser pun.

Humas RSUP, Solikin mengatakan, telah mendapatkan rekomendasi dari Dinas Sosial, sehingga pihaknya telah membebaskan biaya untuk pasien. Sehingga pasien telah dinyatakan boleh pulang dengan bebas biaya.

a�?Karena ini kan bencana ya, kita bisa bantu melalui dana subsidi yang ada di Rumah Sakit,a�? terang Solikin.

Mendengar adanya permintaan biaya administrasi oleh pihak RSUP kepada pasien, Solikin mengatakan hal tersebut terjadi karena ada miskomunikasi, dan ia bersyukur bahwa tim gerak cepat menangani hal tersebut.

a�?Soal dimintai bayaran, ini baru saya tahu dari wartawan. Kemungkinan ada bagian administrasi yang tidak mengetahui hal tersebut. Karena ada dua kategori, dia umum atau ada jaminan. Akan tetapi kita sudah menangani dan mengantisipasi hal ini dengan cepat, karena sekali lagi ini bencana. Ini harus segera ditangani. Instruksi pimpinan juga meminta kita untuk segera menangani,a�? terang Solikin.

Solikin juga menegaskan pentingnya komunikasi, dan koordinasi dari semua pihak. Yakni di lintas sektor, baik itu Dinas Kesehatan, Sosial, Kabupaten/Kota. a�?Itu yang kita harapkan, komunikasi yang lancar, dan tentunya dukungan secara administrasi juga,a�? pungkasnya. (cr-tih/r5)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka