Ketik disini

Headline Sumbawa

Marantok 1001 Deneng Meriahkan Festival Moyo

Bagikan

SUMBAWA –Pemerintah Kecamatan Maronge menggelar Festival Marantok 1001 Deneng, Senin (2/10) lalu. Kegiatan yang merupakan bagian dari Festival Pesona Moyo 2017 menampilkan sejumlah adat istiadat tempo dulu yang disakralkan seperti Marantok, Bagorek, dan Samole Daeng.

Pembukaan Festival Rantok 1001 Deneng ditandai dengan pemukulan rantok (lesung tempat menumbuk padi) oleh Bupati Sumbawa HM Husni Djibril didampingi Staf Ahli Kementerian Pariwisata RI Taufik Rahzen, budayawan Adi Pranajaya, dan aktor senior Slamet Rahardjo.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”87″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Bupati Sumbawa HM Husni Djibril mengaku bangga dengan terpeliharanya budaya turun temurun ini. Festival ini mengingatkan bupati pada masa kecil dan almarhumah ibunya.A� Saat ia kecil, belum ada mesin perontok padi, orang tuanya menggunakan rantokA� untuk menumbuk padi. Selain sebagai alat untuk menumbuk padi, rantok juga untuk mengumpulkan warga ketika ada acara adat guna menyambut kedatangan tamu.

Di bagian lain, bupati menyinggung a�?Adat Samole Daenga�? yang juga digelar masyarakat setempat. Adat ini untuk mengusir hama tikus secara halus dan tidak dilakukan secara kasar seperti sekarang ini. Mengapa diperlakukan halus, karena tikus ini binatang pendendam.

”Prosesi Adat Samole Daeng ini dengan cara meletakkan makanan di pematang ketika padi sudah mulai berisi,” ujar bupati.

Bupati berharap dua warisan budaya yang digelar ini terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Sumbawa. Kehadiran tokoh dan budayawan nasional menyaksikan prosesi adat ini akan menjadi motivasi bagi masyarakat untuk menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Camat Maronge Lukmanuddin dalam laporannya menyampaikan, festival ini mulai dibangkitkan kembali secara besar-besaran sejak setahun lalu. Festival ini diinisiasi oleh kelompok Sanggar Seni Senda Samawa Kecamatan Maronge.

Diterangkan, di Kecamatan Maronge ada tiga kegiatan utama yang disakralkan. Yakni merantok, bagerok dan semole daeng. Dijelaskan, merantok adalah kegiatan menggunakan dua alat tradisional rantok dan deneng untuk mengolah padi menjadi beras. Namun dalam fungsi lebih luas, rantok dan deneng digunakan untuk menyemarakkan suasana pada penyambutan tamu-tamu kehormatan atau tamu penting. Yang tentu dibarengi dengan syair-syair lawas. Alat ini juga digunakan untuk membheri tanda-tanda jika sewaktu-waktu ada gangguan keamanan dan bencana.

Selain itu, pelaksanaan marantok dan nuja atau menumbuk pada zaman dahulu mengandung nilai kebersamaan. Yakni kebersamaan dalam masyarakat antara keluarga atau antartetangga. Sehingga terjadilah peristiwa adat saling tolong menolong dan saling membalas bantuanA� atau basiru.

A�”Maka nilai penti penting dari peristiwa nuja ramai marantok ini yang perlu dilestarikan antara lain sebagai wadah silaturahmi. Juga pengenalan instrumen pengolahn padi menjadi beras tempo dulu kepada generasi saat ini,” kata Lukman.

Kemudian adat bagorek, merupakan peristiwa adat yang dilakukan kelompok tani sebagai ikhtiar dan doa yang dimohonkan pada Yang Maha Kuasa. Tujuannya agar hasil pertanian bagus dan melimpah serta terhindar dari musibah gagal penen. Baik akibat bencana alam maupun pengerusakan oleh hama.A� Wujud lain dari ikhtiar bagorek seperti perbaikan saluran, perbaikan pagar, pembersihan pematang dan sebagainya. Bagorek ini dilaksanakan secara beramai-ramai bersama ketua adat dan tokoh agama.

Terakhir samole daeng, yakni kegiatan adat dalam pengembalian hama tikus menuju habitat aslinya tanpa membasmi. Namun menangkap dan memindahkannya ke tempat yang semestinya.

A�”Kegiatan ini tetap dilakukan setiap tahunnya karena sebagai ajang silaturahmi kita. Kedepannya akan kami kembangkan lagi dan mudah-mudahan juga dapat mengundang wisatawan mancanegara,” terangnya.

Selain tiga adat yang disakralkan tersebut, ada juga kegiatan pendukung lainnya dalam menyemarakan Festival Marantok 1001 Deneng seperti, raboat, ngasak atau nanam ramai, biso tian pade, mata ramai, dan nuja ramai. Adapun festival ini sendiri akan dilaksanakan selama tujuh hari kedepan dengan berbagai rangkaian kegiatan. (run/r4)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka