Ketik disini

Headline Kriminal

Fenomena Main Hakim Sendiri Terhadap Pelaku Kejahatan di NTB : Kejahatan Dibalas Pengadilan Jalanan

Bagikan

Tahun ini sejumlah terduga aksi pencurian tewas diamuk warga di NTB.A� Warga yang geram dengan aksi para penjahat ini demikian ringan tangan memberi balasan. Pengadilan jalananA� seperti menjadi tren yang sejatinya tak dibenarkan. KenapaA� fenomena a�?pengadilan jalanana�? ini semakin marak? Apa yang salah dengan hukum kita?

== == == == == == == ==

Maret lalu, aksi dua terduga jambret dengan inisial SU, 18 tahun asal Lombok Tengah (Loteng) dan SY gagal total. Belum sempat menikmati barang curiannya, SU A�ditangkap polisi. Sementara rekannya nyaris tewas di hakimi A�massa, di Jalan AA Gede Ngurah, Cakranegara, Kota Mataram.

Kedua pelaku menjalankan aksinya sekitar pukul 20.30 Wita di wilayah Gomong Mataram. Namun, aksi A�jambret ini rupanya terlihat anggota Sabhara Polres Mataram yang tengah berpatroli.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Petugas langsung mengejar pelaku. Nahas, saat berusaha kabur motor pelaku A�malah tertabrak taksi yang tengah melintas di perempatan Supermarket MGM, Cakranegara.

Akibat tabrakan itu, keduanya langsung jatuh dari motor. Petugas patroli yang posisinya telah berada di dekat lokasi tabrakan, berhasil mengamankan SU. Sedangkan SY, memilih kabur dengan memasuki gorong-gorong yang ada di Jalan AA Gede Ngurah.

Masyarakat di sekitar lokasi kejadian langsung mendapat informasi bahwa pelaku jambret bersembunyi di dalam gorong-gorong. Mereka berjaga-jaga di setiap lubang yang menjadi tempat keluar gorong-gorong.

SY memang berhasi ditemukan. Namun saat ia dikeluarkan, masyarakat langsung menghujaninya dengan batu. Pukulan dan tendangan dari warga yang berkumpul di lokasi, mengarah ke badan SY. Akibat peristiwa ini, pelaku sempat menjalani perawatan di RS Bhayangkara Polda NTB.

Masih di bulan yang sama, aksi lebih sadis terjadi di Kota Bima. Seorang warga desa Bugis Kecamatan Sape dengan inisial IK, tewas diamuk ratusan warga. Pria 25 tahun itu, diduga sebagai pelaku pencuriaan kendaraan bermotor (Curanmor) A�milik warga Soro Kecamatan Lambu.

Peristiwa itu bermula saat terduga pelaku hendak membawa kabur motor jenis Jupiter MX. Rupanya aksinya dipergoki korban, sehingga langsung mengejar pelaku yang melarikan diri ke Desa Rato Kecamtan Lambu. Di pertengahan jalan, IK dihadang ratusan warga dan dihakimi A�menggunakan parang, kayu, danA� batu di persawahan Desa Rato.

Nasib nahas IK terulang di akhir September lalu. Mahasiswa dengan inisial AG tewas di tangan warga, di Desa Bajo, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima. Pemuda berusia 22 tahun ini dicuragai warga sebagai pelaku curanmor.

Teriakan maling dari warga kepada AG, menyulut aksi warga lainnya. Terduga pelaku yang berusaha kabur, berhasil tertangkap tangan dan dikeroyok menggunakan batu dan kayu. AG akhirnya tewas dengan luka parah di bagian perut dan kepala.

Serupa dengan AG, salah seorang warga asal Desa Bangket Parak, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah dengan inisial SA, tewas. Pemuda 23 tahun ini dihajar massa di Jalan Swadaya, Lingkungan Kekalik Jaya, Kecamatan Sekarbela.

Ia terkepung setelah diduga melakukan pencurian kendaraan bermotor. Amukan warga membuatnya menderita luka di kepala dan leher. Nyawa SA tak tertolong meski sempat mendapat perawatan di RSUP NTB.

Menurut kriminolog dari Universitas Mataram Dr Muhammad Natsir, fenomena aksi massa terhadap terduga pelaku akibat kesadaran masyarakat yang masih rendah. Masyarakat belum memahami adanya proses hukum formal terhadap pelaku tindak pidana.

Rendahnya kesadaran tersebut, juga didorong rasa trauma atas penegakan hukum yang dianggap belum memenuhi rasa keadilan warga. Banyak masyarakat yang menilai hukuman terhadap pelaku tindak pidana curas, curat, dan curanmor (3C) masih sangat rendah.

a�?Banyak putusan yang rendah. Tidak memberi efek jera,a�? kata Natsir, kemarin (8/10).

Menurut Natsir, masyarakat sudah sangat benci dengan kejahatan yang berulang-ulang. Aksi pengeroyokan yang dilakukan, disebut Natsir sebagai upaya perlawanan. Sebagai negara hukum, hal tersebut tentu tidak bisa dibenarkan.

Karena itu, lanjut dia, masyarakat perlu diberikan pencerahan. Mengedukasi warga untuk tidak main hakim sendiri. Meski mereka menangkap tangan pelaku pencurian.

a�?Pelaku kejahatan masih punya hak hukum. Seringkali hak-hak ini diabaikan,a�? ujarnya.

Ditambahkannya, keluarga, lingkungan, dan pemerintah diharapkan bisa menjalankan perannya dengan baik. Mengedukasi masyarakat untuk mengedepankan proses hukum.

a�?Yang terakhir baru peran aparat penegak hukum untuk penindakan,a�? kata dia.

Terpisah, Kabidhumas Polda NTB AKBP Tri Budi Pangastuti berharap masyarakat mempercayakan penanganan terduga pelaku tindak pidana kepada kepolisian. Ini untuk memproses hukum lebih lanjut, sehingga terduga pelaku bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya.

a�?Tidak boleh main hakim sendiri. Tidak menutup kemungkinan malah warga yang bertindak seperti itu, akan kita kenakan pidana juga,a�? pungkas dia.(dit/r2)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka