Ketik disini

Headline Selong

Pak Bupati, Guru di Gili Beleq Butuh Perahu!

Bagikan

SELONG-Para guru yang mengajar diA� Gili Beleq, Lombok TimurA� harus berjuangA� agar proses belajar mengajar di pulau tersebut berjalan lancar. Salah satu persoalan utama yang dihadapi para guru adalah soalA� transportasi menuju lokasi sekolah. Untuk itu para guru maupun siswa berharap perhatian pemerintah.

“Dulu memang ada bantuan dua sampan dengan satu kantir tapi itu rusak akibat gelombang dan memang karena banyak muatan. Makanya perahu itu kami jadikan satu dengan dua kantir, hanya saja mesinnya yang tidak ada,” ungkap Kepala Sekolah SD 5 Pemongkong Ismail kepada Lombok Post.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”85″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Sampan sekolah yang hancur membuat para guru kesulitan akses transportasi menuju sekolah. Mereka pun hanya bisa mengharapkan belas kasihan warga setempat. Khususnya dalam kondisi air yang tidak tenang dan bergelombang, para guru dan kepala sekolah hanya mengharapkan bantuan warga setempat.

“Ada ketua komite sekaligus Pak Kadus yang banyak bantu kami. Ya kami juga kadang support dari sekolah untuk harga minyak,” akunya.

Sayangnya, Pak Kadus memang tidak selamanya siap antar jemput para guru. Mengingat, ia juga memiliki kesibukan menjalankan usahanya di Lesehan Terapung Sadewa dan kadang mengantar tamu untuk menuju sejumlah destinasi wisata.

“Tapi Alhamdulillah, kalau cuaca buruk pak Kadus siap berjanji mengantar jemput para guru. Beliau yang memang selama ini banyak membantu kami,” ungkap Ismail.

Total ada 15 guru yang ada di Gili Beleq. Sebagian besar memang berasal dari daratan Pulau Lombok. Sehingga, jika memang harus mengandalkan bantuan kadus, kapasitas perahu yang dimiliknya tidak cukup untuk mengangkut seluruh guru secara keseluruhan.

Sehingga, kepala sekolah berharap ada bantuan mesin perahu dari pemerintah untuk menjalankan perahu sekolah yang telah diperbaiki.

A�”Kami berharap ada bantuan mesin tempel yang bisa maju mundur. Masalah PK-nya berapa saja terserah. Kalau sampan sudahA� sudah kami perbaiki,” ungkapnya.

Senada dengan itu para guru yang ada di sekolah tersebut juga mengaku berharap ada bantuan transportasi. Lantaran, jika harus membayar, mereka mangaku tak mampu terutama bagi para guru honorer.

“Saya datang dari Labuhan Haji. Setiap hari kami dapat honor Rp 13 ribu, kadang ya habis untuk ongkos saja. Tapi mau bagaimana lagi,” ungkap Susi salah seorang guru yang ada di Gili Beleq.

Baginya yang terpenting adalah bagaimana mengamalkan ilmunya dan mengisi kekosongan waktu dengan kegiatan positif seperti pengajar. Alumni IAIN Mataram yakin akan selalu ada rezeki jika keputusannya mengabdi mendidik anak-anak yang ada di Gili Beleq tulus dan ikhlas.

A�”Ya dijalani saja mas, bagaimana adanya. Kalau memang ada perhatian ya Alhamdulillah,” pasrahnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lotim HL Suandi mengaku pihak Dikbud sebelumnya telah memberikan bantuan dua perahu bagi siswa dan guru di Gili Beleq. Hanya saja perahu tersebut memang dilaporkan telah rusak diduga akibat pemanfaatannya yang kurang tepat. “Kadang kalau lagi nganggur dipakai untuk pergi melaut menangkap ikan oleh nelayan setempat, ini yang kadang dipergunakan tidak pada tempatnya,” ungkapnya. (ton/r2)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka