Ketik disini

Headline Metropolis

Radiasi Hambur Bikin Petugas a�?Diungsikana�?

Bagikan

Sinar ini masuk di bawah pengawasan Badan Pengawasan Tenaga Nuklir (Bapeten). Jika mengabaikan SOP, pasien dan petugas bisa kena risiko berbahaya. Ancaman mandul, gagal ginjal, terbakar, hingga kanker mengintai mereka.

———————–

PERTENGAHAN tahun lalu, seorang pasien asal LombokA� Timur mendatangi bagian Radiologi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram. Ia mengeluh perutnya sakit. Dengan membawa surat pengantar dari dokter, dia diterawang bagian tubuhnya dengan sinar X.

a�?Saya tanya ke pasiennya, pernah makan sesuatu sampai sakit perut. Tapi dia bilang gak pernah,a�? tutur Koordinator Radiografer RSUD Kota Mataram Andrew Haryo J.

Tetapi baru saja menyinai pasien dengan sinar X, Andrew terkejut. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahkan ia mengaku harus mengulang sampai tiga kali, memastikan objek yang ditangkap di dalam monitor hasil rontgen dengan sinar-X itu benar adanya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

a�?Saya sampai harus mengulang tiga kali (karena tidak percaya apa yang dilihat),a�? imbuhnya.

Melihat tak ada perubahan gambar Andrew, akhirnya ia yakin jika gambar yang didapat dari monitor rontgen itu benar. Awalnya ia tak sempat berfikir macam-macam melihat objek serupa gumpalan putih memenuhi sudut perut pasien.

a�?Sampai akhirnya saya penasaran lalu tanya ke pasien,a�? ujarnya.

Barulah ia paham benda itu rupanya a�?benda asinga��. Keluarga pasien akhirnya bercerita tetang sesuatu yang mistis terjadi pada pasien. Andrew hanya bisa mendengar. Dari segi ilmu kedokteran jelas ini bertentangan secara logika. Tetapi mau tidak mau Andrew harus percaya. Realitanya hasil rontgen menunjukan ada sekitar segenggam biji steples dalam perut pasien itu.

a�?Karena hasil sinar X itu tidak bisa menembus besi, jadi objeknya terlihat jelas saat di rontgen,a�? tuturnya.

Itu bukan kali pertama Andrew melihat benda-benda aneh di dalam tubuh pasien. Bahkan jauh sebelum itu ia juga melihat ada potongan besi di pasang di badan pasien. Dengan bantuan sinar X, benda itu akhinya bisa terpantau.

a�?Setelah tertanam lama, akhirnya bisa ditemukan di mana letaknya, kata orangnya sih itu susuk, tapi entahlah,a�? ujarnya.

Banyak lagi manfaat sinar X dalam mendeteksi benda di dalam tubuh seseorang. Selain mendeteksi benda asing di dalam tubuh seseorang sinar X sangat membantu dalam melihat kondisi organ tubuh pasien.

Tetapi selain membawa manfaat, sinar X, jika tidak dioperasikan sesuai dengan prosedur standar sangat berbahaya bagi manusia. Ada dua efek yang harus diwaspadai yakni efek nonstokastik dan efek stokastik.

Efek nonstokastik terjadi karena ada keparahan meningkat dengan pertambahan dosis akibat sinar X. Timbulnya pun dalam waktu yang relatif singkat.

a�?Contoh seperti katarak, kerusakan sistem pencernaan, sistem darah, saraf pusat, luka radiasi, sterilitas,a�? tutur Andrew mengacu pada buku standar oprasional prosedur pengoperasian sinar X.

Sedangkan efek stokastik adalah efek terjadinya bertambah dengan pertambahan dosis paparan sinar X. Timbul dalam waktu yang lama. Antara 5-10 tahun. Memang tidak ada dosis ambang. Contoh efek ini antara lain leukemia, kanker, cacat turunan.

a�?Biasanya yang terkena adalah pegawai, karena dosis paparan terus diterima dari radiasi hambur sinar X,a�? jelasnya.

Namun efek-efek ini hanya terjadi pada rumah sakit yang tidak patuh dengan standar oprasional prosedur pengoperasian ruang Radiologi. Kasus-kasus di atas tidak pernah terjadi di RSUD Kota Mataram. Karena aturan yang telah ditetapkan oleh Bapeten dipatuhi dengan baik.

Misalnya tahapan penanganan rontgen pasien. Semua mengacu pada prosedur yang telah ditetapkan. a�?Tidak boleh ada yang dilompati, karena itu dapat membahayakan orang lain,a�? jelasnya.

Mulai dari pasien harus mendaftar di petugas registrasi. Kemudian setelah dilakukan pemanggilan oleh petugas radiografer. Di tahapan ini, pasien harus diidentifikasi lagi apa keluhannya.

a�?Kalau sudah oke, baru kemudian difoto (di sinari sinar X) sesuai dengan permintaan pengantar,a�? terangnya.

Tanpa surat pengantar dari dokter, pasien tidak akan pernah ditangani. Hal ini bagian dari meminimalisir resiko dari penggunaan sinar X. Para pasien harus memasuki ruangan yang telah memenuhi standar kemanan dari radiasi sinar X. ukuran ruangan harus mengacu pada alat yang digunakan (lihat tabel) untuk keamanan pasien.

a�?Standar ruangan sinar X minimal ketebalan tembok bata yakni 5 cm,a�? jelasnya.

Jika kurang dari itu maka tembok ruangan rontgen harus diberi plat pengaman dari timbalA� atau timah dengan ketebalan minimal 0,25 cm. Jika mau melengkapi ruangan dengan kaca untuk memantau pasien, maka kaca itu juga harus berbahan khusus.

a�?Kaca khusus dari timah, karena sinar itu tidak bisa dibelokan. Tetapi ia bergerak lurus, jadi harus ada bahan khusus yang bisa menahan efek radiasinya,a�? jelasnya.

Ketinggian ruangan juga minimal di atas kepala manusia. Jika dirata-ratakan, maka ketinggian ruangan rontgen di atas 2,5 meter. Jika memenuhi semua persyaratan ini barulah ruangan rontgen yang khas dengan radiasi sinar X, dikatakan aman untuk keluarga pendamping yang menunggu di luar ruangan dan lingkungan sekitar.

a�?RSUD Kota Mataram rutin melakukan kalibrasi alat dan keamanan radiasi,a�? ujar Andrew.

Kalibrasi dilakukan dalam satu tahun sekali. Hal ini untuk memastikan alat benar-benar safety bagi petugas dan pasien. Sebenarnya lanjut Andrew paparan sinar X telah dibuat pancaran sinar dosis serendah-rendahnya.

a�?Kalau dibandingkan, lebih berbahaya radioterapi dengan radiologi,a�? ungkapnya.

Tetapi, dampak buruk memang bisa terjadi jika ada kebocoran tabung. Begitu juga jika alat itu tidak pernah dikalibrasi, sehingga berpotensi tembakan cahaya sinar X melebihi takaran dosis seharusnya.

a�?Itu yang dapat melukai pasien,a�? ujarnya.

Tidak hanya bagi pasien, radiasi sinar X juga dapat mengancam kesehatan petugas radiologi. Pada dasarnya, sinar X memiliki radiasi hambur yang mengenai para petugas. Sesuai dengan standar Bapeten nilai batas dosis radiasi untuk petugas yakni rata-rata 20 mSv (milisievert) pertahun. Sehingga dosis yang terakumulasi dalam 5 tahun tidak boleh lebih dari 100 mSv.

a�?Jadi setiap tahun petugas juga dikontrol paparan radiasi yang ia terima, setiap tiga tahun sekali harus dikirim ke Surabaya untuk mengetahui dosis paparannya,a�? jelasnya.

Jika dosis radiasi yang diterima selama mengawal pasien, maka sejumlah ancaman dampak non stokastik dapat mendera petugas.

a�?Setiap hari, kita melayani rata-rata 80 pasien untuk di rontgen, kalau dalam sebulan tentu tinggal dikalikan saja pasien yang dilayani. Setiap kali ada pasien yang dirontgen petugas di dalam ikut kena radiasi hambur hanya ukurannya sangat kecil,a�? jelasnya.

Karena itu, jika sudah mendekati ambang batas radiasi petugas, maka harus diroling. Petugas yang biasa ikut membantu di dalam harus digeser ke bagian admin.

Sekedar diketahui lanjut Andrew, petugas juga dalam setiap kerjanya dilindungi oleh pelindung yang disebut apron. Mereka juga dianjurkan untuk lebih banyak mengkonsumsi makanan berprotein.

a�?Seperti kacang hijau, telur, susu itu semua akan membantu mempercepat regenerasi sel setelah terpapar radiasi hambur,a�? terangnya.

Sementara itu Kepala Radiologi RSUD Kota Mataram Dr Fransiska Sp. Rad merincikan tingkatan radiasi dari pemeriksaan organ dalam menggunakan sinar-X, CT Scan, dan MRI.

Sinar X yakni pemberian dosis radiasi ionisasi dalam jumlah kecil pada tubuh untuk menghasilkan citra atau gambar tubuh bagian dalam. Sedangkan CT Scan adalah perkembangan dari Sinar X.

a�?Tetapi mampu menampilkan gambar tiga dimensi,a�? kata Fransiska.

Sementara MRI merupakan suatu alat diagnostik terbaru untuk memeriksa dan mendeteksi tubuh dengan menggunakan medan magnet. Dikatakan Fransiska, alat ini memang jauh lebih aman, dibanding penanganan dengan Sinar X atau CT Scan.

a�?Tidak ada radiasi sama sekali. Hanya menggunakan gelombang magnet,a�? terangnya.

Ia memberi catatan khusus untuk gangguan dampak sinar X yang terjadi. Seperti resiko mandul atau ibu hamil yang akhirnya janinnya tidak bisa berkembang maksimal karena terpapar radiasi. Hal itu menurutnya bisa saja terjadi.

Tetapi di tempat yang tidak mengindahkan pentingnya safety. Di mana alatnya tidak pernah dikalibrasi. a�?Sedangkan di RSUD Kota Mataram, alatnya selalu dikalibrasi, demi keamanan pasien,a�? tegasnya.

Selain itu proses rontgen 3 sampai 4 kali dampaknya tidak terlalu berbahaya. Kecuali jika seorang pasien atau ibu hamil harus dirontegen sampai berpuluh-puluh kali dalam sehari. Barulah harus diwaspadai.

a�?Tetapi saya rasa tidak ada penanganan yang harus melakukan rontgen berkali-kali dalam sehari,a�? ujarnya.

Yang perlu diperhatikan juga tambah Fransiska yakni rontgen atau CT Scan dengan kontras. Teknik rotgen kontras atau CT Scan konras mengharuskan pasien di beri obat ke dalam pembuluh darah.

a�?Hal seperti ini harus dilihat riwayat alergi pasien,a�? terangnya.

Selain itu pasien juga harus menanda tangani surat persetujuan yang isinya siap dengan tindakan medik serta kemungkinan, timbulnya akibat resiko setelah di beri tidakan kontras.

a�?Para prinsipnya kita sangat mengedepankan keamanan dan keselamatan pasien dan petugas,a�? tandasnya. (zad/r3)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka