Ketik disini

Headline Metropolis

Birahi-Birahi Senggigi

Bagikan

Senggigi memiliki segudang potensi. Dari dulu hingga kini. Tempat ini tak pernah mati. Siapa pun yang datang ke sini, pasti ingin kembali. Sayangnya, konsep wisata baharinya perlahan mulai mati. Berganti dengan wisata birahi. Kondisi ini membuat wisatawan mancanegara pada menepi. Meninggalkan Senggigi yang justru diramaikan oleh tuan rumah sendiri.

***

SENGGIGI, Lombok Barat. Inilah ikon pertama dan utama pariwisata NTB. Gilang gemilang dengan keindahan pantainya. Wisatawan yang pernah datang pasti dipenuhi kenangan tentangnya. Apalagi kenangan pada saat matahari tenggelam. Keindahan menyeruak. Sunset surgawi. Membuat siapapun yang pernah memandangnya, tak akan dirundung lupa.

Keindahannya pun mengundang banyak investor menanam bibit usaha. Berlomba-lomba. Hotel-hotel dibangun. Villa dengan bunga-bunga SPA. Restoran, bar, kafe, sampai tempat karaoke. Dari yang modal seadanya, sampai yang besar-besaran. Tertutup dan terbuka. Semuanya tumbuh. Menjamur. Bak lalat di musim tembakau.

Akibatnya, keindahan Senggigi tak lagi sama dengan yang dulu. Panorama alam memucat. Sinar sunset memudar. Diganti lampu klap-klip di setiap kafe dan bar. Wisatawan perlahan kabur. Mencari yang masih alami. Dalam perhatian penuh pemerintah. Senggigi tetap hidup. Tapi dengan warna barunya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Jadilah Senggigi memiliki dua warna. Hitam dan putih. Perbedaan tersebut sangat terlihat. Kontras. Antara waktu pagi dan malam. Di pagi hari Senggigi terlelap. Malam hari ia terbangun. Bak kelelawar, penyuka buah yang sedang matang di pohon-pohon.

Senggigi saat ini telah berubah menjadi tempat yang asyik untuk dikunjungi malam hari. Bukan menikmati pantai. Tapi hiburan malam yang membangkitkan hasrat laki-laki. Salah satunya karaoke.

Tempat Karaoke

Menelusuri perbedaan Senggigi yang punya warna baru, Lombok Post mengamati beberapa tempat karaoke. Dari pengamatan awal, memang tidak sulit untuk melihat papan namanya di malam hari. Di sepanjang jalan, dari Batu Layar ke Senggigi, terdapat sekian banyak bar dan karaoke. Lengkap dengan minuman beralkohol dan pemandu nyanyi yang aduhai.

Kelasnya pun berbeda-beda. Mulai dari yang rendah, sampai yang tingginya tak ketulungan.

Jika memasuki salah satu tempat karaoke, rayuan pulau kelapa terpasang di setiap sudut ruangan. Mulai dari pintu masuk, hall, sampai room, atau ruangan khusus bagi yang ingin eksklusif.

Di setiap ruangan, tak ada lampu terang. Semuanya redup. Tak seterang sambutan pengelola yang disuguhkan bagi para tamu yang datang.

Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke sebuah tempat karaoke, GM (General Manager) dan a�?Maminyaa�? akan mengulurkan tangan. Kenalan. Sebagai pintu masuk menawarkan kebahagiaan yang mereka miliki.

a�?Pesan apa mas? Nge-room ya,a�? kata maminya sambil menunjuk dua pemandu nyanyi dengan pakaian seksi.

Ketika menolak, sang mami akan meminta para pemandu nyanyi memperkenalkan diri. Lalu botol-botol minuman pun tersaji. Begitu seterusnya, sampai tamu yang datang tak kuat menahan godaan.

Harga yang dipasang pun berbeda-beda. Tergantung kelas tempat karaokenya. Jika tinggi, otomatis semuanya ikut terbang. Apalagi jika nge-room, kocek harus siap tergantung.

Untuk satu jam, tamu harus membayar ruangan dan pemandu. Nilainya pun fantastis. Bisa menembus jutaan rupiah. Itu belum termasuk uang tips untuk pemandu nyanyi.

Apapun yang dipesan pemandu, akan masuk ke dalam nota tagihan tamu. Semakin menarik seorang pemandu, biasanya semakin banyak yang ia mau. Ini artinya, jumlah uang yang harus dikeluarkan tamu juga akan semakin besar.

Berdasarkan keterangan salah satu mami di tempat karoke M (Inisial, Red), ada dua jenis pemandu yang disiapkan. Pertama, ada yang tinggal di asrama yang disediakan Karaoke, dan kedua ada yang freelance. Para pemandu ini kebanyakan dari luar daerah. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan paling dominan Jawa Barat.

Begitulah. Keindahan Senggigi yang tersembunyi, dalam warna langit yang hitam. Dan kini banyak dinikmati. Hal tersebut sangat berbeda dengan keindahan sunset yang tak pernah minta bayar. Keindahannya alami. Yang perlahan dilupakan.

RM (Inisial, Red) seorang penyaji minuman di salah satu tempat karaoke di Senggigi mengatakan, tempat tersebut lebih banyak dikunjungi oleh warga lokal. Bukan wisatawan asing.

a�?Kalau wisatawan asing, biasanya hanya minum bir saja, terus pulang. Mereka mungkin tidak suka. Karena tempatnya tertutup,a�? terangnya.

Ramai pengunjung pun tidak menentu. Tapi jumlahnya masih terbilang aman bagi sebuah usaha. a�?Itulah sebabnya, kenapa sampai malam ini kami masih buka,a�? kata RM yang malam itu pro aktif membantu Mami menawarkan minuman dan pemandu nyanyi, agar kami tertarik masuk ruangan.

Lombok Post kemudian beranjak ke tempat hiburan lain. Masih menawarkan tempat karaoke dan para pemandu lagu yang seksinya tidak ketulungan.

Baru sampai di depan lobi, sambutan dari Mami langsung membuat jantung Koran ini berdegup. a�?Silakan mas dipilih,a�? katanya sambil membawa Lombok Post ke sebuah ruangan.

Ini ruangan tidak biasa. Bentuknya seperti akuarium. Dilapisi kaca bening di bagian depan. Hanya tidak ada air dan ikannya.

Tapi, itu semua diganti dengan barang yang lebih menarik. Yakni perempuan dengan busana minim. Dari balik kaca, setiap tamu tinggal memilih, mana wanita yang dia suka. Mau yang bodynya langsing, atau tinggi besar, semua ada.

a�?Abang sukanya yang mana,a�? kata si Mami dengan logat Jawa Barat.

Setelah memilih a�?temana�? sesuai selera, tamu kemudian diantar ke sebuah ruangan. Gelap. Sangat gelap. Tapi di dalamnya sudah lengkap. Ada televisi, meja, sofa, pelantang suara, bahkan kulkas pun ada.

Satu lampu kemudian dinyalakan. Layar monitor televisi juga mulai memancarkan sinarnya.

Setelah semuanya siap, si Mami keluar. Sesaat kemudian, datanglah a�?temana�? yang dipilih dalam akuarium. Benar. Pakaiannya sungguh minim. Kain yang melekat hanya di bagian badan sampai paha bagian atas. Meski ruangan tidak terang, namun wanita ini terlihat sungguh menarik. Maklum, kulitnya putih dan mulus.

Di dalam room, bagi tamu baru tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya boleh memegang tangan dan mengusap paha si perempuan. Tidak lebih.

Tapi bagi tamu lama, yang sudah langganan, semua bisa dilakukan. Bahkan sampai berhubungan badan layaknya suami istri di dalam ruangan remang-remang itu. Tapi tentu, nanti bayarannya juga harus lebih.

a�?Untuk servis, bayarannya ke si cewek. Tapi untuk fasilitas seperti ruangan, minuman dan makanan, dibayar di kasir sesuai Bill (nota pembayaran),a�? celetuk cewek yang di tempat karaoke yang akrab disapa Arin itu.

Arin mengaku dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Dia sudah enam bulan bekerja sebagai pemandu lagu di tempat ini. a�?Di sini saya kontrak. Kalau kontrak habis, saya balik,a�? bebernya.

Sebelum di Senggigi, Arin mengaku sudah melanglang buana menjadi pemandu lagu. a�?Saya pernah di Jakarta, Batam, dan terakhir sebelum ke sini di Bali,a�? tuturnya.

Wisata Birahi Bertameng SPA

Setelah ke tempat karaoke, Lombok Post pun menelusuri beberapa tempat SPA di Senggigi. Maklum, ini adalah usaha yang lagi tren dan diyakini lebih menguntungkan dari tempat karaoke. Bahkan diskotik sekalipun.

Pertama Lombok Post ke tempat yang kelasnya menengah ke bawah. Lokasinya di sekitaran Batu Layar. Di sini, tempat SPA-nya biasa-biasa. Setiap ruangan SPA hanya dipisahkan tripleks dan kelambu. Dipannya pun seadanya. Kasurnya tipis. Hanya ada satu bantal. Tidak lebih.

Di sini, pengunjung bisa memilih wanita yang akan memijitnya. Tapi karena tempatnya sederhana, wanitanya pun sederhana. Atau bisa disebut seadanya. Umurnya rata-rata di atas 30 tahun. Hanya saja, untuk pupur dan lipstiknya, tetap menor.

a�?Silakan. Mau ambil yang mana,a�? kata resepsionis yang duduk standby di di pintu masuk SPA ini.

Dari daftar paket yang ditawarkan, paling mahal Rp 150 ribu. Termurah Rp 80 ribu. Itu untuk satu jam. a�?Ini hanya untuk SPA,a�? katanya.

Sementara jika tamu ingin pelayanan plus (berhubungan badan), harus menambah bayaran. Tarifnya? Sesuai nego. Rata-rata Rp 150 ribu sampai 200 ribu.

Malam berikutnya, yang disisir giliran tempat SPA menengah. Namanya P (inisial, Red). Lokasinya masih di kawasan Batu Layar. Di sini, tempatnya mulai agak bagus. Ada kamar khusus dilengkapi Springbed.

Di sini, pelayanannya dari yang biasa-biasa hingga a�?luar biasaa�?. Tergantung paket. Kalau hanya SPA atau pijit biasa, cukup hanya Rp 180 ribu per jam. Tapi kalau mau yang a�?luar biasaa�?, tarifnya membengkak menjadi Rp 500 ribu.

a�?Itu sudah harga biasa. Kalau mau silakan, gak juga tidak apa-apa,a�? kata PR, Terapis di SPA a�?Pa�?.

PR tahu jadwal tamu ramai dan sepi. Biasanya kata dia,A� pada Agustus dan Januari tamu ramai. a�?Dalam satu tahun, dua bulan itu dah paling ramai,a�? ucap perempuan asal Lombok Utara ini.

Berikutnya, Lombok Post ke tempat SPA paling populer di Senggigi. Konon, inilah tempat SPA bagi pengunjung kelas menengah ke atas. Namanya GL dan L (inisial, Red). Terapisnya semua berasal dari luar daerah. Cantik-cantik.

Di sini tarifnya untuk sekali SPA Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Itu belum termasuk servis tambahan. a�?Kalau mau yang plus, tambah Rp 500 lagi,a�? kata Ria, salah satu terapis di GL.

Dari tempat-tempat SPA itu, nyaris pelanggannya orang lokal (NTB) semua. a�?Kalau bule hampir tidak ada,a�? ungkapnya.

Ia juga mengaku jauh lebih senang mendapatkan tamu lokal. Terutama tamu dari Lombok Tengah, Kota Mataram, dan Sumbawa. a�?Ngasi tipsnya banyak,a�? kata Ria sambil tersenyum.

Fakta memang tak bisa bohong. Senggigi sudah berubah. Dari putih menjadi hitam. Pengunjungnya pun tak lagi wisatawan asing. Tapi warga lokal yang mendadak menjadi turis. Menikmati sisi lain Senggigi. Bukan keindahan pantai atau pesona alamnya yang aduhai. Tapi, wisata birahi yang kini lagi marak di Senggigi.

Ini Akibat Kurang Ditata

A�Akhmad Saufi dari Pusat Kajian Pariwisata Universitas Mataram menilai, perubahan Senggigi tidak bisa dihindari. Ini semua karena pemerintah lalai. Tidak mempersiapkan dan menata Senggigi dengan baik. Sehingga, wisata pantainya mati. Berganti dengan wisata hiburan malam.

Sayangnya, perubahan Senggigi ini ternyata menimbulkan dampak negatif. Karena yang datang tak lagi wisatawan mancanegara. Tapi orang-orang lokal NTB. Sehingga, efek yang didapat pun tak sesuai harapan. Perputaran uang menjadi itu-itu saja.

Kalau ini dibiarkan, hotel-hotel yang ada di kawasan Senggigi akan gulung tikar. Begitupun dengan pasar seni dan wisata kulinernya.

a�?Pariwisata Senggigi dulu dibangun tanpa ada perencanaan ke depan. Dulu yang bangun Senggigi adalah orang luar. Untuk itu, masyarakat tidakA� tahu industri yang akan dijalankan,a�? ungkap Saufi.

Lihat saja jarang ada masyarakat yang bisa bahasa Inggris. Mereka juga tidak memiliki skill memasak atau kuliner. Jadi masyarakat terpaksa membuka usaha cafA�, SPA, dan tempat karaoke yang menjamur sekarang ini.

Pembangunannya pun pun tidak terarah. Lihat saja parkir di bahu jalan. Begitu juga trotoar dijadikan tempat jualan.

Pariwisata Senggigi beda dengan daerah pariwisata lain yang memiliki perencanaan. Ia menyebutkan KEK Mandalika sudah jelas akan menjadi kawasan ekonomi khusus. Begitu juga dengan pariwisata Tete Batu dan sebagainya yang sudah ada perencanaan.

Kini, kata Saufi, maraknya SPA, kafe dan tempat hiburan lainnyaA� menjadi topeng Senggigi sebagai daerah pariwisata. Padahal sesungguhnya, fenomena ini menandakan Senggigi mulai kehabisan pesona dari keindahan pantainya. Transformasi bentuk wisata. Dari wisata keindahan alam, ke wisata hiburan malam. Tapi bukan wisata, karena yang lebih banyak datang adalah warga lokal NTB. (jay/cr-tih/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka