Ketik disini

Metropolis

Nikmat Alam Digerus Kenikmatan Malam

Bagikan

SENGGIGI adalah ikon pariwisata NTB. Selain memiliki pantai nan cantik, kawasan Senggigi juga didukung fasilitas lengkap. Mulai dari hotel berbintang hingga pusat hiburan malam.

Sayangnya, kini wisata birahi di Senggigi lebih menonjol dibandingkan wisata baharinya. Pelan namun pasti, wisata keindahan alam pun berganti menjadi wisata gemerlap malam. Kalau tidak percaya, lihat saja Senggigi di pagi hari. Pasti lengang. Restoran dan kafe di sepanjang jalan ditutup.

Di sini, pagi, kehidupan rasanya belum dimulai. Orang-orang di balik hotel dan homestay masih enggan membuka mata. Tanda bahwa semalam mereka memang telah berpesata. Sepi. Hanya beberapa orang turis berjalan kaki di trotoar.

Beberapa saat kemudian, para pedagang kaki lima mulai membuka lapaknya. Menyuguhkan nasi bungkus, pisang goreng dan beraneka makanan tradisional. Sementara tukang parkir sibuk menarik tarif di muka gang Pantai Senggigi.A� Di pantai, beberapa turis lokal tengah berendam, menikmati indahnya pantai bersama anak dan keluarganya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Seperti itulah wajah Senggigi pada pagi harinya. Jauh dari kesan glamor dan hura-hura. Berbanding terbalik dengan suasana pada malam hari, dimana Senggigi lebih hidup dengan gemerlap lampu kelap kelip dari pusat hiburan malam. Bak sarang penyamun dengan wanita penghiburnya.

Keberadaan klub dan hiburan malam di kawasan Senggigi menurut Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB H Lalu Mohammad Faozal tidak bisa dihindari. Sebab, itu menjadi satu kesatuan dalam sebuah destinasi. Hanya saja, tentu perlu dilakukan pengaturan agar lebih tertib.

Tapi untuk mengatur persoalan tersebut harus ada koordinasi dengan Pemkab Lombok Barat selaku otoritas yang menerbitkan izin. Sebab, semua izin jasa pariwisata ada di kabupaten. Tinggal mereka menjaga kawasan tersebut dengan memerhatikan berbagai aspek sosial dan lingkungan.

a�?Tidak hanya sekedar memberikan izin SPA, tata ruang pun harus banyak yang dikoreksi,a�? ujarnya.

Faozal mengatakan, dibandingkan destinasi wisata lain di NTB, Senggigi merupakan daerah yang paling siap. Baik dari sisi amenitas, fasilitas sarana dan prasarana, hotel berbintang, tempat hiburan, hingga aksesibilitas sudah sangat memadai.

a�?Yang dibutuhkan saat ini adalah keseriusan dan konsistensi untuk menjaga Senggigi sebagai destinasi pionir,a�? katanya.

Dengan dibangunnya vila-vila di perbukitan Senggigi, lingkungan menjadi kurang terjaga. Sebab, potensi banjirnya kini sangat besar. Hal itu diperparah dengan kurangnya hutan penyangga air dari atas, kemudian saluran drainase juga masih kurang.

a�?Ini adalah tugas yang harus segera kita bicarakan dengan Lobar, karena perizinan ada di dia,a�? tegasnya.

Menurutnya, Pemkab Lobar harus membuka ruang kepada Pemprov NTB untuk membahas bagaimana konsep menjaga tata ruang di kawasan Senggigi. Duduk bersama menurutnya sangat penting untuk menyelamatkan marwah Senggigi sebagai ikon pariwisata NTB.

a�?Kita ingin Senggigi berkembang dengan karakternya sendiri,a�? ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Lobar Ispan Junaidi membantah jika pihaknya dikatakan tidak memerhatikan Senggigi. Menurutnya, tidak adil jika semua permasalahan Senggigi dibebankan ke dinas yang dipimpinnya.

a�?Menyelesaikan masalah Senggigi harus bersama-sama. Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum dan masyarakat secara umum juga harus terlibat,a�? tegasnya.

Untuk menghidupkan lagi wisata Senggigi, Ispan sudah merancang gerakan bersama. a�?Tunggu saja. sebentar lagi kami akan launching,a�? tandasnya.

Peningkatan PAD Sektor Hiburan Kecil

Sementara itu, Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Lobar mencatat, dalam kurun waktu dua tahun terakhir 2016-2017, jumlah wajib pajak di Lobar meningkat. Salah satu penyumbang terbesarnya adalah hotel dan restoran. Dan itu, banyak berada di kawasan wisata Senggigi.

Sayangnya, peningkatan pendapatan dari sektor hiburan tidak siginifikan. a�?Hanya bertambah lima wajib pajak, dengan total 50 wajib pajak di tahun 2017. Lebih besar dibanding tahun 2016 sebanyak 45 wajib pajak,a�? kata Sekretaris Dispenda Lobar Darsapardi, kemarin (10/10).

Darsapardi tidak menampik jika pajak hiburan paling lamban pertumbuhannya. a�?Yang meningkat hanya ada di SPA, dari 21 di tahun 2016 menjadi 25 wajib pajak di tahun 2017,a�? paparnya.

Dikatakan, sektor wisata di Senggigi harus ditopang sektor hiburan. Hiburan ini pun bermacam-macam, mulai dari karaoke, pagelaran musik, diskotek, bilyard, pusat kebugaran, SPA, pameran, bioskop, permainan ketangkasan, dan balap motor.

a�?Tetapi dari kesemua kategori itu, hanya SPA yang mengalami pertumbuhan,a�? ucapnya. (ili/cr-tih/ewi/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka