Ketik disini

Headline Metropolis

a�?Pengemisa�? Air Makin Banyak

Bagikan

MATARAM-Tidak hanya di bantaran kali Unus dekat Jembatan Sindu, Cakra Barat. Rupanya warga yang kesulitan air bersih juga ada di Kebon Lelang, Ampenan. Di sana, sejumlah warga harus mengumpulkan percikan-percikan air dari pipa PDAM yang bocor.

Nelly, salah satu warga yang ditemui Lombok Post memanfaatkan percikan air dari pipa PDAM. Ia mengaku terpaksa harus menampung air di sana. Alasan airnya lebih bersih.

a�?Ada sih PDAM di rumah, tapi airnya kotor,a�? kata Nelly.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Air PDAM yang mengalir ke rumahnya, ia manfaatkan untuk mandi dan mencuci saja. Sedangkan untuk keperluan minum dan memasak, Nelly dan sejumlah warga lain memilih mengumpulkan percikan air di bawah jembatan.

a�?Apalagi di daerah Kampung Bugis, airnya makin keruh,a�? terangnya.

Nelly sendiri tinggal di Kebon Lelang, Ampenan. Ia dan warga lainnya tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi air keruh itu. Sehingga, walau lokasi tempat dekat dengan TPS dan banyak tumpukan sampah, Nelly mengaku tak ambil pusing.

a�?Kita hanya butuh air bersih. Ya terpaksa. Mau bagaimana lagi,a�? cetusnya.

Sementara itu, di lokasi sebelumnya, yakni bantaran kali Unus dekat Jembatan Sindu, Dinas Sosial Provinsi NTB justru terlihat lebih dulu turun membantu warga yang kesulitan air bersih. Respons cepat Dinsos NTB ini harusnya membuat Pemkot Mataram malu.

a�?Ya saya rasa ini juga wilayah perhatian kami juga,a�? kata Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB Ahsanul Khalik, sembari tersenyum.

Mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Mataram ini langsung memberikan bantuan logistik dan keperluan rumah tangga pendukung pada warga di sana. Khalik terlihat prihatin dengan kondisi warga di sana.

a�?Soal air ini, nanti kami akan komunikasikan dengan Pemkot Mataram. Saat ini kami hanya bisa beri bantuan yang sifatnya sementara. Seperti selimut, tikar, logistik, dan beberapa keperluan rumah tangga lain,a�? ujarnya.

Diakui, mau tidak mau warga yang tinggal di bantaran kali itu, harus segera dievakuasi. Mengingat letak mereka sangat rentan dengan potensi bencana. Seperti tersapu air sungai Unus jika sedang besar.

a�?Bisa di pindah ke rumah susun. Dari pada dibiarkan di sini, nanti jadi masalah juga,a�? tegasnya.

Jika mereka mau pindah ke rumah susun, kondisi keluarga itu tentu akan terjamin lebih baik. Begitu juga bagi beberapa orang tua yang tinggal di sana. Harus segera di pindahkan ke panti jompo. Agar kondisi kesehatan dan jaminan hidupnya lebih baik.

a�?Mau tidak mau, harus mau. Mereka tinggal di sini juga saya rasa salah. Karena ini bantaran sungai,a�? cetusnya.

Karena itu Khalik mendorong agar keluarga ini segera ditangani oleh Pemkot Mataram. Bukan malah dibiarkan, karena lambat laun pasti pemerintah daerah. Cepat atau lambat harus memperhatikan kondisi keluarga ini.

a�?Terutama akses air bersih ini, saya rasa itu juga sangat penting,a�? tandasnya.

Salah satu warga yang tinggal di tempat itu Darmatasiah, mengaku tidak mendapat bantuan pemasangan air bersih, karena ia disebut menempati lahan yang tidak boleh dibangun rumah.

a�?Harus punya sertifikat rumah sendiri juga (baru diberikan bantuan saluran air bersih),a�? tuturnya.

Namun dua hal itu sulit ia penuhi. Karena itu, ia dan suaminya mencari cara lain, memutar otak menampung rimbesan air PDAM yang mengalir di bawah jembatan. Untuk memenuhi keperluan air bersih sehari-hari.

a�?Sebenarnya kemarin ada dua yang bocor, tetapi sudah diperbaiki oleh petugasnya. Jadi sekarang kami bergantung di satu tempat saja,a�? tuturnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Mataram telah mengumumkan adanya program bantuan sambungan air bersih bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Total keluarga yang disasar sebanyak 1.362 KK di Kota Mataram.

a�?Mereka akan menerima sambungan air bersih gratis dari pemerintah kota,a�? kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram H Mahmuddin Tura.

Warga yang berhak menerima, salah satu kualifikasinya harus memiliki rumah sendiri. Bantuan ini tersebar di enam kecamatan di Kota Mataram. Dengan anggaran program ini sebesar Rp 2,2 miliar. Bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

a�?Jumlah bantuan ini meningkat di banding tahun sebelumnya, hanya sebanyak 308 sambungan,a�? terang dia.

Dengan anggaran yang disiapkan Rp 508 juta, bantuan ini diharapkan dapat mewujudkan target program 100-0-100 pada tahun 2019.

Sekadar diketahui, program ini di luar dari program yang dicanangkan PDAM Giri Menang yang juga menangani persoalan air bersih di Kota Mataram. a�?Tetapi pemasangannya tetap bekerja sama dengan PDAM Giri Menang. Sasarannya masyarakat berpenghasilan rendah,a�? tandasnya.

Sementara itu, Lombok Post sudah berupaya untuk mengonfirmasi sejumlah warga yang mengais air bersih dari percikan-percikan air ini. Dengan mendatangi langsung Kantor PDAM Giri Menang. Begitu juga dengan menghubungi Dirut PDAM Giri Menang via telepon selulernya.

Sayang hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari pihak PDAM. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys