Ketik disini

Feature Headline

Warung Aduh Enaka��e, Satu-Satunya Warung Makan yang Buka 8.468 Jam

Bagikan

Choirul dan istrinya Farichah membuka usaha dengan modal awal Rp 126 ribu. Sulit dipercaya. Tapi itu nyata. Bagaimana mereka mengembangkan usahanya, sampai kini sudah buka cabang di mana-mana? Berikut Laporannya.

***

Tahun 1998. Itu menjadi tahun keramat bagi Choirul dan istrinya Farichah. Itu tahun yang sangat bersejarah. Dari tahun itulah, kehidupannya berubah total.

Di tahun itu, Choirul Anwar mangambil air wudhu untuk salat istiharah. Ia meminta petunjuk pada yang maha kuasa. Bertanya pada sang pemberi hidup. Benarkah arah sebuah langkah yang sebentar lagi ingin ditujunya. Usaha.

Begitu ia terbangun, semua telah terjawab. Keyakinan datang bersama kekuatan untuk bekerja sekeras-kerasnya. Karena itu, di saat krisis melanda, pagi hari, tanggal 26 Agustus 1998, Choirul membuka usaha warung makannya di Lembar, Lobar.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Warung itu berukuran 3 x 4 meter. Dindingnya pagar. Etalase seadanya. Tampungannya hanya enam orang. Menunya soto dan es cendol. Itu saja. Tidak lebih. Karena modalnya Rp 126 ribu.

Menyiasati modal seadanya, Choirul dan istrinya Farichah membeli semua serba sedikit. Itu agar warungnya keliatan berisi.

Selain itu, modal Rp 126 ribu punya penambah. Yakni empat ekor ayam. a�?126 ribu rupiah dan empat ekor ayam,a�? jelas Ibu Farichah.

Nama warungnya Aduh Enaka��e. Nama itu dianggap seksi. bisa menjadi bahan promosi. Cepat diingat oleh semua orang.

Sejak pertama kali buka, warung makan Aduh Enaka��e sudah memutuskan untuk buka selama 24 jam. Bergantian. Ibu Farichah memasak, Choirul menyajikan dan mencuci piring.

Saat itu mereka belum punya karyawan. Tapi langsung buka sepanjang hari. Pagi, siang, dan malam.

Jika dilihat, terasa sangat berat. Ibu Farichah mengatakan sampai ingin mengeluarkan air mata ketika pembeli begitu banyak. Dan ia hanya sendiri. Berdua dengan dapur. Bertiga dengan suaminya, Choirul. a�?Memang sejak membangun usaha ini, kami sudah putuskan untuk buka selama 8.468 jam dalam setahun. Lalu cuti selama sepuluh hari. Setelah itu masuk lagi,a�? terang Choirul.

Dan begitu seterusnya. Enam bulan pertama, perkembangan usahanya mulai terasa. Memasuki satu tahun pertama, menu makanan bertambah. Soto tidak lagi sendiri. Tapi kini, sudah ada Nasi Pecel yang tersaji.

Kursi untuk enam orang tamu juga ikut bertambah. Omset dan modal, jangan ditanya. Semua berubah.

Tahun kedua datang Nasi Rawon. Tahun selanjutnya, Nasi Ayam. Dan begitu seterusnya.

Unik. Menu di warung makan Choirul dan Farichah ini bertambah satu kali dalam satu tahun. Hal itu dilakukan untuk menjajal dengan baik satu menu yang tersaji.

a�?Sebelum satu menu yang kita sajikan pas di lidah, kita tidak akan menambahnya. Jadi butuh satu tahun,a�? kata Choirul.

Saat ini, dengan memiliki tiga cabang, Choirul dan Farichah masih ingin menambah cabang lagi. Baginya, kesukseksan datang karena niat berbagi. Membuka lapangan kerja seluas-luasnya.

Saat ini sudah 16 orang yang bisa bekerja di warung Aduh Enaka��e. Kalau bukan untuk berbagi, bagi Choirul, dia sudah bisa makan sendiri dengan satu warung makan. a�?Saya mau buka cabang lagi. Bila perlu 50 lagi. Kalau begitu, sudah ada 200 lebih yang bisa dapat pekerjaan,a�? kata Choirul.

Kerja keras dan usaha mereka puluhan tahun lalu, membuat Choirul membuka arti warung makan a�?Aduh Enaka��ea��. Katanya, Aduh berarti sakit. Enaka��e berarti senang.

Jika merujuk pada pepatah, maka akan jadi a�?bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudiana��. a�?Itulah hidup,a�? kata Choirul sambil memandang istrinya. (Fatih Kudus Jaelani, Mataram/r5)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka