Ketik disini

Headline Kriminal

Imigrasi Mataram Tahan Tiga WNA

Bagikan

MATARAM-Tiga Warga Negara Asing (WNA) dengan inisial AJG, 53 tahun; IRU, 34 tahun; dan PJW, 71 tahun ditahan petugas. Mereka ditangkap di dua lokasi berbeda di wilayah Lombok Barat (Lobar) dan Lombok Utara (Lotara), Kamis (12/10).

Penangkapan ini terkait izin tinggal. AJG dan IRU warga negara Spanyol yang mengantongi visa on arrival (VOA), malah memanfaatkan untuk mencari keuntungan melalui penyewaan bungalow di Gili Air, Lotara.

Hal serupa dilakukan PJW yang memegang visa izin lansia. Tapi pria asal Australia ini malah menyewakan kamar di sejumlah rumah miliknya di Lobar.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Dugaan pelanggaran yang dilakukan ketiganya terungkap berkat informasi dari masyarakat. Kabar itu ditindaklanjuti Kantor Imigrasi Mataram dengan menurunkan tim kecil guna melakukan penyelidikan.

Setelah mengantongi bukti yang cukup, bersama dengan anggota Subdit IV Ditreskrimsus Polda NTB dan Kanwil Kemenkumham, petugas melakukan penangkapan. AJG dan IRU ditangkap di bungalow miliknya di Gili Air, sementara PJW ditangkap di perumahan Green Valley, Lobar.

Kasi Wasdakim Kantor Imigrasi Mataram Ramdhani mengatakan, pelanggaran yang dilakukan ketiganya diduga penyalahgunaan izin tinggal. Untuk VOA milik AJG dan IRU merupakan visa izin wisata yang hanya berlaku satu bulan.

“Dugaan terkait penyalahgunaan izin, karena itu kami amankan,” kata Ramdhani, kemarin (13/10).

AJG diketahui sudah lima tahun beraktivitas di Lombok. Dia memiliki sebuah bungalow di Gili Air yang kamarnya disewakan kepada wisatawan. Harga satu kamarnya bisa mencapai sekitar Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta saat low season.

Sementara IRU, baru menetap di Lombok selama dua bulan terakhir. Dia bekerja di bungalow milik AJG sebagai marketing.

Untuk AJG, kata Ramdhani, yang bersangkutan diketahui menyewakan kamar di sejumlah rumahnya di wilayah Lobar. Per satu kamar disewakan Rp 300 ribu untuk WNA yang datang ke Lombok. Dalam bisnisnya itu, AJG memasarkannya melalui internet

Disinggung mengenai jumlah rumah milik AJG, Ramdhani mengaku jika tim masih melacaknya. “Kita akan trace (lacak, Red) asetnya dia, berapa dia punya rumah atau hunian di Lombok,” ujar dia.

Ditambahkannya, AJG sudah 20 tahun berada di Indonesia. Dia sering bolak balik Bali Lombok untuk kepentingan bisnisnya. Dua tahun terakhir ini, AJG memutuskan untuk menetap di Lombok dan tinggal di Green Valley, Lobar.

Menurut Ramdhani, apa yang dilakukan ketiga WNA ini sangat merugikan negara dan daerah. Terutama dari sektor pendapatan daerah. Pajak penginapan yang seharusnya masuk ke kas daerah, malah masuk ke kantong pribadi WNA.

“Jelas merugikan negara. Tindakan dari kita antara deportasi atau pro justicia dengan membawanya ke ranah hukum,” tegas dia.

Sementara itu, Sayid Zulkifli dari Kanwil Kemenkumham NTB berharap masyarakat bisa terus pro aktif memberi informasi kepada Kantor Imigrasi Mataram. Apabila menemukan WNA yang diduga melanggar aturan keimigrasian, bisa melapor kepada petugas imigrasi.

“Harapan kita masyarakat membantu pengawasan orang asing. Kalau ada dugaan pelanggaran, bisa melapor ke Imigrasi,” ujar dia.

Sementara itu, Kasi Informasi dan Komunikasi Kantor Imigrasi Mataram Azhan Miraza mengatakan, hingga September tahun ini, pihaknya telah melakukan penindakan terhadap 61 WNA. 60 orang diantaranya dideportasi, sementara satu orang lainnya diproses hukum.

“Ada 60 orang yang menadapat tindakan administrasi keimigrasian,” ujar dia.

Terkait hukuman untuk tiga WNA yang diamankan, Imigrasi Mataram akan menjeratnya dengan Pasal 122 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Imigrasi. Jika terbukti melanggar, mereka bisa dipenjara selama lima tahun.

“Saat ini kami tahan di ruang detensi Imigrasi Mataram,” pungkasnya.(dit/r2)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka