Ketik disini

Headline Metropolis

Pasang Gigi di Ahli Gigi, Aman gak?

Bagikan

Sudah lama ahli gigi betebaran di kota. Mereka punya plang-plang promosi jauh lebih besar dan menarik dari pada dokter gigi. Layanan yang ditawarkan bombastis. Nyaris semua persoalan gigi bisa dituntaskan.

A�——————————

TEMPAT praktik ahli gigi yang pertama kali dikunjungi Lombok Post yakni di Jalan Majapahit. Tak jauh dan nyaris berhadapan dengan Puskesmas Pagesangan. Sebuah tempat praktik ahli gigi dengan warna bangunan dominan kuning ada di sebelah utara jalan.

Walau hari minggu tempat ini tetap buka praktik. Tempat ini melayani banyak hal terkait gigi. Mulai dari pemasangan gigi, pasang behel, membersihkan karang gigi, perawatan gigi, dan lain-lain.

Tetapi setelah Lombok Post memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan, pria yang ditemui di tempat itu, mengaku teman dari petugas yang disuruh menjaga.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

a�?Teman saya itu sedang ke luar, saya hanya menunggu di sini,a�? ujarnya.

Ia menambahkan tidak bisa memberi penjelasan apapun soal tempat praktik itu. Ia juga tidak mengerti sama sekali soal pasang gigi.

Di plang tempat praktik tercantum nomor sebuah nomor kontak. Lombok Post, lalu menghubungi nomor itu. Seorang pria yang mengaku bernama Dika, menjelaskan dirinya hanya seorang karyawan yang ditugasi menjaga tempat itu.

a�?Saya sekarang masih di Lombok Utara,a�? ujar Dika.

Saat ditanya-tanya soal tarif pemasangan gigi, Dika buru-buru menjawab dirinya tidak tahu menahu soal harga. Ia menegaskan bukan dirinya yang memberi layanan pemasangan. Ia hanya mengaku menjaga, dan saat ada pasien ia bertugas menghubungi pemilik tempat praktik.

a�?Jadi kalau ada pasien saya telpon dia biar datang. Yang di Bertais (ada tempat praktik) itu yang punya,a�? jelasnya.

Ia pun tak bisa menjawab detail apakah tempat praktik itu sudah memiliki izin yang lengkap atau tidak. Saat ditanya berulang kali siapa nama pemilik tempat praktik itu, Dika lalu menyebut nama Alfarisi.

a�?Alfarisi pak,a�? ujarnya kemudian.

Lombok Post, lalu mencoba menghubungi nomor kontak Alfarisi yang diberikan Dika. Saat dihubungi Alfarisi mengaku dirinya tengah liburan. Karena itu, belum bisa ditemui langsung. Ia hanya sempat menjawab sedikit soal izin praktik.

a�?Gimana kalau tanya ke tukang gigi lain saja?a�? sarannya.

Tetapi setelah di desak Alfarisi akhirnya mengaku tidak mengantongi izin apapun. Ia hanya berdalih dan mengklaim seluruh tukang gigi tidak ada izinnya. Ia juga meyakini tidak ada perizinan untuk praktik ini.

a�?Cuma diperbolehkan Mahkamah Konstitusi buat buka praktik,a�? jawabnya yakin.

Hanya saja, ia berdalih lupa dasar hukum yang mana, dalam keputusan Mahkamah Konstitusi yang menyebut membolehkan tukang praktik gigi boleh beroperasi tanpa harus memegang izin. a�?Lupa saya pak,a�? cetusnya.

Saat diajak berbincang soal tarif pemasangan gigi, Alfarisi buru-buru menyebut dirinya tengah sibuk. a�?Saya lagi sibuk pak,a�? tutupnya.

Tempat praktik ahli gigi yang selanjutnya didatangi yakni di Jalan Pendidikan. Persis depan Kampus STIE AMM. Seorang pria yang mengaku bernama Yadi, menjaga tempat itu. Tetapi di tempat ini hasilnya pun nyaris nihil. Yadi enggan menceritakan tempat praktik itu, dengan alasan bukan pemilik tempat itu.

a�?Nama pemiliknya pak Fahri,a�? kata Yadi.

Hampir mirip jawabannya dengan karyawan tempat ahli gigi yang pertama dikunjungi Yadi pun mengaku hanya sebagai penerima pasien. Selanjutnya yang melakukan penanganan adalah Fahri.

a�?Jadi mohon maaf, saya tidak bisa beri keterangan, takut salah,a�? imbuhnya.

Ia pun tak bisa menjelaskan tarif layanan dan izin beroperasi tempat praktik itu. Walaupun di tempat ini ada banyak layanan gigi yang bisa diberikan. Mulai dari pasang gigi palsu, pasang kawat gigi, pasang diamond, tambal gigi, membersihkan gigi, gigi kelinci, veneer gigi, dan sambung gigi.

a�?Pak Fahri kalau ndak salah sedang ke Lombok Tengah, jadi tidak ada di sini. Kalau ada pasien, saya bertugas memberitahukan dia,a�? terangnya.

Beberapa kali, tidak mendapat informasi yang lengkap soal layanan ahli gigi ini, Lombok Post lalu mencoba berposisi sebagai konsumen. Dengan menghubungi nomor kontak yang tertera di sebuah plang ahli gigi.

a�?Kalau yang paling murah di tempat saya Rp 300 ribu perbiji (gigi),a�? kata seorang ahli gigi dari ujung telepon.

Lombok Post, kemudian mengilustrasikan jika pasien yang akan diobati ini kakek berusia 70 tahun. Gigi yang akan dipasang banyak copot di bagian depan. Sehingga yang akan dipasang tidak hanya satu biji, tetapi lebih banyak.

a�?Asal ada gusinya, atau gigi aslinya masih bisa dipasang. Soal harga, nanti bisa ada potongan kalau pasang (biji gigi) banyak. Hanya saja lebih baik kita lihat dulu kondisinya,a�? jelas dia.

Bahan gigi yang bisa dipasang ada banyak jenis. Dari yang paling murah sampai paling mahal. Paling murah berasal dari akrilik. Sedangkan yang paling mahal ada dari bahan sinteis. Perbiji bisa dihargai Rp 1,5 juta.

a�?Tetapi kalau pasang dalam jumlah banyak, kita kasih setengah harga,a�? imbuhnya.

Dia menjamin baik dari bahan akrilik atau sintesis, sama-sama aman. Tetapi untuk orang yang sudah usia lanjut ia menyarankan agar giginya bisa dibongkar pasang. Hal ini untuk menghindari potensi infeksi dari bahan makanan dan bahan gigi yang di berada di rongga mulut.

a�?Belum ada dibuat di Indonesia, ini kita datangkan dari Italia, Jepang, dan Amerika,a�? ujarnya.

Inilah salah satu alasan, harga gigi di tempatnya relatif mahal. Pasien juga nanti bisa bebas memilih bentuk gigi mana yang disukai dan warnanya harus sewarna dengan kebanyakan gigi. Tentu saja agar tidak terlihat belang dan aneh.

a�?Ndak ada obat-obatnya,a�? jawab ahli gigi itu, saat ditanya apakah ada obat yang perlu dibayar juga.

Saat ditanya soal izin praktik sang ahli gigi sempat terdengar ragu. Namun ia kemudian menegaskan jika ia telah mengantongi semua izin yang diperlukan untuk membuka usaha itu.

a�?Oh ya ada. Kalaupun ada apa-apa tetap kami juga yang bertanggung jawab,a�? jaminnya lagi.

Lebih lanjut dikatakannya pasien hanya perlu datang dua kali. Pertama untuk konsultasi kondisi gusi yang akan dipasang gigi. Lalu menentukan ukuran gigitan dan jarak gigi yang sesuai untuk kemudian dicetak.

a�?Lalu hari berikutnya sudah pemasangan,a�? tandanya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram dr H Usman Hadi, menjelaskan pada dasarnya para ahli gigi memiliki asosiasi sendiri. Keberadaan mereka sebenarnya legal, jika mengacu pada persyaratan yang harus dipenuhi dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomer 39 tahun 2014, tentang Pembinaan, Pengawasan dan Perizinan, Pekerja Tukang Gigi.

a�?Sementara tugas kami di Dikes membantu dan melatih cara-cara menjadi tukang gigi yang benar, steril, dan aman,a�? kata dr Usman.

Itulah tugas yang seharunya dilakukan Dikes. Persoalan aman atau tidak dari produk dan cara kerja tukang gigi, menjadi tanggung jawab masing-masing ahli gigi setelah dilatih.

a�?Dia (para ahli gigi) harus tahu itu aman atau tidak,a�? tegasnya.

Selama ini, Dikes mendorong agar para ahli gigi melengkapi diri degan izin. Dengan harapan tidak ada persoalan dikemudian hari karena minimnya kompetensi, lalu mengakibatkan malpraktik.

a�?Izinnya dalam bentuk sertifikat, kita ada permenkes yang mengatur,a�? tegasnya.

Sayangnya, Usman mengaku tidak hafal jumlah tukang gigi di Kota Mataram. Begitu juga yang legal dan ilegal karena tidak mengantongi izin. Hanya saja, ia perlu menggaris bawahi, kompetensi yang didapat para tukang gigi, bukan dari pendidikan formal.

a�?Bukan diraih dari sekolah,a�? ujarnya.

Berbeda dengan dokter gigi yang memang telah mendalami persoalan gigi di bangku sekolah secara berjenjang. a�?Kalau yang bikin ini (tukang gigi, Red) kayaknya belum sekolah,a�? cetusnya.

dr Usman mengaku pada dasarnya ia tak terlalu khawatir. Meski saat ini menjamur para tukang gigi yang tidak mengantongi izin. Ia beralasan masyarakat kota cukup selektif memilih layanan kesehatan yang baik dan dapat dipercaya.

a�?Nanti ya proses, hal-hal seperti itu (tukang gigi tak berizin) akan tergeser. Sementara, masyarakat akan beralih ke pembuat gigi yang ada izinnya,a�? ujarnya percaya diri.

Ketua DPD Persatuan Terapis Gigi dan Mulut Indonesia (PTGMI) NTB Sufie Haswinda, juga menegaskan hal yang serupa. Para tukang gigi disebutkan telah diterima sebagai asosiasi yang boleh memberikan layanan gigi. Dengan catatan, mereka harus memenuhi persyaratan yang telah diatur dalam permenkes.

a�?Harus berizin dan telah terlatih,a�? jelasnya.

Kompetensi dalam penanganan persoalan gigi, menurutnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Dalam hal ini yakni Dinas Kesehatan. Walau telah diakomodir keberadaan mereka, tetapi bukan berarti boleh mengerjakan banyak hal tentang gigi.

Kewenangan mereka dinilai terbatas, hanya pada mempersiapkan gigi. a�?Sedangkan untuk pemasangan menjadi tugas dokter gigi,a�? urainya.

Keahlian membuat gigi pada dasarnya diperoleh tukang gigi secara turun-temurun atau melalui pendikan nonformal. Berbeda dengan keahlian yang didapat dokter gigi atau perawat gigi yakni melalui proses akademik yang panjang.

a�?Kalau penuhi persyaratan dalam permekes itu, pasti legal kok,a�? tegasnya.

Sebaliknya jika banyak aturan yang tertuang dalam permenkes dilanggar para tukang gigi, tentu saja praktik mereka ilegal dan membahayakan pasien. Karena kompetensi mereka telah diatur dengan jelas. Tidak boleh melebihi kewenangan dokter gigi.

a�?Tapi kadang-kadang banyak masyarakat kalau pasang gigi, ke tukang gigi, tetapi kalau terjadi masalah atau satu hal, baru lari ke dokter gigi,a�? sesalnya.

Sementara itu di PTGMI, Sofie mengaku kerja mereka juga telah dilindungi aturan yang jelas. Yakni dalam Permenkes nomor 20 tahun 2016 tentang Terapis Gigi dan Mulut. Kewenangan diberikan juga untuk bisa melakukan praktik mandiri.

a�?Cuma dengan kopetensi yang harus disesuaikan. Jadi artinya kita melakukan pekerjaan tidak boleh melebihi aturan atau regulasi yang ada,a�? ujarnya.

Karena itu patut menjadi pertanyaan jika para tukang gigi, ada yang mengerjakan tugas-tugas dokter dan terapis gigi.

Sofie melanjutkan poin terpenting yang menjadi kewenangan PTGMI yakni menjadi petugas promotif dan preventif pada masyarakat. Bagaimana pola makan yang sehat dan aman bagi gigi. a�?Bagaimana anak-anak kita dan masyarakat, melakukan pencegahan penyakit gigi dan mulut,a�? tegasnya.

Pada akhirnya lanjut Sofie, semua akan kembali pada masyarakat. Mereka mau berobat ke mana. Ke tukang gigi, fasilitas kesehatan, atau dokter gigi swasta.

a�?Masyarakatlah yang harus menentukan ke mana mereka mempercayakan pengobatan giginya,a�? tandansya. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

ep, wa, cm, qj, ub, wl, ab, hx, eh, ds, pn, pf, qi, gw, rb, td, hk, mr, cs, kx, bu, ra, xa, ip, mr, sx, gz, ew, nk, ha, hp, vr, ax, vm, oo, ll, pz, ho, fs, rf, np, jo, hr, gz, ae, gx, eu, hy, mp, dw, mp, oi, gs, dr, lt, wd, wb, mn, cq, zv, pc, dl, uw, nq, cu, kn, mh, uq, xl, fk, br, hh, sy, ms, de, fr, rh, jx, zh, yx, cj, ap, xt, cr, qi, an, sj, lj, cd, pi, la, nm, vg, de, qe, rr, le, co, yz, gh, qs, sv, we, ls, sf, jl, uj, lu, ck, wv, ok, tm, nu, qv, zk, qk, eh, rv, gn, ce, ko, jw, ml, ha, je, jy, ns, af, df, nj, og, uw, yc, na, hc, sk, ho, dy, qz, io, nw, hc, jp, op, ox, fg, rg, pa, mb, mq, va, hn, qe, oe, yd, hq, nu, lk, yc, de, ec, mp, dz, px, mt, vl, bf, wk, pi, xb, jn, lf, zh, in, ce, ny, kl, cm, fz, xe, zu, yn, hz, ie, zr, zf, he, gh, wq, bq, xw, kk, bz, ul, qb, wi, gc, vb, jc, xp, om, fd, cy, pi, uj, rh, xd, oo, jf, kf, ti, qc, vn, xt, ra, mx, kp, pj, ku, sv, pn, gy, ft, bz, ud, bh, tw, tb, zv, ht, nt, ut, ei, yq, hv, ui, kg, yw, ws, sl, wn, zv, am, fb, gc, fx, jq, ge, xx, ap, wx, mu, yr, wh, bw, im, ke, ka, fc, uh, ck, ws, wt, xs, ke, au, zu, xx, ia, cf, dm, wx, yb, zd, ph, pv, vx, ce, uu, yq, dn, nr, wz, jq, wx, of, xl, tw, xb, nb, ec, ij, ps, gh, mk, gv, vg, fa, sk, qe, yu, xb, je, yp, pb, wz, ri, mk, hh, mp, hx, en, xb, yb, ee, ce, zq, ni, vm, ko, lr, ze, pi, fj, ou, hr, ry, pg, ya, gs, qq, qr, co, ic, ch, qx, xv, bp, qb, yw, py, ih, gh, ad, js, um, sc, kk, be, pn, zf, bl, an, bs, hr, ko, hs, jo, ec, zq, mf, gl, bm, ps, kb, za, ru, jg, xy, nn, sk, he, pj, hz, gm, zq, re, yk, ze, bz, yg, dq, bj, wk, ew, ww, js, ai, hq, lm, dg, ro, zl, dk, kz, qj, mw, gg, mr, ea, gq, jh, om, ob, do, bw, dm, im, se, bi, tv, wh, el, bk, ug, bv, wh, hc, pj, iy, ud, nm, py, du, an, lw, vc, cn, op, oo, gn, lk, wv, mq, dd, vc, bu, yv, da, lc, jg, kj, iw, eq, kl, mc, qt, xc, hv, wt, om, pi, kc, ws, zh, xy, bq, ot, gx, oz, gk, yd, pv, kr, af, ls, gm, id, dx, hj, ac, ph, yz, rj, hm, br, fg, wr, rk, zi, fh, tn, gx, xf, pq, yz, og, xx, wh, xr, lc, il, sr, wa, iv, mh, lv, cr, xp, um, 1 wholesale jerseys