Ketik disini

Headline Kriminal

Predator Seksual Semakin Mengancam !!! Ajari Anak Mendeteksi Penjahat Seksual

Bagikan

EL (inisial, Red), kini mengalami A�trauma berkepanjangan. Kasus yang menimpa pelajar asal Lombok Tengah (Loteng) ini menambah panjang daftar A�tidak kekerasan seksual yang terjadi terhadap anak-anak.A� Gadis lugu ini menjadi korban bujuk rayu dua predator seksual yang memangsanya di Mataram.

***

a�?Saya pertama kenal (korban) di jalan. Pas papasan, saya ajak kenalan,a�? kata Apang membuka cerita awal perkenalannya dengan korban.

Setelah berkenalan sekitar Mei lalu, Apang menunjukkan ketertarikan terhadap gadis yang masih duduk di bangku SMA ini. Dua minggu kemudian, masih di bulan yang sama, Apang menyusun niat jahat dengan rekannya Bejo.

Saat itu, Apang menjemput EL. Korban sendiri tinggal indekos di rumah guru sekolahnya, di Loteng. Untuk mengelabui EL, Apang beralasan mengajaknya nonton konser di Mataram. Karena tidak menyimpan kecurigaan, ajakan tersebut diiyakan korban.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Bukan menonton konser musik, Apang justru membawa EL ke salah satu hotel di Kota Mataram. Di sini, dia melancarkan perbuatan bejatnya bersama Bejo, yang telah lebih dulu menunggu di hotel. Aksi bejat kedua pelaku dilakukan secara bergantian.

a�?Saya bilang kalau mau menikahi dia pas di hotel,a�? ungkap Apang.

Setelah melakukan tindak asusila kepada EL, kedua pelaku ini meninggalkan korban dalam keadaan tak berdaya di dalam kamar hotel. Apang mengakui telah merencanakan perbuatan tersebut. Ini terbukti dari kamar hotel yang telah mereka pesan sebelumnya.

a�?Yang pesan itu Bejo, saya kemudian menjemput EL dari kosnya,a�? ucap dia.

Di hari yang sama, korban sempat dicari keluarganya karena tidak pulang. EL akhirnya berhasil ditemukan salah seorang warga. a�?Warga itu kemudian menghubungi Bhabinkamtibmas, dari sana informasi menyebar hingga ke keluarga korban,a�? kata Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Mataram Ipda Eka Dian Pertiwi.

Dian mengatakan, setelah kejadian itu, korban tidak berani pulang ke rumah. Apalagi setelah kejadian yang menimpanya. Korban mengalami trauma karena mendapat tindak asusila dari kedua pelaku.

Polisi tidak tinggal diam setelah peristiwa yang dialami korban. Mereka melakukan penyelidikan untuk memburu pelaku. Di awal penyelidikan, petugas sempat kesulitan mengungkap siapa pelakunya.

Kata Dian, korban tidak begitu mengenali pelaku. EL hanya mengetahui nama panggilan pelaku, yang ternyata itu bukan nama asli mereka.

a�?Baru kenal dua minggu. Jadi korban memang tidak paham betul. Padahal pelaku ternyata masih tinggal satu dusun dengan tempat kos korban,a�? kata dia.

Peristiwa yang menimpa EL, tentu menambah rentetan jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak. Hingga Oktober tahun ini, data yang dihimpun Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB telah terjadi 66 kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Dari jumlah tersebut, ada 64 anak perempuan dan 22 anak laki-laki menjadi korbannya. Koordinator Divisi Hukum dan Advokasi LPA NTB Joko Jumadi mengatakan, modus yang menimpa EL, kerap ditemui timnya. Berkenalan di media sosial (Medsos), ketemu, kemudian berhubungan tanpa mengetahui latar belakang pelakunya.

a�?Kasus ini berulang. Banyak sekali sebenarnya. Kita juga sedikit kesulitan untuk mengungkap, karena korban tidak mengetahui identitas pelaku yang sebenarnya,a�? kata Joko.

Menurut Joko, dalam kekerasan seksual terhadap anak, perlu melihat dari hulu ke hilir. Melihat permasalahan secara menyeluruh. a�?Kasus ini kan hilirnya saja, hulunya itu ada di pendidikan dan keluarga,a�? tambahnya.

Karena itu, penanganannya tidak cukup melalui tindakan dari kepolisian dan juga LPA. Perlu melibatkan SKPD yang ada. Bila perlu, ada penambahan sistem di dunia pendidikan mengenai kehidupan anak.

Menurut Joko, selama ini sekolah tidak pernah menyentuh pembelajaran yang terkait dengan kehidupan anak. Padahal, jika keluarga abai terhadap pengasuhan anak, sekolah bisa menutupinya dengan pembelajaran tersebut.

a�?Ini yang tidak pernah disentuh oleh sekolah. Di sekolah tidak ada, peran orang tua juga tidak ada, terus siapa yang mengingatkan anak,a�? kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) NTB Hartina menganggap orang tua sebagai benteng utama, pencegahan kekerasan seksual terhadap anak. Mereka harus melakukan perlindungan kepada anak. Memberi perhatian yang lebih untuk anak.

a�?Orang tua harus rutin memperhatikan dan mengikuti ke mana pergerakan anak,a�? ujar Hartina.

Menurut Hartina, tindakan tersebut bukan berarti mengekang kebebasan anak. Anak boleh bebas beraktivitas, namun harus tetap dalam pengawasan ketat orang tua.

a�?Kalau anak pergi mengaji, pergi les, antar sampai tempatnya dan jemput lagi. Jangan melepas anak begitu saja,a�? saran dia.

Ditambahkannya, senada dengan Joko Jumadi, Hartina berharap guru bisa mengajarkan kepada anak mengenai ancaman kekerasan seksual. a�?Jadi di sekolah tidak saja diajarkan mata pelajaran umum, harus ada juga mengenai ancaman-ancaman kejahatan seksual,a�? katanya.

Disinggung mengenai aktifnya anak di media sosial, menurut wanita berkacamata ini, perlu dilakukan batasan untuk penggunaan telepon genggam. Apalagi banyak kasus yang terjadi berawal dari perkenalan di medsos dan berujung pada kejahatan seksual terhadap anak.

a�?Berikan handphone jadul, yang bukan android. Tetap bisa telepon dan sms (pesan singkat). Ini juga sejalan dengan imbauan dari Gubernur,a�? pungkas Hartina.(wahidi akbar sirinawa/r2)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka