Ketik disini

Metropolis

GM LIA Tunggu Usulan Pemprov Terkait Perubahan Nama Bandara

Bagikan

PRAYA-PT Angkasa Pura I (AP) di Praya Lombok Tengah, siap mengikuti petunjuk Pemerintah Provinsi atas rencana perubahan nama Lombok International Airport (LIA) menjadi Bandara Internasional Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid. Yang penting, usulannya disampaikan secara tertulis.

Dengan begitu, otoritas bandara bisa menyikapinya secara formal dan yuridis. a�?Selama itu untuk kebaikan kita semua. Kenapa tidak,a�? kata General Manager (GM) PT AP I LIA I Gusti Ngurah Ardita pada Lombok Post, kemarin (1/11).

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” post_type=”portfolio” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Terlebih, kata Ardita, sosok Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid adalah tokoh luar biasa. Bahkan ia mengatakan tuan guru kharismatik itu patut menyandang pahlawan nasional.

a�?Jasanya dalam bidang syiar agama kedaerahan dan kebangsaan, tidak perlu diragukan lagi. Sehingga, otoritas bandara tidak perlu mempertimbangkan perubahan nama bandara,a�? ungkapnya.

Yang penting, lanjut Ardita, perubahannya melalui prosedur resmi. Maksudnya, provinsi diminta bersurat. Bila perlu, menyuguhkan dokumen akademis. Setelah itu, dilakukan diskusi dan uji publik. Karena, sampai saat ini, otoritas bandara baru mendengar kabar dari media masa saja.

a�?Kami tunggu itu,a�? kata tekan pria asal Pulau Bali tersebut.

Orang nomor satu di PT AP LIA tersebut mengabadikan nama tokoh dan pahlawan nasional, menjadi keharusan untuk dijalankan. Dengan begitu, generasi penerus bangsa pun, tidak melupakan sejarah, tidak pula melupakan jasa-jasa perjuangannya. Sehingga, menjadi kewajiban bersama untuk dikenang sepanjang masa.

a�?Jadi, tinggal kita formalkan saja,a�? ujarnya.

Ia percaya, nama baru dari bandara yang berdiri di Desa Tanak Awu, Pujut tersebut cepat dikenal. Dulu, tambah Ardita, perubahan nama dari Bandara Internasional Lombok (BIL) menjadi LIA, hanya membutuhkan waktu singkat saja. Alhasil, dalam hitungan hari, nama LIA pun populer di seluruh Indonesia dan dunia.

Perubahan itu sengaja dilakukan, kata Ardita, agar penyebutan nama Lombok didepan. Jangan di belakang. Ia pun bersyukur, PT AP pusat, provinsi, pemkab, tokoh agama, serta tokoh masyarakat menyetujuinya.

a�?Seperti itulah sejarah singkat perubahan nama BIL ke LIA. Sekali lagi, saya tunggu usulan resminya. Semoga membawa kebaikan untuk kita semua,a�? ujar Ardita.

Sementara itu, sekitar seminggu sebelum penetapan TGKH M Zainuddin Abdul Madjid menjadi pahlawan nasional, suasana di sekitar tempat pemakamannya di Pancor, Lombok Timur semakin ramai. Mereka semua menyambut gembira rencana pemerintah pusat itu.

Bahkan, sebagai bentuk dukungannya, di sejumlah gang spanduk hingga baliho dukungan terpampang jelas. “Ya pasti setuju, dari dulu memang sudah kami harapkan seperti itu. Karena beliau itu bukan hanya tokoh yang memperjuangkan pendidikan di NTB, tapi berjuang mengusir penjajah dari Indonesia,” ujar Aini salah seorang warga Pancor.

Penobatan TGKH Zainuddin Abdul Madjid sebagai pahlawan nasional akan membuat warga NTB semakin cinta terhadap tanah air. Karena, kata Aini, masyarakat NTB menjadi punya identitas di Indonesia.

Baginya, perjuangan mengusir penjajah di Indonesia tidak hanya terjadi di Pulau Jawa. Tapi di NTB juga ada perjuangan mengusir penjajah. “Penobatan beliau menjadi pahlawan nasional akan membuat kita bangga jadi masyarakat NTB,” jelasnya.

Dari pantauan Lombok Post, sejumlah spanduk dan baliho dukungan terhadap Maulanasyeikh sebagai pahlawan nasional memang tepasang di mana-mana. Mulai dari gang hingga sekolah-sekolah.

Tak hanya dukungan dalam bentuk yang tampak dilihat mata berupa spanduk, dukungan dalam bentuk doa juga terus mengalir. Di Masjid Al Abror Pancor misalnya. Siang kemarin (1/11), makam kakek Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi tersebut begitu ramai. Sejumlah santri terlihat berkumpul melingkari area makam TGKH M Zainuddin Abdul Madjid yang berada tepat di samping Masjid Al Abror.

“Kami hanya bisa mendoakan agar penobatan beliau sebagai pahlawan nasional berjalan lancar,” ujar Imran salah seorang santri Mahad Darul Quran Walhadist NW Pancor.

Santri asal Lombok Tengah ini menilai perjuangan yang dilakukan Maulanasyeikh sangat gigih dan tanpa pamrih. Ia bersama santri lainnya rela mengorbankan segalanya demi mengusir penjajah kolonial Belanda.

“Dari Pondok ke pondok beliau berjuang. Bahkan beliau mendirikan pesantren meski diberikan pilihan yang sulit,” timpal Ade IrmaA� santri Ma’had lainnya.

Sepengetahuannya, Maulanasyeikh pernah diberikan pilihan oleh warga tempat tinggalnya untuk memilih. Antara menjadi imam masjid atau berjuang mendirikan pesantren di luar. “Beliau memilih membangun pondok pesantren dengan konsekuensi tidak diperkenankan lagi salat Jumat di kampungnya. Beliau harus salat Jumat ke Labuhan Haji,” tuturnya.

Sehingga, ia menilai, pengabdian Maulanasyeikh begitu total untuk berjuang melawan penjajah. “Sangat pantas beliau menjadi pahlawan nasional. Kami juga setuju nama beliau digunakan untuk nama bandara. Karena banyak nama pahlawan nasional yang juga saat ini digunakan menjadi nama bandara,” tandas santri tersebut. (dss/ton/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka