Ketik disini

Headline Politika

Koalisi Linier Permudah Koordinasi

Bagikan

MATARAM– Langkah Dr H Zulkieflimansyah berlaga di Pilgub NTB 2018 tidaklah mudah. Politisi PKS itu belum sepenuhnya a�?mengamankana�? partainya sendiri.

Dia mengatakan hingga kini sangat banyak yang meminta klarifikasi padanya terkait jadi tidaknya paket Zul-Rohmi. Secara gamblang ia mengatakan bahwa proses finalisasi sedang dilakukan di DPP masing-masing.

a�?Dan nampaknya semua masihA�on the right track,a�? katanya berkeyakinan .

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” post_type=”portfolio” taxonomy=”post_tag” tax_term=”192″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Khusus di DPP PKS, partai tempatnya bernaung, dibutuhkan setidaknya satu pertemuan lagi. Dengan mempertemukan DPP dan DPW serta menghadirkan dirinya sendiri untuk diminta pertimbangan dan masukannya.

a�?Pertemuan ini belum dilakukan karena ketua Majelis Syuro PKS sedang berada di luar negeri,a�? urainya.

Dijelaskan Zul, dirinya maju di NTB bukan sekadar asal maju sebagai calon. Sikapnya pada DPP PKS sudah disampaikan dalam forum informal di DPP. Intinya, dirinya hanya akan maju dalam Pilgub NTB jika koalisinya linier juga dengan tiga pilkada lain di kabupaten/kota.

A�a�?Ini untuk mempermudah komunikasi dan koordinasi, kalau tidak linier akan berat kerja dan koordinasinya,a�? ungkap Zul.

Hal itu menjadi jawaban atas pernyataan Suryadi Jaya Purnama yang mengatasnamakan DPP PKS. Berbanding terbalik dengan Zul, ia justru menegaskan pilkada NTB tak akan bisa linier. Justru harus dipisah berdasar daerah masing-masing yang memang berbeda satu dengan lainnya.

a�?Tidak mungkin linier, kalau ada yang bilang lain dari yang saya sampaikan, maka itu bukan pernyataan resmi PKS,a�? tegasnya.

Ibarat sebuah rumah tangga dengan dua pemikiran yang bertolak belakang, agaknya dilema itu yang belum menemui titik temu. Keinginan Zul untuk linier bisa dipahami. Karena dengan demikian, peluangnya mengambil Rohmi dari Demokrat bisa terbuka lebar. Linier itulah yang menjadi syarat Demokrat. Demokrat juga mematok kadernya harus dimajukan. Artinya di Lombok Barat ada nama TGH Hasanain, di Lombok Timur HM Syamsul Luthfi, dan di Kota Bima ada HA Rahman H Abidin.

Keinginan tersebut masih tak sama dengan PKS yang tak mau terikat penuh. Bagi PKS, empat pilkada tak bisa digabung begitu saja. Harus ada jalannya masing-masing sesuai kebutuhan. Itulah yang menjadi jurang pemisah dua partai ini.

Sementara itu Demokrat menegaskan pantang tersandera PKS. Partai yang kini menempatkan kader terbaiknya TGB HM Zainul Majdi sebagai Gubernur NTB dua periode itu menegaskan PKS bukan satu-satunya opsi.

a�?Tiket koalisi Demokrat untuk pilkada sudah dalam genggaman,a�? kata Ketua Bapilu Demokrat NTB M Nashib Ikroman.

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa dengan atau tanpa PKS Demokrat tetap akan maju. Dengan tiket tersebut, empat pilkada sudah bisa dihadapi. Namun ia buru-buru menegaskan partai yang dimaksud bukanlah PKS.

a�?Partai mana, belum kami buka,a�? ujarnya.

Terkait PKS, ia menegaskan tak ada masalah sama sekali. Pihaknya mempersilakan PKS menyelesaikan urusan internalnya. Dia juga menawarkan PKS untuk bergabung dalam koalisi yang disebut sebagai Koalisi NTB Gemilang itu.

a�?Ini baru bicara koalisi, bukan pasangan calon,a�? katanya.

A�Artinya, dengan partai yang dimaksud, belum ada pembahasan mengarah siapa kandidat yang akan dimajukan. Terkait nasib Dr H Zulkieflimansyah, ia enggan mengomentarinya. Paket Zul-Rohmi jelas dalam ancaman jika benar apa yang dikatakannya. Demokrat tentu akan berpikir ulang untuk memajukan Zul, seandainya partai sendiri tak mendukungnya dan PKS tak menjalin koalisi dengan Demokrat.

A�a�?Zul itu kader PKS, silakan selesaikan urusan domestiknya dulu dengan sesama PKS.Kami tak ikut campur,a�? katanya.

Pengamat Komunikasi Politik UIN Mataram Dr Kadri mengatakan skenario sebagaimana yang dikatakan Demokrat bisa saja terjadi. Termasuk terkait benar tidaknya ada partai lain yang merapat.

a�?Sangat mungkin selain PKS,a�? ujarnya.

Kendati kemungkinannya kecil, bisa saja Demokrat mengambil partai lain yang sudah masuk dalam gerbong kandidat tertentu. Misalnya PAN atau PKB. Namun kemungkinan yang lebih besar menurutnya mengambil partai yang belum menentukan pilihan seperti Hanura, PDIP, dan PBB. Selanjutnya yang harus dipikirkan adalah paket koalisi yang diusung. Jika benar buntu dengan PKS, maka nama-nama seperti Prof H Farouk Muhammad, L Rudy Irham Srigede, dan KH Zulkifli Muhadli bisa menjadi opsi.

a�?Ada banyak pilihan dengan plus dan minusnya masing-masing,a�? katanya. (yuk/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka