Ketik disini

Headline Metropolis

Jadi Kuli di Tanah Sendiri

Bagikan

Para pemilik lahan di Senggigi menyesal tiada henti. Jika waktu bisa diputar, ingin rasanya mereka urung menjual tanah-tanah leluhurnya. Faktanya, gemerlap pariwisata tak kunjung membuat hidup mereka berlimpah. Sungguh tak pernah mereka kehendaki. Jika kini, yang terjadi mereka harus menjadi kuli di atas tanah leluhurnya sendiri.

—————————————————

LAHAN di pinggir pantai itu kini jadi milik orang lain. Di atasnya telah dibangun sebuah hotel. Megah. Kemegahan yang membuat harganya melangit. Sangat jauh. Apalagi bila dibandingkan dengan harganya puluhan tahun lalu. Waktu tanah itu, berada di tangan H Abbas.

H Abbas, warga dusun Senggigi, Desa Senggigi, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lobar, hanya bisa memandang mantan hartanya itu dari kejauhan. Ia bisa menunjuk lahan seluas satu hektare itu dari sebuah warung kecil. Miliknya. Tempat istrinya menjual kopi dan snack bagi pengunjung di pantai Senggigi.

Tahun 60-an. Itulah waktu di mana H Abbas menjual tanahnya. Harganya 25 ribu rupiah per are. a�?Waktu itu yang membeli tanah saya orang arab yang tinggal di Ampenan,a�? kenang H Abbas.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Waktu itu, Abbas tentu tak tahu apa yang akan terjadi puluhan tahun mendatang. Di mana jalan kemudian dibuka. Lalu pariwisata tiba-tiba menggema. Keindahan Senggigi memukau setiap mata. Menarik uang dari kantong para investor dari seluruh dunia.

H Abbas mengatakan kalau waktu itu tanahnya berada di pinggir pantai. Di sekitarnya masih hutan belantara. Menurutnya, sulit untuk membayangkan kalau harganya akan menjadi ratusan juta rupiah per are. Apalagi kebutuhan hidup begitu menekan. Menjual tanah menjadi satu-satunya harapan.

Pada tahun 1973, dari hasil menjual tanah, H Abbas pergi ke Tanah Suci. Waktu itu tambang hajinya sebanyak Rp 200 ribu rupiah. Kata H Abbas, waktu itu masih murah. Karena jamaah haji Lombok pergi menggunakan kapal laut dari Pelabuhan Lembar.

Di tengah laut ombak menerjang. Sebagian jamaah muntah-muntah karena tak tahan dengan gelombang. Menurut H Abbas, air laut waktu itu bergulung setinggi gunung. Menghempas kapalnya. Bersyukur, H Abbas adalah seorang nelayan. Sedikitpun ia tak mual.

Selain berhaji, uang hasil penjualan tanah tersebut dipakai untuk menyekolahkan anak-anaknya. Salah satu anaknya disekolahkan sampai ke luar daerah, Bali. Dan kini sudah punya pekerjaan semua.

a�?Salah satunya ada yang menjadi pengacara,a�? ucap H Abbas, menunjukkan raut bangga dan bahagia.

Selain untuk hidup, berhaji, dan menyekolahkan anaknya, apakah kini ia menyesal? Tentu. H Abbas tak bisa menarik waktu untuk kembali. Di mana kalau saja tanah itu masih menjadi miliknya saat ini, ia tak harus duduk di warung kecil. Menghabiskan waktu di pinggir pantai.

Namun ia bersyukur, masih ada iman dalam hati. Ditanya mengenai penyesalan tersebut, H Abbas segera menjawab dengan pasti. Ia mengatakan itulah rizki dari Tuhan. a�?Jika usia kita bisa dia ambil kapan saja, apalagi sekedar harta,a�? ucap H Abbas.

Sekarang kita tahu, senyuman dari wajah H Abbas datang karena iman kepada Tuhan yang dimilikinya. Setiap kali ia melihat mantan tanahnya di seberang sana, setiap itu juga ia mengingat kebesaran Tuhannya. Sang Maha Pemilik segalanya.

H Abbas mengajak Lombok Post pergi ke pinggir pantai. Dari sana ia menunjuk tanahnya yang kini telah jadi milik orang lain.

a�?Saya bersyukur telah menukar tanah itu dengan ilmu yang kini dimiliki anak-anak saya. Karena itulah warisan yang tak akan membuat mereka berkelahi,a�? Pungkas H Abbas, sambil tersenyum, dan berjalan kembali dengan sangat pelan.

Barangkali, H Abbas masih tetap menyesali tindakannya menjual tanah tersebut. Akan tetapi selalu ditutupi oleh wajah anak-anaknya yang tak pernah meminta harta itu kembali.

Anak-anak itulah harta H Abbas sesungguhnya. Yang abadi.A� A� A� A� A�A�

Menyesal, tapi Mau Bagaimana LagiA�

Begitulah Senggigi kini. Kawasan pariwisata paling mentereng di NTB itu begitu banyak menampilkan ironi. Tentu saja, ironi itu tak cuma milik H Abbas seorang diri.

Menelusuri para tuan tanah di Desa Senggigi, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lobar, Lombok Post menemukan puluhan nama terkenal. Dikatakan terkenal, karena bila namanya terdengar, tangan narasumber mesti berayun lebar. Hal itu untuk menggambarkan betapa banyak tanah yang dimilikinya.

Nama pertama yang didapatkan Lombok Post adalah almarhum H Ahmad Milyar. Dari namanya saja, siapa saja bisa menduga, bahwa nama akhirannya bukanlah nama yang sebenarnya. Melainkan julukan bagi seseorang yang kaya.

Konon, nama akhiran itu ia dapatkan karena ia merupakan orang yang pertama kali memiliki uang miliaran rupiah di Desa Senggigi.

H Ahmad Milyar memiliki enam orang anak. Salah satunya adalah H Muzakki. Ia kini tinggal di Dusun Kerandangan, Desa Senggigi, Kecamatan Batu Layar, Lobar.

Saat ditemui, H Muzakki terlihat sedang berada di pinggir pantai. Posisinya sekitar 200 meter dari tanah yang telah dijual ayahnya puluhan tahun silam. Sambil memandang bekas tanah ayahnya tersebut, ia pun menjelaskan kalau tanah ayahnya memang banyak. Seluas mata memandang. Ratusan hektare.

a�?Tidak hanya di Senggigi. Ada juga di Lombok Barat, Lombok Tengah, sampai Lombok Timur juga ada,a�? kata H Muzakki.

Menurut dia, tanah ayahnya yang pertama terletak di Dusun Kerandangan. Ia pun menunjuk tanah seluas dua hektare di pinggir pantai, Dusun Kerandangan tersebut. Pandangannya menerawang, tapi tak bisa diterka.

H Muzakki mengatakan ayahnya menjual tanah yang terletak di Kerandangan pada tahun 1980-an. Waktu itu harganya masih murah, jika dibandingkan dengan harga sekarang. Rp 1 juta per are.

a�?Orang dulu kan tidak tahu kalau nantinya harga tanah akan melambung tinggi. Karena tempat ini dulu memang kebun. Tak terbayang bakal jadi seperti sekarang,a�? terang Muzakki.

Meski tak bisa mengembalikan waktu, mau tak mau, H Muzakki menyayangkan apa yang telah terjadi. Jika saja H Ahmad Milyar tak menjual tanahnya, mungkin keadaannya saat ini bisa jauh lebih baik.

Namun, bukan berarti H Ahmad Milyar tak meninggalkan warisan kepada anak-anaknya. Ia hanya menjual tanahnya yang ada di Dusun Kerandangan. Kemudian mewariskan berhektare-hektare tanahnya yang lain untuk Muzakki dan kakaknya, H Zaini.

Menurut Muzakki, ia telah menjual tanah peninggalan ayahnya. Termasuk yang di Mangsit, Lombok Utara. Tapi ia bersyukur masih ada sisa.

a�?Di samping Kantor Desa Senggigi masih ada tanah dengan rumahnya seluas 8 are. Sekarang tanah itu ditawar Rp 2,5 miliar. Saya belum mau jual. Kalau ada yang mau Rp 3,6 miliar, baru saya jual, a�? katanya.

H Muzakki mengatakan ia bersyukur tidak seperti kakaknya, H Zaini yang telah menjual habis tanah warisannya di Senggigi. Meskipun begitu, bagi H Muzakki, semua itu sudah merupakan garis hidup. Mau tak mau, tanah harus dijual. Mesti akibatnya, ia tak bisa lagi menikmati tanah peninggalan almarhum ayahnya tersebut.

Kini, tanpa pekerjaan, ia hanya bisa memandang bekas tanah ayahnya. Sambil menunggu pemiliknya membangun hotel-hotel megah, yang kelak tak bisa dinikmati gratis oleh anak cucunya.

Muzakki sempat menyayangkan keputusan ayahnya untuk menjual tanah seluas 2 hektare tersebut. a�?Padahal dulu ada yang ingin menyewanya selama 20 tahun. Coba begitu, sekarang sudah tanah itu sudah jadi milik kita lagi, beserta bangunannya,a�? ujar Muzakki.

H Misbah, Merasa Ditipu Pembeli

Tak jauh dari tanah H Ahmad Milyar, terdapat tanah H Misbah. Ia merupakan warga yang dulu tinggal di pinggir pantai Dusun Kerandangan.

Ditemui di rumahnya, H Misbah terlihat sedang menggendong buyutnya. a�?Tanah saya sudah habis,a�? katanya kepada Lombok Post, sembari mengayun-ayunkan lengan buyutnya yang baru berusia satu tahun.

Ia memiliki tanah seluas 2 hektare. Pada tahun 1980-an, tanah itu ia jual dengan harga Rp 1 juta per are. H Misbah sebenarnya tak pernah ingin menjual tanahnya. Namun, pembeli mengatakan tempat tersebut akan dibangun hotel, dan kelak keluarganya bisa bekerja di hotel tersebut. Iapun menyerah.

Tanah pun terjual. Namun sejak saat itu, tak pernah ada pembangunan. H Misbah menyalakan rokoknya, kemudian menjelaskan betapa ia merasa telah tertipu. a�?Itu katanya saja. Kalau tahu begini jadinya, tentu saya tidak akan mau menjual tanah tersebut,a�? terang H Misbah.

Tapi tak hanya iming-iming lapangan pekerjaan saja yang membuat H Misbah menjual warisan leluhurnya tersebut. Karena selain itu, ia mengatakan ditakut-takuti pembeli. Kira-kira begini. Jika tak menjual tanah sekarang, maka bisa jadi tanah tersebut akan dibebaskan pemerintah. Merasa takut tak dapat apa-apa, H Misbah pun menjual tanahnya.

Menurut H Misbah, warga yang menjual tanahnya menggunakan uang hasil penjualan untuk membeli tanah sebagai tempat tinggal. H Misbah sendiri membeli tanah di Dusun Kerandangan, seluas 10 are. a�?Hanya ini yang saya miliki,a�? kata H Misbah.

Ia menyadari, betapa saat ini warga di Dusun Kerandangan telah menjadi kuli di tanah sendiri. Ia menunjuk rumah-rumah orang asing yang dibangun megah di sekitar rumah warga yang sederhana.

a�?Beginilah keadaannya. Semua anak cucu kita bekerja sama orang-orang itu. Mau apa lagi,a�? keluh dia.

Jika waktu bisa terulang kembali, tentu Misbah tak ingin menjual tanahnya. Ia menyadari kesalahan yang ia lakukan puluhan tahun silam. Penyesalan tersebut ditambah lagi dengan kondisi yang ia lihat di sekelilingnya. Pada usianya yang 72, ia menyadari, betapa berharganya menjaga tanah warisan leluhur. Menurutnya, itulah harga diri masyarakat.

Tapi apa daya. H Misbah mengatakan, ia telah merasa diusir dengan halus. a�?Kalau dulu di zaman penjajah kita diusir dengan kekerasan. Kalau sekarang, kita diusir dengan halus. Dengan uang,a�? terangnya. Miris. Ia melihat menantunya bekerja pada orang-orang yang telah membeli tanahnya sendiri.

Ia menegaskan semua itu terjadi karena pemerintah tak memberikan solusi terhadap persoalan yang terjadi pada masyarakat. Di satu sisi, tak ada yang bisa mengelak melihat uang. Dan sulit untuk menghindar dari tanah yang akan dijual.

Ia pun berharap, semoga masyarakat saat ini bisa lebih cerdas. Jangan sampai mau diusir dengan halus. Jikapun terpaksa, semoga ada solusi dari pemerintah.

Ismail Terharu Mengenang Masa Lalu

H Misbah masih bisa bersyukur karena sempat menggunakan uangnya untuk membeli 10 are tanah. Berbeda dengan Ismail, warga Dusun Kerandangan Otak Lendang.

Saat Lombok Post mendatangi rumahnya, ia sedang duduk sebatang kara. Rumahnya berdiri di tanah seluas 1 are. Rumah dari bedek. Kamarnya lebih mirip pondokan, dari pada sebuah rumah. Atapnya begitu rendah. Sehingga bagi yang memiliki tinggi di atas 160 centimeter, siap-siaplah untuk menundukkan kepala. Jika tak ingin kepala kejedot atap.

a�?Untuk menanam sayur saja sudah tak ada,a�? kata Ismail menjelaskan betapa lahan yang dimilikinya sudah tak ada.

Ismail berusia 62 tahun. Ia tidak menyesal karena telah menjual tanah. Tapi menyesali apa yang dilakukan ayahnya. Juga meratapi, betapa keras perjuangan buyutnya, untuk mendapatkan tanah di Dusun kerandangan.

Hal itu diceritakan ibunya puluhan tahun silam. Ismail menuturkan, yang pertama kali datang ke Kerandangan adalah Baloq Kinah yang berasal dari Lombok Tengah. Menurut Ismail, konon, Baloq Kinah datang mencari tempat tinggal dalam program transmigrasi pemerintah.

Menemukan hutan belantara, Baloq Kinah mulai merambah hutan jadi tempat bercocok tanam. Menanam kelapa. Merawat tumbuh-tumbuhan, dan pohon-pohonan. Semua itu bukan untuknya, melainkan untuk anak cucunya.

Setiap hari, Ismail selalu diceritakan oleh ibunya tentang asal-usul tanah tempat tinggalnya. Tanah yang saat itu dijual begitu saja oleh ayahnya. Dan kini, tak ada lagi yang tersisa.

a�?Sekarang tempat ini dihuni oleh orang asing. Anak-anak saya, cucu dan cicit nenek moyang saya, hanya bisa menjadi pekerja. Menjadi kuli bangunan di tanah ayah saya yang mereka beli,a�? kata Ismail.

Setiap kali mengenang cerita ibunya tersebut, saat itu juga Ismail menangis. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Ia menunjuk kedua anaknya, Maun dan Mahrup yang baru saja pulang bekerja. Mengkulik, di tanah leluhur sendiri.

Ismail membayangkan, entah apa yang bisa anak cucunya kelak ceritakan kepada anak-anaknya sendiri. Di saat tak lagi tempat berpijak. Ia telah dikepung pendatang. Menurutnya, kalau saja orang tuanya tidak menjual tanah warisan nenek moyang, mungkin masih ada yang bisa diceritakan kepada generasi berikutnya.

Sekarang tidak ada yang bisa dihitung lagi. Yang kemarin adalah mimpi, yang akan datang adalah khayalan. Dan hari ini adalah kenyataan. Kita ditengah-tengah. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menjaga apa yang kita miliki.

a�?Sambil senantiasa bersyukur atas hidup yang diberikan Tuhan,a�? ucap Ismail.

H Junaidi, Belajar Dari Kesalahan

Tentu saja, tak semua ahli waris menjual tanahnya sembarangan. Ada juga yang pintar. Macam H Junaidi. Dia adalah salah satu warga di Senggigi yang memilih menjual tanah di Senggigi, namun segera menggantinya dengan membeli tanah di tempat lain.

Alhasil, Junaidi kini masih punya tanah di banyak tempat. Tanah yang tentu saja memberi penghidupan untuknya. Untuk anak-anak dan cucunya.

a�?Saya belajar dari kesalahan para pendahulu. Itulah sebabnya saya tidak ingin sembarang menjual tanah,a�? kata H Junaidi.

Setiap menjual tanah di Senggigi, hasilnya, pasti ia pakai untuk membeli tanah lagi di tempat yang lain. Hal itu ia yakini sebagai cara untuk merawat tanah leluhur yang ia warisi.

a�?Ayah yang tak bisa baca tulis telah berpesan. Pesannya, saya harus berilmu. Dan kini, saya juga memperjuangkan agar anak-anak saya berilmu,a�? terang Junaidi.

Dengan kesadaran tersebut, Junaidi mempertahankan warisan yang dimilikinya tersebut. Menurutnya, hampir semua warga di Desa Senggigi sudah tidak memiliki tanah yang merupakan peninggalan nenek moyangnya.

Pemerintah Ngaku Sudah Bikin Aturan

Seperti sudah ditebak, pemerintah menampik kalau Senggigi hanya menampilkan ironi. Sebagai bukti, Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Lombok Barat H Dulhair menyodorkan data.

Sedari awal kata Dulhair, pemerintah memang tidak ingin warga lokal di Senggigi hanya jadi penonton kemajuan pariwisata di sana. Itu mengapa, pemerintah telah meminta investor untuk turut melibatkan warga lokal dalam investasi mereka.

a�?Kita kerjasamakan pemilik perusahaan dengan membina pengusaha-pengusaha lokal,a�? kata Dulhair.

Total hingga kini kata dia, ada Rp 11 triliun investasi di Senggigi. Angka ini dicapai sejak tahun 2015 hingga triwulan III 2017. Untuk Penanaman Modal Asing, telah mencapai Rp 10 triliun. Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri mencapai Rp 1,9 triliun.

a�?Realisasi ini adalah investasi berfasilitas. Kalau yang non fasilitas total kurang lebih Rp 1 triliun,a�? imbuhnya.

Dari realisasi itu, penyerapan tenaga kerja lokal di Senggigi kata dia sangat banyak. Jumlahnya terus meningkat. Saat ini saja, dari investasi PMA sudah menyerap 3.228 orang tenaga kerja lokal. Sementara tenaga kerja asing hanya 47 orang.

Sementara, dari investasi PMDN sudah menyerap 2.552 orang tenaga kerja lokal, dengan 10 orang tenaga ahli asing.

Menurutnya, data-data itu menunjukkan meski tanah-tanah Senggigi telah berpindah tangan, generasi muda daerah tetap terlibat. PAD yang diperoleh dari sektor pariwisata, kembali lagi ke masyarakat. Berupa perbaikan infrastruktur jalan, penyaluran listrik dan air, pendidikan, dan kesehatan.

Ibarat dua sisi mata uang, Senggigi memang tampil dengan sisi gelap dan sisi terang benderangnya. Sayang memang. Waktu tak bisa diputar ulang. Tapi, khalayak tentu tak akan terima. Jika para ahli waris pemilik tanah di Senggigi itu, hidupnya justru merintih di atas tanahnya sendiri. (cr-tih/ewi/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka