Ketik disini

Metropolis

Berani Lapor Itu Mantap Jiwa!

Bagikan

MATARAM–Jumlah laporan yang diterima Ombudsman RI Perwakilan NTB meningkat tiap tahun. Tren ini dinilai cukup bagus. Namun catatan lainnya ternyata masih ada masyarakat yang enggan melapor, karena khwatir akan mengalami intimidasi, pesimis apakah yang dilaporkan bisa terselesaikan atau tidak.

Sikap-sikap pesimis ini tidak boleh sampai akut menyerang psikologi masyarakat. Karena ini tentu dapat membuat rasa tidak tenang dan nyaman masyarakat. Setiap kali mereka membutuhkan pelayanan pemerintah.

“Karena itu, kita merasa perlu melakukan sosialiasi agar mereka mau melapor,” kata Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi NTB Adhar Hakim.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Pihaknya mendorong partisipasi publik. Bersama-sama mengawasi pelayanan publik. Sesuai dengan ketentuan pasal 35 ayat (3) Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik disebutkan pengawasan pelayanan publik dapat dilakukan oleh pihak eksternal, salah satunya masyarakat, berupa laporan atau pengaduan masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik.

“Sebagian besar laporan yang diterima Ombudsman didominasi masyarakat yang mengalami perbuatan maladministrasi,” ungkapnya.

Berdasarkan data tahun 2016, jumlah laporan mencapai 200 aduan. Dimana 50 persen dilaporkan masyarakat langsung tanpa melalui pendampingan.

“Jika khawatir identitas pelapor diketahui, Ombudsman dapat merahasiakan nama dan identitas pelapor,” terangnya.

Penyembunyian identitas pelapor ini sudah ditentukan dalam pasal 24 ayat (2) Undang-Undang No. 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia. Menurutnya sudah bukan saatnya lagi takut melapor karena berani melapor itu baik. Justru setelah melapor jiwa akan jauh lebih mantap dan tenang.

Setidaknya ada rasa bangga karena telah ikut berjasa membantu mengawasi persoalan di balik pelayanan publik. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka