Ketik disini

Headline Kriminal

Jaksa Periksa Juru Pungut Pasar

Bagikan

MATARAM-Penyelidikan kasus dugaan kebocoran  retribusi pasar kembali bergulir. Setelah permintaan keterangan terhadap kepala pasar dan pejabat Pemkot Mataram, Kejaksaan Tinggi (Kejati) memanggil juru pungut, kemarin (13/11).

Jaksa memanggil enam juru pungut dari Pasar Kebon Roek. Namun, hanya ada empat orang yang menghadiri panggilan jaksa. Salah satu juru pungut yang dipanggil, Ari mengatakan, pertanyaan jaksa seputar target retribusi dari Pasar Kebon Roek. Hal tersebut pun sudah dijelaskan secara rinci kepada jaksa penyelidik.

”Soal pungutan itu saja,” kata Ari, kemarin

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Dia menjelaskan, jumlah juru pungut setiap pasar berbeda-beda. Tergantung dari besar dan banyaknya pedagang di dalam pasar. Untuk Pasar Kebon Roek ada enam juru pungut yang bertugas.

Masing-masing dari juru pungut, diberikan target per harinya. Target itu nantinya akan diakumulasi setiap hari, minggu, bulan, dan tahun, hingga menjadi target retribusi untuk pasar.

Disinggung jumlah pungutan untuk pedagang, kata Ari, disesuaikan dengan peraturan daerah. Di dalam perda, pungutan untuk pedagang ditetapkan sebesar Rp 800. Namun jumlah tersebut bisa berubah. Tergantung dari berapa blok dan jumlah barang dagangan yang dimiliki pedagang.

”Kita lihat lagi kondisi pedagangnya. Memang kalau dilihat dari perda, itu per harinya dipungut Rp 800,” beber dia.

Untuk satu hari, juru pungut diberikan target retribusi. Di Pasar Kebon Roek, juru pungut harus bisa menyetor Rp 140 ribu setiap hari. Namun belakangan ini, kata Ari, target itu naik menjadi Rp 160 ribu.

”Kalau berbicara total, per hari itu targetnya Rp 1,4 juta. Tapi tidak pernah sampai, ini saja baru bisa dapat sekitar Rp 1,1 juta,” pungkasnya.

Diketahui  dugaan kebocoran retribusi pasar, penyelidikan perkara ini bermula dari temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Inspektorat Kota Mataram, tahun 2016 sekitar Rp 3,8 miliar dari retribusi pasar.

Temuan BPK maupun Inspektorat di tiga pasar yaitu Kebon Roek, Abian Tubuh, dan Pagesangan, terkait dengan perbedaan karcis dengan retribusi. Ada selisih retribusi diterima dari sisa karcis. Selisih itu diduga sebagai kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Mataram.

Dari temuan BPK , Pasar Kebon Roek tidak memiliki pencatatan atas jumlah pengambilan, pemakaian, dan sisa karcis untuk tahun 2015. Karena itu, tidak dapat diketahui pasti jumlah sisa karcis tahun 2015. Pemakaian karcis selama tahun 2016 dan sisa karcis tahun 2016.

Dalam pendapatan retribusi pelayanan di UPTD wilayah Ampenan dan Mataram, mencatat pendapatan retribusi pelayanan selama tahun 2016 senilai Rp 344.972.000. Hasil pemeriksaan fisik atas karcis yang telah terpakai pada UPTD diketahui bahwa karcis yang ada hanya sejumlah 145.968 lembar atau senila Rp 116.774.400. Yang kemudian ada selisih antara catatan dengan bukti pendukung senilai Rp 228.197.600.(dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka