Ketik disini

Headline Metropolis

38 Penerbangan Masih Cancel

Bagikan

PRAYA-Meski dibuka dan tak ada penutupan, arus penerbangan di Lombok International Airport (LIA) belum pulih. Kemarin (28/11), dari 106 jadwal penerbangan, total hanya 68 penerbangan yang berjalan. Sementara 38 penerbangan harus dibatalkan pihak maskapai.

Sebanyak 15 penerbangan yang dibatalkan adalah khusus penerbangan ke Bali. Sebab, Bandara Internasional Ngurah Rai di Denpasar memang dalam dua hari terakhir ditutup karena terselimuti abu vulkanik Gunung Agung.

Penerbangan ke Bali tersebut terdiri dari delapan penerbangan keberangkatan. Empat di antaranya milik Garuda Indonesia, satu Lion Air dan tiga milik WingsAir. Sementara penerbangan kedatangan total ada tujuh. Tiga penerbangan milik Garuda Indonesia, satu lion Air dan tiga milik Wings Air.

Sementara sisanya sebanyak 23 penerbangan lainnya yang dibatalkan merupakan penerbangan dari dan ke sejumlah tujuan. Antara lain Jakarta, Surabaya, Bima, Sumbawa dan Kualalumpur. Penerbangan tersebut dilayani Garuda Indonesia, Lion Air, Wings Air, Citilink dan AirAsia. (Selengkapnya lihat grafis).

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Pembatalan 38 penerbangan tersebut berdampak pada 2.831 penumpang. Sebanyak 1.588 orang di antaranya merupakan penumpang penerbangan keberangkatan. Sisanya, 1.243 orang merupakan penumpang penerbangan kedatangan baik domestik maupun internasional.

Sementara itu, total sudah tiga hari penerbangan di LIA terganggu akibat letusan Gunung Agung di Bali. Pada Minggu (26/11) lalu, terdapat 51 pembatalan penerbangan keberangkatan dan kedatangan, dengan jumlah penumpang yang terkena dampak 2.090 orang. Kemudian, Senin (27/11), ada 47 pembatalan penerbangan keberangkatan dan kedatangan dengan penumpang terkena dampak 1.900 orang.

Agar tak ada penumpukan penumpang, sejumlah maskapai menyiapkan penerbangan ekstra. Ada dua maskapai yang mengajukan yaitu, Garuda Indonesia dan Citilink. Sementara sisanya, ada penumpang yang memilih balik kanan dan melanjutkan perjalanan menggunakan jalur darat melalui pelabuhan Lembar Lombok Barat.

Pantauan Lombok Post di bandara kemarin, penumpukan penumpang di terminal bandara mulai berkurang, tidak seperti dua hari sebelumnya, Minggu-Senin lalu.

Sepanjang hari kemarin, otoritas bandara menyebutkan arah angin dan abu vulkanik Gunung Agung ke arah barat-selatan. Tidak lagi ke arah timur-utara. a�?Semoga tetap seperti ini,a�? harap General Manager (GM) PT AP I LIA I Gusti Ngurah Ardita.

Selama pelayanan penerbangan berlangsung kemarin, terdapat lima penerbangan keberangkatan dan lima kedatangan yang mengalami delay. Antara lain Lion Air tujuan Surabaya, Wings Air tujuan Sumbawa dan Citilink tujuan Surabaya.

Untuk kedatangan ada penerbangan Lion Air dari Surabaya Wings Air dari Bima dan Citilink dari Surabaya. a�?Penyebabnya, karena faktor operasional dan cuaca. Delay-nya beberapa puluh menit dan ada yang lebih daru satu jam,a�? beber Ardita.

A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A� General Affair and Legal Section Head PT AP LIA I Nyoman Siang menambahkan, kemarin ada 106 jadwal penerbangan di LIA. a�?Jika dikurangi 38 penerbangan, maka yang berjalan normal sebanyak 68 penerbangan,a�? kata dia.

Sementara itu, Muzakir Langkir satu dari sekian penumpang yang ditemui Lombok Post di bandara kemarin petang mengeluhkan pelayanan di bandara. Dia mengaku tidak mendapat informasi memadai terkait pembatalan penerbangan.

a�?Kalau kita tidak datang ke bandara, kita tidak tahu, bandara ditutup atau tidak. Penerbangan cancel atau tidak,a�? tandas Direktur RSUD Praya tersebut. Muzakir akan berangkat menuju Bandung menggunakan penerbangan Lion Air JT953.

Sementara itu, penumpang yang memilih jalur penerbangan laut setelah jalur penerbangan udara lumpuh terus meningkat. Kemarin, lonjakan penumpang menuju Bali dari Pelabuhan Lembar melonjak 100 persen dari hari biasanya yang rata-rata 300 penumpang pejalan kaki.

Sementara arus kedatangan penumpang dari dari Bali juga melonjak. Namun lonjakannya hanya 50 persen dari hari biasanya.

Namun, meski ada lonjakan penumpang, General Manager PT ASDP Pelabuhan Cabang Lembar Yunus Lentanga mengatakan, lonjakan tersebut tak ada masalah bagi pihaknya. Sebab, dari 36 kapal yang disediakan dalam antisipasi lonjakan penumpang baru terpakai 12 kapal per harinya. Jika terjadi lonjakan akibat erupsi Gunung Agung, pihaknya bahkan siap mengerahkan 36 kapal tersebut dengan kapasitas 10 ribu penumpang.

Ia menjelaskan, beberapa hari terakhir ini jumlah penumpang yang turun telah mencapai hingga dua ribu penumpang. Baik itu penumpang dan pengungsi. Namun, ASDP menduga pengungsi yang dimaksud adalah pengungsi secara mandiri (berbiaya sendiri). Pengungsi mandiri ini, rata-rata telah dijemput keluarganya masing-masing. Sayangnya, pihak ASDP tidak mendata secara detail kemana saja para pengungsi itu menetap sementara di NTB.

Mengenai antisipasi jadwal penyeberangan, Manager PT ASDP Pelabuhan Padangbai Wildan Jazuli mengatakan, ASDP melakukan penyesuaian dengan Syahbandar di Pelabuhan Padangbai. A�Jika nanti terjadi peningkatan pengungsi, maka akan diberlakukan sistem non jadwal.

Untuk muatan kendaraan, baik truk maupun kendaraan kecil, disesuaikan dengan data reguler. Namun, ASDP akan lebih mengutamakan penyeberangan bagi para pengungsi.

Ketika terjadi lonjakan penumpang dari pengungsi, ASDP memberlakukan dua opsi (pilihan) penyeberangan. Pertama, pada dermaga satu diberlakukan keberangkatan non jadwal. Diperuntukkan untuk mengangkut pengungsi dari Padangbai ke Lembar. Sedangkan dermaga dua untuk penyeberangan yang terjadwal atau reguler.

Dalam kondisi mendesak, ASDP juga menyiapkan opsi untuk memprioritaskan seluruh dermaga untuk pengungsi bersamaan dengan penumpang umum.

ASDP pun mengharapkan pihak terkait bisa menyiapkan mobil ambulans dan tim medis di posko terpadu yang saat ini sudah ada di Lembar. Mengingat kemungkinan adanya pengungsi dalam keadaan kurang sehat. Selain itu, ruang kesehatan di ASDP masih kurang.

Dari pantauan ASDP, belum ada gangguan penyeberangan yang diakibatkan abu vulkanik dari erupsi Gunung Agung. Terutama berkaitan dengan jarak pandang dari kapal. Namun, ASDP lebih mengkhawatirkan mesin kapal yang terkena debu tersebut. Sebagai langkah antisipasi, ASDP langsung melakukan pembersihan dan penyucian kapal yang baru bersandar ke Lembar. Serta membagikan masker kepada para penumpang Pelabuhan Lembar menuju Padangbai.

Sementara itu, pantauan Lombok Post sejumlah penumpang yang berangkat dari Pelabuhan Lembar-Padangbai tak merasa khawatir dengan kondisi alam yang tengah terjadi di Pulau Bali.

a�?Kami serahkan saja, semoga tidak ada apa-apa,a�? imbuh Samsudin salah satu penumpang yang akan ke Yogyakarta.

Sementara itu, Dinas Perhubungan Lobar juga memperketat pengawasan penyeberangan penumpang melalui jalur penyeberangan kapal cepat di Senggigi. Pantauan untuk memastikan tak ada lonjakan harga tiket.

a�?Saya yakini tidak (menaikkan tarif), tapi tetap kita awasi,a�? ungkap Kepala Dishub Lobar Ahmad Saikhu.

Pihaknya bersama Dinas Pariwisata NTB dan Lobar, telah membahas hal ini. Bertemu dengan para pelaku wisata dan pemilik kapal cepat di Senggigi. Mengingat kondisi buka tutup di LIA, maka lonjakan penumpang melalui jalur laut bisa saja terjadi.

a�?Namun sejauh ini kondisi penyeberangan masih normal,a�? imbuhnya.

Ini terlihat dari jadwal penyeberangan melalui Senggigi yang dua kali dalam sehari. Tepatnya pada pukul 11.00 dan 13.00 Wita. Belum ada penambahan jadwal dari pihak perusahaan. Meski demikian, bila terjadi lonjakan penumpang, perusahaan sudah siap menyediakan armada kapal tambahan. Satu kapal punya kapasitas 150 penumpang.

Posko-posko pengungsi di tiga titik. Yaitu, Lembar, Senggigi, dan KLU. Untuk mengevakuasi pengungsi, Damri sudah siapkan armada. Ada juga tiga unit bus sekolah.

Sementara itu, hingga kemarin, baru empat kepala keluarga (KK) pengungsi yang melapor di Posko di Pelabuhan Lembar.

Adapun data keempat KK tersebut, sambungnya, rata-rata dari Karangasem, Bali. Mereka mengungsi ke Lombok ke rumah keluarga yang ada di Alas Malang, Kecamatan Gerung. Adapula ke Dusun Enges-enges, Desa Jelantik, Loteng. Serta Desa Kebayan, Sumbawa Besar dan Baturaja, Ampenan. Mereka seluruhnya dijemput keluarga.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Lobar HM Najib mengatakan, tidak semua pengungsi dari Bali datang ke Lombok Barat. Ada juga yang datang ke Lombok Tengah, Lombok Utara dan Kota Mataram. Atas kedatangan pengungsi itu, pihaknya pun kata Najib tetap siaga.

a�?Dua tenda sudah kita siapkan. Di GOR Kecamatan Gerung, dan GOR Kecamatan Gunungsari,a�? terang dia.

Sementara Camat Batu Layar Suparlan mengungkapkan hingga kemarin, belum ada kabar tentang pengungsi yang datang ke Batu Layar. a�?Pengungsi yang dulu sudah pulang. Sampai saat ini belum ada kabarnya kembali,a�? kata Suparlan kepada Lombok Post.

Kepala BPBD NTB HM Rum juga memastikan kalau pengungsi yang mencapai 2.000-an orang tersebut mengungsi mandiri dan tidak melapor ke pemerintah.

Rum melanjutkan, rapat koordinasi telah dilakukan, melibatkan Dinsos, TNI dan Polri. Nantinya akan dibuatkan skenario jika terjadi gelombang pengungsi besar. Misalnya menggunakan Gor Turida, Asrama Haji NTB,A� dan Gelanggang Pemuda sebagai basis posko pengungsian. (dss/ewi/tih/fer/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka