Ketik disini

Headline Metropolis

Hidup Sehari Bersama Orang HIV-AIDS : Mereka Tidak Berbahaya

Bagikan

1 Desember lusa, seluruh dunia bakal memeringati Hari AIDS Sedunia. Di Bumi Gora, jumlah penderita penyakit mematikan ini terus bertambah saban tahun. Diperkirakan lebih dari 3.000 orang menderita HIV/AIDS. Namun, baru setengahnya yang melapor. Bagaimana para penderita HIV-AIDS ini menjalani hidup? Mereka memperbaiki diri. Menebalkan keyakinan, bahwa setiap kesucian punya masa lalu, dan seburuk apapun kekeliruan tetaplah punya masa depan.

***

PANGGILLAH dia Cinta. Memang bukan nama yang tertera di kartu identitasnya. Kami merahasiakannya. Umurnya 30 tahun sekarang. Masih lajang. Dan, rasanya, Cinta adalah idaman para laki-laki normal di muka bumi. Dia tinggi semampai. Kulitnya putih. Nada bicaranya sopan dan halus. Hangat dan humble. Dan Cinta adalah seorang enterpreneur. Dia punya bisnis fashion yang sedang tumbuh dan naik daun.

Selepas Isya Jumat pekan lalu, Lombok Post janjian bertemu di salah satu tempat tongkrongan anak muda di pusat perbelanjaan termegah di Mataram. Sebuah organisasi non pemerintah yang nirlaba menjembatani pertemuan itu.

Cinta, adalah perempuan asal Mataram asli. Dia kini tinggal dengan orang tuanya di sebuah rumah yang asri di salah satu kawasan di pusat kota.

Lazimnya orang yang hendak ketemuan kali pertama, perasaan jadi campur aduk. Dada juga dag dig dug. Duduk menunggu juga jadi serba tak tenang. Sebentar-sebentar tolah toleh. Sebentar-bentar cara duduk diperbaiki.

Bukan apa-apa. Cinta adalah perempuan tak biasa. Dia telah divonis dokter mengidap penyakit HIV. Penyakit mematikan yang paling menakutkan di dunia, dan hingga kini belum ditemukan obatnya.

a�?Mbak Teaa��?a�? kata seseorang menyapa koran ini. Belum sempat ada kata-kata terlontar, dia melemparkan senyum dan mengulurkan tangan.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

a�?Saya Cinta,a�? katanya memperkenakan diri.

Ya Allaha�� Cinta???

Jujur. Sungguh di luar ekspektasi. Dia tak seperti yang terbayangkan dalam pikiran. Bukan seperti para penderita HIV pada umumnya. Datang dengan mengenakan celana jins yang dipadu dengan kaos ketat khas anak-anak muda berlapis jaket jins warna senada celana, Cinta datang begitu riang. Rambut lurusnya dibiarkan tergerai dengan sapuan make up natural di wajah. Tak ada kemurungan di sana.

Tak terlihat ciri utama para penderita HIV yang umumnya digambarkan badannya kurus kering. Tak ada mata panda. Cinta sungguh terlihat sehat dan bugar. Keriangannya tak menyiratkan bahwa tubuhnya menggendong penyakit yang berkawan karib dengan maut.

Anda tahu Jessica Iskandar? Salah satu pesohor di tanah air yang kerap wara-wiri di saluran televisi itu? Cinta punya tubuh dan penampilan seperti Jessica. Tapi, Cinta jauh lebih manis. Jauh lebih cantik. Sungguh, tak mencerminkan usianya yang sudah 30 tahun.

Cinta kembali melempar senyuman hangat nan manis. Ah, wanita saja bisa dibuat iri manakala melihat senyum itu. Setelah duduk dan melayangkan pesanan, Cinta berbagi banyak kepada Lombok Post.

Dia hanya minta satu. Namanya saja dirahasiakan. Selebihnya, dia menyilakan koran ini menulis garis hidup yang harus dijalaninya.

a�?Saya hanya tidak ingin orang tua saya sedih. Cukup saya saja,a�? katanya.

A�Kini, genap tiga tahun sudah Cinta dinyatakan positif HIV. Dia menarik napas. Ingatannya menerawang pada April 2015 silam. Hidupnya kala itu seperti wanita karir pada umumnya. Hidup yang sungguh Cinta nikmati. Bekerja, berbelanja, lalu traveling.

Lalu datanglah demam. Namun Cinta tak menghiraukannya. Pikirannya demam biasa dan dia mengabaikannya. Apalagi, demam itu datang dan pergi. Tak lama kemudian, datanglah penyakit flu. Cinta memilih tak meminum obat. Dan merasa flunya akan sembuh dengan sendirinya.

Dan dia keliru. Bukannya minggat. Flu itu malah menjadi-jadi. Meminum obat flu yang beredar di pasaran tak ada yang mempan. Meski dosisnya sudah dinaikkan. Selama 1,5 bulan, flu itu menyerang. Kadang di dalam hidung ada lendir kental yang sungguh bandel menyumbat. Di lain waktu, tatkala sedang dudun-duduk santai, tiba-tiba cairan bening keluar dengan sendirinya dari hidung terus menerus. Tanpa disuruh, tanpa diminta.

Akhirnya Cinta nyerah juga. Lalu dia mendatangi salah satu pusat kesehatan di Kota Mataram. Bertemu dokter dan mengadukan apa yang dialaminya. Saat itu, Cinta merasa tak ada yang berubah pada dirinya. Meski flu, dia tetap merasa fit. Tubuhnya juga dirasa bugar selayaknya mereka yang diserang flu biasa.

a�?Tak ada tanda-tanda yang aneh,a�? tuturnya.

Cinta pun menjalani pemeriksaan biasa. Dokter bertanya apa yang dirasakannya. Semenjak kapan flu menyerangnya. Dituturkannya pula kalau kadang sering pusing. Terus diceritakan kalau demam tiba-tiba datang menyerang.

Entah curiga atau tidak. Dokter menyarankan Cinta cek darah dulu.

a�?Saya sendiri merasa aneh. Cuma flu kok malah diminta cek daerah,a�? aku Cinta. Tapi dia nurut. Cinta ingin sembuh.

Setelah pemeriksaan darah yang pertama, dokter meminta Cinta memeriksakan darah untuk kedua kali. Sampai kemudian hasil pemeriksaan keluar. Seoang perawat memanggil Cinta bertemu dokter kembali.

Dokter kemudian menanyakan sejumlah hal yang menurut Cinta tak lazim untuk mereka yang terkena penyakit flu. Dokter misalnya bertanya pada Cinta, apakah dirinya pernah menjadi pekerja seks. Mengingat pertanyaan yang terlontar dari dokter itu, Cinta mengaku kerap tersenyum geli.

Mendapati jawaban tidak, dokter lalu melanjutkan pertanyaan. Apakah Cinta adalah seorang pecinta sesama jenis atau biseks. Untuk pertanyaan yang terakhir, Cinta mengaku tak tahan. Dia kesal dan bahkan sempat berdiri dan berniat melabrak sang dokter.

a�?Soalnya pertanyaan itu bikin jantungan,a�? kenangnya. Dia merasa mau memerisakan penyakit flu saja, kok urusan bisa jadi panjang lebar macam begitu.

Tapi sigap dokter menenangkannya.

a�?Semua akan baik-baik saja,a�? kata dokter kepada Cinta.

Cinta kemudian diminta menunggu beberapa jam lagi untuk mengetahui pasti apa yang diidap Cinta. Sampai kemudian hasil tersebut keluar. Dan bak disambar petir menggelegar berkali-kali, Cinta harus menerima kenyataan. Dia positif mengidap HIV.

Sejenak Cinta menghentikan ceritanya. Dia menggigit bibir. Kenangan tiga tahun lalu itu mengantarkannya pada ingatan bagaimana dia begitu getir segetir-getirnya.

a�?Saya seperti mayat hidup. Saya ingin mati saja saat itu,a�? ujarnya. Sebuah bulir mengalir dari sudut matanya yang bening.

A�Dia ingat lutut dan seluruh tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas. Cinta shock. Pikirannya kalut. Cinta limbung. Sampai kemudian dokter berbicara lagi. Cinta sudah tak bisa konsentrasi. Sungguh dia tak menyangka, penyakit yang paling menakutkan itu hinggap di tubuhnya.

Tapi mau bagaimana? a�?Nasi sudah menjadi bubur,a�? katanya.

Jarum jam sudah menunjuk angka 22.00 Wita. Pengunjung pusat perbelanjaan megah itu sudah banyak yang beringsut. Beberapa tenant juga sudah mulai bersiap menutup gerai. Tapi Cinta masih semangat.

Cinta mengaku hidupnya telah hancur berkeping-keping. Dari mana virus mematikan itu datang? Cinta tidak memakai obat-obatan terlarang.

Astaga ! Seks bebas. Itulah yang langsung muncul di benak Cinta. Dia jujur mengaku, kalau berkali-kali dia memang berhubungan intim dengan kekasihnya. Dari sanalah dia berkeyakinan penyakit itu datang.

Cinta melakukannya atas dasar suka sama suka. Dengan iringan musik akustik, Cinta tak malu-malu mengungkapkan kisah kasihnya saat bersama sang kekasih kala itu. Hubungan intim kali pertama dia lakukan saat sudah duduk di bangku kuliah. Lama kelamaan, sang pacar pun mengenalkan Cinta pada aneka varian seks. Seperti maaf. Seks oral, dan berbagai gaya lainnya.

Belakangan, Cinta juga mulai ada yang aneh pada dirinya. Entah mengapa hasrat untuk melakukan hubungan intim itu begitu menggebu-gebu. Kerap datang tak kenal waktu. Belakangan dia baru tahu. Setelah dokter menyebut bahwa Cinta punya kecendrungan hiperseks.

a�?Dan terjadilah semuanya,a�? kata Cinta lirih.

Waktu menunjukkan pukul 23.00 Wita. Kami harus beranjak. Cinta memang harus pulang. Dia harus segera istirahat. Sebagai penderita HIV, Cinta memang tak boleh begadang. Sekali dia melakukan itu, maka sistem kekebalan tubuhnya akan melemah. Dan pada saat itu, virus HIV dalam tubuhnya bakal berpesta pora menyerang dari segala penjuru.

Diiringi janji bertemu kembali esok, Cinta berpisah.

Kali ini, Lombok Post bertandang ke rumahnya yang asri dan teduh. Sabtu pagi itu, Cinta telah menunggu di rumahnya. Keriangannya telah sepenuhnya pulih seperti sedia kala. Pagi itu dia terlihat segar dan berbinar.

Dia mengenakan celana pendek yang dipadukan dengan baju longgar berbahan mirip kain pantai dari Bali.

a�?Ayo duduk. Maaf ya, pembicaraan kemarin tertunda. Saya tidak boleh begadang,a�? kata Cinta sembari memamerkan senyum manisnya. Sesaat menyeruak wangi farfum yang lembut. Wangi yang sama seperti semalam.

Selain tak boleh begadang. Cinta mengaku juga tak boleh terlalu lama berada di bawah sinar matahari langsung. Dia juga gak boleh terlalu capek. Gak boleh pula banyak pikiran. Sebisa mungkin, Cinta harus berbahagia tiap hari. Dengan begitu, virus HIV di tubuhnya bisa dihambat lajunya untuk beranak pinak.

a�?Kalau saya jadi wartawan, dong duluan saya mati,a�? celotehnya. Menurutnya, wartawan itu pasti banyak beban pikirannya. Jadi cepat stress.

Cinta mengajak ngobrol di depan televisi. Pagi itu kebetulan dia tengah menikmati acara infotainment.

a�?Bicaranya santai saja. Orang tua saya sudah tahu. Jadi tidak perlu bisik-bisik,a�? jawabnya tertawa.

Ya. Tak ada yang dia sembunyikan memang di hadapan orang tuanya. Semua telah diceritakannya. Dan Cinta mengaku pasrah dengan seluruh risiko yang akan dia hadapi manakala pertama kali memberitahukan apa yang dialaminya.

Cinta lalu permisi ke dapur. Dia kembali membawa dua buah piring berisikan nasi goreng. Nasi goreng itu dia sendiri yang buat.

a�?Tenang saja. Saya tidak masukkan apa-apa,a�? katanya melempar canda. Meledaklah tawanya.

Terlihat pagi itu, dua orang tua Cinta tengah sibuk berkebun di samping rumah.

Kata Cinta, setelah didiagnosa dokter terkena HIV. Dia langsung browsing mengenai apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dia mencari tahu apa pantangannya. Pantangan itu misalnya andai di dapur saat memotong sayuran tangannya berdarah, maka apa yang dipotong termasuk pisaunya harus segera dibuang. Kalau sikar gigi, lalu gisinya berdarah, maka sikat gigi itu pun harus segera dibuang.

Dan kini, dia harus hidup dengan mengonsumsi obat bernama ARV? Ini bukan obat untuk membunuh virus HIV. Melainkan obat untuk memperlambat pertumbuhan virus HIV di dalam tubuhnya.

Sebab, hanya soal waktu. Bahwa virus HIV di dalam tubuh Cinta kemudian akan berkembang menjadi AIDS, yang kemudian banyak diketahui publik akan membawa para penderitanya lebih dekat pada kematian. Seberapa waktu yang dibutuhkan, sangat bergantung kondisi. Bisa bertahun-tahun. Namun, ada yang datangnya lebih cepat. Tergantung sistem imun dalam tubuh.

a�?Bisa diperkirakan, obat itu harus saya konsumsi seumur hidup lo. Stress sih, tapi mau bagaimana lagi, ini salah satu kewajiban yang dilakukan para penderita HIV positif. Obat itu saya konsumsi dua kali sehari,a�? katanya.

Jam mengonsumsi obat itu pun harus sama. Tak boleh berbeda. Sekali jadwal ini luput, maka tubuh Cinta akan terserang rasa panas yang luar biasa. Seperti terbakar. Obat ARV itu kini didapat gratis Cinta dari klinik. Obat tersebut disiapkan pemerintah.

a�?Ketika orang tua saya tahu, mereka sempat kecewa dan marah. Berbulan-bulan saya tak diajak bicara. Tapi lama-lama, mereka akhirnya mengerti, dan memberi support yang besar hingga kini,a�? katanya sembari mengajak koran ke dapur minimalisnya yang terlihat rapi, untuk mencuci piring bekas makan koran dan dirinya.

Apakah Cinta ikut komunitas HIV? Apakah Cinta malu dengan kondisinya sekarang? Apakah CInta ingin menikah?

Tidak. Ia tak masuk dalam komunitas virus HIV reaktif positif itu. Karena, cukup hanya dirinya, orang tua, dan beberapa dokternya saja yang berhak lebih tahu.

a�?Menikah? Tentunya saya ingin, wanita mana sih yang tidak ingin berumah tangga. Kebetulan, saya sekarang sudah punya pacar, dan akan berhubungan ke taraf yang lebih serius,a�? terangnya.

Apakah pria itu mengetahui Cinta terkena HIV?

Apakah pria itu menerima semua kekurangan Cinta?

Ya. Benar kata orang. Cinta memang buta!

a�?Saya beryukur, dia dapat menerima saya apa adanya. Walaupun, setelah saya jujur, cekcok besar terjadi,a�? ujarnya.

Cinta bercerita, selama berpacaran dengan sang kekasih. Ia tak pernah melakukan hubungan badan. Percaya tidak percaya. Ia hanya melakukan pegangan di tangan, dan berpelukan saja. Kenapa?

Karena ia tahu, bahwa penularan HIV kemungkinan kecil bisa terjadi saat berciuman. Atau bahkan berhubungan badan.

a�?Saya menghindar dari dia jika saya sedang sariawan, atau ada luka kecil di badan saya. Karena, virus HIV bisa keluar dari celah-celah sobekan luka yang ada di dalam badan penderita HIV positif,a�? ujarnya.

Cinta mengaku, hubungannya dengan sang kekasih, harus dilakukannya secara sembunyi-bunyi dari orang tua sang pacar. Karena, ia tak ingin kedua orang tua kekasihnya kecewa.

Sambil sesekali bercanda gurau. Cinta membeberkan sebuah fakta. Bahwa, untuk menikah dan mendapatkan anak sangatlah bisa didapatkan seorang reaktif positif seperti dirinya.

Pertama dengan melakukan konsultasi rutin pada salah satu dokter ataupun puskesmas. Dimana, di Kota Mataram, sudah banyak puskesmas yang terbuka untuk menerima konsultasi penderita HIV seperti dirinya. Kedua, melakukan hubungan badan dengan menggunakan kondom, dan berhubungan aman.

Bagaiamana caranya?

Ternyata untuk berhubungan badan, sangatlah bisa. Yakni dengan melakukan tes terlebih dahulu, menghitung kadar virusnya stabil, maka akan sangat bisa melakukan hubungan badan.

Namun, Cinta tak menampik. Jika kemungkinan kecil, virus itu bisa saja dikenai kepada pasangannya kelak.

a�?Ada perasaan itu, tapi saya yakin Tuhan bisa melindunginya dari penyakit yang saya derita ini. Karena dia (kekasihnya), bisa membuat dunia saya berwarna lagi, tidak suram seperti dua tahun kebelakang,a�? tutur Cinta.

Walau beraktivitas seperti sehari-hari, layaknya orang sehat. Cinta menuturkan, bahwa penderita seperti dirinya. Tidak boleh terlalu letih, begadang, stress, banyak pikiran, dan melakukan aktifitas berlebihan.

a�?Aktivitas saya sama saja seperti kalian, yang membedakannya hanya tidak boleh letih. Jadi jika letih, saya harus istirahat, yakni untuk menjaga kadar jumlah virus agar tetap stabil dan normal, kalau letih, akan dipastikan kadar virus saya bisa naik, dan akibatnya bisa fatal,a�? bebernya.

Selama tiga tahun ke belakang. Citra mulai menjalani kehidupannya sehari-hari, layaknya masyarakat pada umumnya. Pagi hari Ia tetap disibukkan dengan pekerjaanya. Saat sore hari, ia juga bisa nongkrong cantik di sebuah cafe. Bahkan, ia juga kerap olahraga untuk membentuk badannya.

a�?Saya tahu hidup ini hanya sekali, walau sebelumnya down dan terpukul. Saya berjanji kepada kedua orang tua saya, agar mencintai dan menghargai pemberian Tuhan, walau stigma masyarakat masih tinggi, saya cuek saja,a�? tutupnya.

Beri Mereka Kesempatan

Sementara itu, salah satu perawat pelaksana untuk penderita HIV-AIDS Baiq Hartika Dewi kepada Lombok post menuturkan, bahwa para pengidap reaktif positif itu tidaklah berbahaya.

a�?Mereka tidak berbahaya, sebenarnya hanya stigma orang-orang saja yang memunculkan kata-kata itu,a�? kata Tika sapaan akrabnya.

Tika membenarkan jika memang ada beberapa penderita asal Pulau Lombok yang kerap melakukan konsultasi mengenai HIV.

a�?Ya, ada. Tapi maaf saya tida bisa menyebutkan jumlahnya berapa, ini hak para pasien untuk dirahasiakan,a�? ujarnya tersenyum.

Apakah ada pria? Apakah ada wanita? Apakah ada ibu hamil yang terkena HIV?

a�?Ya, kebanyakan ibu rumah tangga yang tengah mengandung. Mereka kebanyakan mendapatkan virus HIV itu dari sang suami (karena jajan di luar),a�? tuturnya dengan suara pelan.

Tika menuturkan, untuk mencegah sang cabang bayi menerima virus sang ibu. Pihaknya memberikan obat ARV khusus penderita reaktig positif (HIV).

a�?Setiap ibu hamil yang datang ke puskesmas, mereka harus melakukan screening. Ini bentuk minimalisir dari kami untuk mereka,a�? ujarnya.

Ia menegaskan, obat ARV yang mengkonsumsi sang ibu. Tidak akan member dampakA�A� untuk bayi di dalam kandungan.

a�?Obat ARV ini aman dikonsumsi ibu hamil. Efek samping hanya mengenai sang penderita, seperti akan mengalami halusinasi, gangguan tidur, bahkan kadang timpul penyakit steven Johnson (kemerah-merahan),a�? bebernya.

Serupa dengan perkataan Citra sebelumnya, Tika memenarkan. Jika salah satu penderita HIV bisa berhubungan badan dengan pasangannya yang non HIV. Bagaiamana caranya?

Yakni dengan, melakukan tes terlebih dahulu.Yakni menlihat kadar bakteri berada di posisi normal, dan yang terpenting menggunakan kondom secara aman.

a�?Yang penting dilakukan dengan aman, dan bersih,a�? jelasnya.

Untuk sang balita di dalam kandungan. Tika menuturkan tak berbeda dengan para ibu hamil lainnya. Prosesnya sama saja. Namun yang membedakannya usai, sang bayi keluar dari rahim. Baik melalui normal ataupun cecar. Bayi harus segera diberishkan dengan cairan khusus, agar darah sang ibu (HIV) tidak masuk ke dalam tubuh sang anak.

a�?Nanti ketika umur 18 bulan, bayi itu wajib dicek kesehatannya. Karena pada usia seperti itu, virus bisa dideteksi,a�? jawabnya lugas.

Saat koran berusaha menanyai Tika. Apakah ketika penderita HIV meninggal, virusnya akan mati ataukah tetap hidup di badannya.

a�?Virus HIV itu akan mati dengan sendirinya, ketika denyut nadi berhenti, maka virus HIV positif itu akan lenyap. Ketika mereka meninggal, pakaian yang membalutnya juga normal seperti orang mati pada umumnya, tidak ada pakai alat khusus atau plastic agar virusnya tidak keluar. Yang pasti usai seseorang meninggal, virus HIV akan otomatis mati dan lenyap,a�? tandasnya.

(cr-tea/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka