Ketik disini

Headline Metropolis

Gagal Ginjal Ancam a�?Kepala Empata�?

Bagikan

MATARAM– Penyakit di Indonesia secara umum dibagi menjadi dua. Penyakit menular dan tidak menular. Penyakit tidak menular di antaranya adalah darah tinggi, kencing manis, gagal ginjal, sakit jantung, kanker, dan lain-lain.

Nah, bagian penyakit tidak menular tersebut kebanyakan menjadi penyakit kronis. Di mana penyakit tersebut membutuhkan pengobatan jangka panjang, dan terus menerus. Bahkan seumur hidup.

Ada banyak jenis penyakit tidak menular yang menjadi penyakit kronis di Indonesia. Salah satunya adalah penyakit ginjal kronis atau yang dikenal masyarakat dengan istilah gagal ginjal kronis (GGK).

Ingin mengetahui lebih dalam seperti apa perkembangan penyakit tersebut di NTB, khususnya di Kota Mataram, Lombok Post melakukan wawancara ekslusif dengan dokter spesialis penyakit dalam, dr Hj Amanukarti Resi Oetomo, Sp.PD atau yang akrab disapa dr Nunuk.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Siang itu dr Nunuk baru saja selesai menangani pasiennya. Ia sendiri merupakan dr spesialis yang berstatus pegawai negeri sipil di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram. Dengan senyuman ramah, dokter yang hobi bersepeda itu menjelaskan gagal ginjal kronis.

Menurutnya, GGK merupakan kerusakan permanen ginjal. Di mana, fungsi ginjal tak bisa lagi berfungsi. Sehingga akibatnya penderita tidak mempunyai alat penyaring cairan dan pembersih sampah-sampah sisa metabolisme.

Sehingga racun-racun atau sampah serta air yang semestinya tersaring oleh ginjal, tetap beredar dalam tubuh penderita. Itulah yang kemudian menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Tentu, hal itu dapat berakibat fatal jika tak segera ditangani dengan baik.

Lalu apa yang menyebabkan GGK terjadi pada tubuh manusia? Dengan senyuman khasnya, dr Nunuk menjelaskan, bahwa ginjal kronis terjadi karena beberapa faktor. Ia mulai menjelaskan dari usia penderita penyakit tersebut.

a�?Jadi rata-rata yang mengidap penyakit GGK di atas usia 40 tahun. Di bawahnya ada juga. Nah, itu yang biasanya membedakan penyebabnya,a�? terang dr Nunuk.

Bagi penderita dengan usia a�?kepala empata�? ke atas, gagal ginjal lebih sering disebabkan oleh diabetes, dan hipertensi. Sedang untuk penderita di bawah 40 tahun, gagal ginjal bisa disebabkan oleh peradangan ginjal, batu ginjal, infeksi ginjal, dan akibat minum obat-obat (penghilang rasa sakit) dan minuman-minuman berenergi.

Tentu, penyebabnya bisa dengan mudah kita temukan di a�?om googlea�?. Begitu juga dengan berbagai macam tips untuk menghalau penyakit itu datang kepada kita. Tapi mari kita lebih dalam melihat bagaimana biasanya pasien di RSUD Kota Mataram diobati oleh dr Nunuk.

Menurut dr Nunuk, selain dia, ada dua dr spesialis penyakit dalam lainnya yang dimiliki RSUD Kota Mataram. Lalu bagaimana cara penanganan yang biasa dilakukan dr spesialis penyakit dalam kepada pasien di RSUD Kota Mataram?

dr Nunuk mengatakan, bagi penderita yang GGK, ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mengobati pasien. Pertama, tranplantasi ginjal, atau yang biasa kita kenal dengan cangkok ginjal. Dalam hal ini, karena ginjal sudah tidak berfungsi, maka satu-satunya cara adalah dengan mengganti ginjal tersebut. Caranya bagaimana? Operasi ginjal.

Untuk melakukan tindakan tersebut, RSUD Kota Mataram belum memfasilitasi hal tersebut. Sehingga, bagi pasien yang ingin mengganti ginjalnya, mereka akan dirujuk ke rumah sakit yang fasilitasnya lebih lengkap. Seperti RSCM, RS dr Sortomo, RS Sanglah, RS Hasan Sadikin, dan RS Karyadi. Semua RS tersebut berada di luar daerah.

a�?Karena berada di luar Daerah, tentu prosedurnya lebih banyak dan sulit,a�? kata dr Nunuk.

Tidak hanya di RSUD Kota Mataram, menurut dr Nunuk, semua rumah sakit daerah di Provinsi NTB ini belum bisa melakukan tindakan ganti ginjal tersebut. Karena itu, solusinya hanya ada di luar daerah. Adapun tahapan dari mana ginjal baru bisa didapatkan, dan bagaimana proses pergantiannya, akan lebih tepat jika diuraikan setelah RSUD Kota Mataram sudah memfasilitasi hal itu.

Namun menurut dr Nunuk, kisaran biaya ganti ginjal ditaksir menembus angka ratusan juta rupiah. Dan adapun dari mana pasien mendapatkan ginjal, dr Nunuk mengatakan bisa lewat keluarga, dan orang yang mau memberikan ginjalnya. Akan tetapi akan lebih baik jika itu dari keluarga. Karena biasanya, gen atau kromosom yang sama akan menurunkan reaksi penolakan dari tubuh pasien penerima ginjal yang akan dipasangkan di tubuhnya.

Lalu bagaimana jika pasien tidak mau atau tidak mampu melakukan ganti ginjal? Solusinya adalah cuci darah. Solusi kedua ini sudah ada fasilitasnya. Bahkan gedung khususnya di RSUD Kota Mataram sudah berdiri tegak.

Menurut dr Nunuk, 95 persen pasien yang cuci darah di RSUD Kota Mataram menggunakan BPJS. Karena kalau ditaksir, biaya sekali cuci darah bisa mencapai Rp 1 juta.

a�?Untuk cuci darah, normalnya dua kali seminggu. Ada juga yang satu kali, dan tiga kali dalam seminggu. Tapi yang paling banyak itu, dua kali dalam seminggu,a�? terang dr Nunuk.

dr Nunuk menjelaskan, bahwa proses cuci darah seringkali menjadi mitos di masyarakat. Di mana orang beranggapan cuci darah nantinya akan bisa ketagihan. Padahal, itu merupakan kebutuhan tubuh si pasien.

Untuk mengetahui lebih detail, dr Nunuk mengajak Lombok Post A�ke ruang Gedung Hemodialisa, tempat cuci darah berlangsung. Pembahasannya sangat panjang. Akan tetapi, yang mesti dikabarkan dari kunjungan ke ruangan tersebut adalah pasien penderita GGK di RSUD Kota Mataram pada waktu itu tercatat 70 orang. Masing-masing dari pasien datang dengan jadwal yang sudah ditentukan.

Mereka ke sana untuk mencuci darah. Artinya, ada sebuah alat yang berfungsi untuk menjadi penyaring. a�?Ini dia alatnya yang berfungsi mengganti ginjal pasien,a�? terang dr Nunuk menunjuk sebuah alat yang bentuknya seperti tabung kecil. Atau mirip kapsul super jumbo.

Melihat banyaknya pasien penyakit ginjal yang datang dari berbagai daerah ke RSUD Kota Mataram, dr Nunuk pun berencana melanjutkan studinya untuk meraih gelar konsultan ginjal hipertensi. Menurut dr Nunuk, saat ini banyak pasien GGK yang membutuhkan dokter konsultan ginjal untuk menangani berbagai kasus ginjal dengan lebih baik dan holistik.

Selain itu, untuk dapat melakukan operasi cangkok ginjal, dibutuhkan adanya konsultan ginjal hipertensi, konsultan bedah vascular, dan bedah urologi.

a�?Saat ini kita sudah punya bedah urologi, dan konsultan beda vascular (sedang sekolah). Nah tinggal konsultan ginjal hipertensi. Rencananya saya akan mengambil pendidikan itu. Doa��akan saja,a�? tutur dr Nunuk.

Melihat banyaknya penderita penyakit ginjal kronis di NTB, RSUD Kota Mataram akan menambah alat cuci darah yang dimiliki. a�?Saat ini kita memiliki 17 unit. Rencana kita akan tambah jadi 70 unit,a�? harap dr Nunuk. (tih/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka