Ketik disini

Headline Kriminal

Kisah Pembimbing ABH di Panti Paramita : Bikin Onar, Sel Isolasi Menanti

Bagikan

Menangani Anak A�yang Berurusan Dengan Hokum (ABH) bukan perkara mudah. Namun hal itu harus menjadi rutinitas bagi pekerja sosial di Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Paramita Mataram. Berikut kisahnya.

===

Keterlibatan anak dalam tindak kriminal, bukan sepenuhnya karena kesadaran mereka. Sering kali ada peran dari pihak lain yang mengajarkan dan merekrut mereka untuk melakukan tindak kejahatan. Kepolosan dan ketidaktahuan permasalahan hukum, mereka akhirnya dimanfaatkan pelaku-pelaku lain.

Karena itulah proses hukum terhadap mereka A�lebih mengedepankan pembinaan. Jika memungkinkan, mereka akan dikembalikan ke orang tua masing-masing. Jika masih ada yang berstatus pelajar, kepolisian akan melakukan koordinasi dengan sekolah, di mana tempat mereka menimba ilmu.

Nah, salah satu tempat untuk membina ABH berada di PSMP Paramita. Di sini, anak-anak tersebut digembleng dengan hati-hati. Diberikan bimbingan dan kesadaran akan pentingnya masa depan.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Guna mewujudkan itu, beberapa pekerja sosial diberikan tanggung jawab pengasuhan. Salah satunya Muhammad Afani. Dia merupakan salah seorang pengasuh di Panti Sosial Paramita. Fani, sapaan akrabnya menjadi salah satu garda terdepan dalam melakukan pembinaan terhadap anak-anak di PSMP Paramita.

Panti Sosial Paramita yang terletak di Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, memang diperuntukkan bagi anak-anak yang bermasalah. Di tempat ini, anak-anak dibina untuk menjadi lebih baik.

a�?Semacam padepokan tempat menempa diri. Mengubah karakter anak menjadi lebih baik lagi,a�? ujar Fani.

Namun merawat anak-anak bermasalah ini tak selalu berjalan mulus. Kerap kali mereka bosan dan memilih kabur dari panti.Jika sudah demikianA� para Pembina punya tugas ekstra. Mencari dan memulangkan kembali si anak hilang. Biasanya Fani akan langsung menghubungi orang tua anak. Mengecek apakah yang bersangkutan pulang kembali ke rumahnya.

a�?Langkah pertama tentu menghubungi orang tua, alhamdulillah anaknya ketemu,a�? kata Fani.

Persoalan kaburnya anak-anak dari panti, bukan satu-satunya masalah yang dihadapi Fani. Perbedaan karakter anak yang masuk, ditambah dengan kasus yang melatarbelakanginya, kerap menimbulkan konflik antar mereka. Merokok hingga berkelahi tak jarang dilakukan anak-anak penghuni panti.

Fani bahkan pernah menemukan a�?senjataa�� di dalam kamar karantina. Senjata tersebut terbuat dari gir motor yang dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi semacam alat untuk melukai.

a�?Kejadiannya sudah lama, sekitar 2015, akhirnya saya sita. Tapi setelah itu tidak ada lagi,a�? ujarnya.

Lebih lanjut, setiap anak yang dilimpahkan aparat penegak hukum seperti kepolisian dan jaksa, biasanya akan ditempatkan di sel isolasi. Di sana mereka akan merenungi perbuatan tindak pidana yang telah dilakukan. Sekaligus untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan barunya.

Seperti namanya, anak-anak itu tidak diperkenankan untuk keluar dari kamar. Kata Fani, ABH biasanya menempati sel isolasi dalam rentang waktu yang bervariasi. a�?Biasanya satu sampai tiga minggu,a�? ujar dia.

Setelah keluar dan berbaur dengan penghuni lain, ABH akan ditempatkan di kamar yang berbeda. Saat proses ini terjadi, mereka bebas melakukan berbagai macam kegiatan.

a�?Tapi kalau berulah lagi, biasanya kita tempatkan kembali di sel isolasi,a�? terang Fani.

Setelah dibina di bawah asuhan Fani, anak-anak tersebut biasanya a�?naik kelasa��. Mereka pindah asuhan ke kelompok anak yang dalam hitungan minggu bisa bebas dari hukum. Untuk bisa naik kelas, syarat utamanya tentu berkelakukan baik.

Karena telah berkelakuan baik, mereka biasanya bebas melakukan kegiatan. Termasuk bermain bola di lapangan upacara saat sore menjelang.

Selain olahraga, anak-anak ini juga diberikan pemahaman agama yang lebih mendalam. Mereka diajak untuk salat lima waktu. Mereka A�diajarkan cara bertanggungjawab.

Tentunya, dalam kelompok ini diterapkan juga sistem reward and punishment. Jika melakukan pelanggaran, akan ada sanksinya. Hanya saja tidak seberat A�kalau melanggar ketika berada di pengasuhan awal. Anak-anak tersebut biasanya akan diminta untuk membersihkan musala atau kamar mandi mereka sendiri.(wahidi akbar sirinawa/r2)

A�

A�

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka