Ketik disini

Kriminal

Cukong Kayu Kendalikan Pembalakan Liar di NTB

Bagikan

MATARAM-Kayu jenis Sonokeling masih menjadi sasaran utama pembalakan liar di NTB. Ini terlihat dari hasil penangkapan yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB pada Sabtu (9/12) lalu.

Dalam penangkapan tersebut, petugas menyita seorang pelaku dengan inisial JA. Dia membawa 320 batang kayu Sonokeling. Dugaannya, kayu tersebut diambil dari Hutan Mareje Bonga (RTK-13), di Desa Mareje Timur, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat (Lobar).

Kabid Perlindungan Hutan, Konservasi dan Pelestarian Sumber Daya Alam (PHKPSDA) Dinas LHK NTB Mursal mengatakan, pelaku telah ditahan dan dititipkan di Polres Lobar. Namun penanganan perkaranya tetap dilakukan PPNS Dinas LHK.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

a�?Sudah ditahan di Polres Lobar,a�? kata Mursal, kemarin (11/12).

Menurut Mursal, pembalakan di RTK-13 diduga kuat dikendalikan cukong atau pemodal dari Surabaya dan Jakarta. Mereka memberikan modal kepada masyarakat lokal untuk merambah hutan di wilayah NTB.

Jumlah modal yang diberikan, kata Mursal, tidak bisa dipastikan. Namun dalam kasus yang terakhir, pihaknya mendapat informasi bahwa ada aliran dana sebesar Rp 10 juta yang diberikan pemodal kepada JA.

Uang tersebut tentu digunakan sebagai biaya masyarakat saat mengambil kayu ke dalam hutan. a�?Mereka biasanya berkedok kayu masyarakat atau hak. Padahal ambilnya dari kawasan hutan,a�? ungkap dia.

Mursal mengatakan, kayu Sonokeling memang menjadi incaran cukong kayu. Ini berdasarkan harga Sonokeling yang cukup tinggi jika diekspor ke luar negeri.

Untuk satu kubik Sonokeling berdiameter 30 sampai 40 centimeter, harganya bisa mencapai Rp 70 juta. Sementara, rata-rata kayu yang ditebang dari hutan NTB, berdiamter sekitar 20 centimeter.

a�?Yang itu saja harganya bisa Rp 40 juta per kubiknya. Dan di wilayah yang kering seperti Lobar bagian selatan, kayu Sonokelingnya berkualitas bagus,a�? beber Mursal.

Dari sejumlah penangkapan yang dilakukan, pembalakan liar ini selalu dibiayai cukong dari luar NTB. Cukong kayu ini menggelontorkan dana ke masyarakat lokal, kemudian disebarkan lagi kepada warga yang bertugas menebang dan mengangkut kayu.

a�?Masyarakat itu dibayar murah, hanya Rp 1 juta per kubik. Hutan kita rusak dibuat oleh mafia kayu ini,a�? ujarnya.

Kenapa tidak melacak penyandang dananya? Mengenai hal tersebut, Mursal mengatakan bahwa kejahatan kehutanan dilakukan dengan sangat rapi. Para cukong kayu tidak memberikan uang dengan mentransfer melalui rekening. Melainkan dengan memberikan langsung kepada kaki tangan mereka di daerah.

Karena itu, jajarannya tetap melibatkan aparat penegak hukum yang tergabung dalam satgas pemberantasan illegal logging. Guna meminimalisasi pembalakan liar untuk hutan di wilayah NTB.

a�?Rata-rata diserahkan by hand. Kalau dengan transfer tentu lebih mudah kita telusuri, tapi ini tidak seperti itu,a�? pungkas Mursal.(dit/r2)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka