Ketik disini

Metropolis

Refleksi Kepemimpinan Pasangan Aman, 2 Tahun 25 Prestasi

Bagikan

MATARAM-Pemerintahan H Ahyar Abduh dan H Mohan Roliskana atau disingkat Aman jilid II, sebentar lagi menuntaskan pengabdian tahun kedua. Sejak terpilih untuk kedua kalinya dan dilantik sekitar Februari 2016 lalu, telah banyak catatan prestasi yang berhasil ditorehkan.

Di tengah badai kritik dan dorongan dari segenap elemen masyarakat agar pemerintahan Aman terus berbenah, pemerintahan ini secara konsisten terus menorehkan kebanggaan bagi masyarakat kota. Bahkan bagi NTB.

Walau harus diakui, tak ada yang sempurna. Sebagus apapun, pasti ada celanya. Seyogyanya itu tak membuat mental terpuruk. Tapi cambuk untuk menjadi lebih baik lagi.

“Banyak sekali prestasi beliau, sampai tidak cukup di (layar) laptop dan MC kecapkan (membaca),a�? puji Ustad Muammar yang didaulat menjadi perwakilan masyarakat.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Sejak dilantik, sepanjang tahun 2016-2017, sekitar 25 prestasi yang berhasil ditorehkan pemerintahan Aman Jilid II. Prestasi-prestasi itu bagi Muammar membuktikan, masyarakat saat ini tidak dipimpin oleh pemimpin yang tamak. Tetapi sosok yang sangat mementingkan pelayanan pada masyarakat. “Kita dipimpin oleh orang yang bukan seperti Korun,a�? cetus Muammar, yang diiringi tawa hadirin.

Adanya konsistensi dan keberpihakan penuh pada prinsip pelayanan pada masyarakat dan good governace, dibuktikan dengan catatan prestasi yang telah berhasil ditorehkan. “Semoga Mataram tetap menjadi Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur,a�? doanya.

Meski demikian, Muammar tetap menyelipkan pesan pada pemerintahan Aman Jilid II. Harus menjunjung tinggi prinsip menjadi pemimpin yang adil.

Menurutnya, pemimpin yang adil bukanlah pemimpin yang memberikan porsi pekerjaan sama ke setiap bawahan. “Adil itu adalah bisa menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuan dan kehaliannya,a�? ujarnya.

Sejauh ini, ia melihat kepemimpinan Aman Jilid II bisa melakukan ini dengan baik. Hal inilah yang membuat Kota Mataram, bisa menorehkan prestasi pembangunanA� yang cukup pesat.

Muammar kemudian berseloroh, sulit melihat tanah karena semua sudah di aspal dan dibangun. a�?Jadi kita sebenarnya rindu juga sama tanah,a�? celetuknya.

Begitu juga di bidang pembangunan infrastruktur yang lain. Muammar mewakili warga kota, melihat kondisi saat ini sudah jauh lebih baik lengkap fasilitasnya. a�?Saking majunya, lampu di mana-mana. Selaq ngkahn bani sugul takut sama lampu (hantu takut keluar),a�? kelakarnya.

Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh, terlihat tak ingin jemawa dengan catatan prestasi mentereng yang telah ia capai. Ia pun menyebut semua ini tidak lepas dari kerja sama yang baik antar seluruh elemen pemerintahan kota. “Dan yang terpenting adalah dukungan masyarakat kota. Tanpa dukungan itu, capaian ini tidak ada,” ujar Ahyar.

Ia bahkan lebih senang menyebut prestasi-prestasi itu sebagai capaian saja. Dengan parameter penilaian tertentu, sehingga bisa memberikan hasil yang baik. Utamanya dalam memberikan pelayanan pada masyarakat.

Dalam kesempatan refleksi itu, Ahyar lalu mengupas satu persatu gambaran umum kota. Mulai dari sisi geografis yang secara luas wilayah, lebih kecil dari pada daerah lain. Begitu juga sumber daya alam yang nyaris tak ada. “Luas kota hanya 60,31 kilometer dengan penduduk yang sangat padat mencapai 459 ribu,a�? terangnya.

Namun penduduknya yang heterogen telah menyumbang kekayaan yang patut dibanggakan dalam bidang pariwisata. a�?Lebih dari 630 ribu wisatawan telah berwisata ke kota,a�? ujarnya.

Dalam segala keterbatasan sumber daya alam yang dimiliki kota, Ahyar tetap optimis. Kota tetap akan menjadi kawasan percontohan bagi daerah lain. Dengan progresivitas pembangunan. a�?Termasuk dengan PAD kita yang tertinggi di NTB,a�? tegasnya.

Pada tahun 2010, PAD Kota Mataram masih sebesar RP 42,5 miliar. Ahyar lalu mengaku diberi target tinggi oleh Dewan. Harus bisa menembus target Rp 100 miliar. “Tapi saya bisa melampaui dengan capaian sekitar Rp 250 miliar saat itu,a�? kenangnya.

Kini ia pun diberikan target untuk bisa mencapai pendapatan PAD sebesar Rp 360 miliar. Tapi Ahyar tetap optimis, target ini akan berhasil dilampaui. “Karena kita adalah daerah dengan signifikansi tertinggi dalam PAD,a�? ujarnya lalu diiringi tepuk tangan hadirin.

Di bidang infrastruktur jalan, ia menyebut 90 persen jalan di kota telah mencapai kemantapan. Ia juga berjanji akan terus melakukan peningkatan pelayanan, untuk menyejahterakan masyarakat kota.

“Kami juga sadar masih banyak kekurangan kami. Seperti dalam penanganan banjir, belum bisa maksimal,a�? jelasnya.

Semua itu tidak lepas dari posisi kota yang berada di kawasan hilir. Hampir semua sungai besar masuk ke dalam jantung Kota Mataram. Tapi ia memastikan ini bukan alasan pemkot akan berpangku tangan. Ia sudah menyiapkan rencana untuk membangun kolam retensi.

Sampai saat ini ia masih mengupayakan agar ada intervensi anggaran dari pemerintah provinsi dan pusat. Terutama dalam menuntaskan masalah banjir.

a�?Karena kita sendiri tidak mungkin membangun bendungan, sedangkan masih banyak program prioritas yang harus kami tangani juga,a�? tegasnya.

Begitu juga persoalan yang muncul oleh masalah eksternal. Seperti beberapa kali harus dipotong dana transfer pusat. Sehingga sangat berpengaruh terhadap rencana pembangunan daerah yang sudah matang. “Eh tahu-tahu kemarin dipotong lagi sekitar Rp 54 miliar, untungnya kita masih punya kemandirian anggaran yang masih baik,a�? ujarnya.

Di bidang pengentasan kemiskinan melalui skema penyerapan tenaga kerja, juga saat ini masih terbentur oleh persoalan belum diundangkanya Perda RTRW yang baru. Padahal Ahyar berharap perda yang baru bisa menjadi jaring yang lebih tangguh untuk menarik investasi lebih banyak masuk ke kota.

“Jadi belum direstusi pemerintah pusat, bagaimana kita mau terus tekan angka kemiskinan,a�? sesalnya.

Catatan lain yang terus menjadi perhatian seperti reformasi birokrasi, ketahanan pangan, dan lain-lain juga secara paralel terus dibehani. Walaupun hambatan begitu banyak, Ahyar tetap optimis, Mataram tetap akan menjadi daerah yang berkembang maju dan menyejahterakan warganya.

“Aiq meneng, tujung tilah, mpak bau,a�? ujarnya, menggambarkan filosofi yang ia gunakan dalam membangun Kota Mataram. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka