Ketik disini

Metropolis

Atresia Ani Serang Ratusan Bayi

Bagikan

Atresia Ani memang kurang populer. Penyakit kelainan anus pada bayi baru lahir itu, tidak banyak yang tahu. Bahkan ibu si bayi sendiri. Padahal, di Mataram, dalam setahun jumlah penderita penyakit ini, mencapai ratusan bayi. Berikut laporannya.

———————————-

SUNGGUH malang nasib pasien dr Sugianto Prajitno,Sp. BA. Lahir tanpa anus membuatnya harus dioperasi sejak bayi. Kini, setelah melakukan operasi tahap pertama, bayi tersebut harus dirawat di ruang NICU, RSUD Kota Mataram.

Hal itu bukan kasus kelainan pertama yang ditangani dr Sugianto Prajitno atau yang akrab dipanggil dr Sugi. Dalam catatan poli bedah anak RSUD Kota Mataram, pasien yang ditangani dr Sugi rata-rata sebanyak 20 kasus per bulan.

Jika dihitung dalam sekala tahunan, anak dengan penyakit kelainan yang dibawa sejak dalam kandungan tersebut jumlahnya ratusan. Itulah yang selama ini ditangani dr Sugi, dokter spesialis bedah anak satu-satunya di RSUD Kota Mataram.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

a�?PenyakitA� lahir tanpa anus itu dikenal dengan nama Malformasi Anorectal atau Atresia Ani,a�? terang dr Sugi kepada Lombok Post, kemarin, (13/12).

Selain atresia ani, penyakit yang sering ditangani dr Sugi adalah Hernia, atau bagian usus menonjol melalui bagian yang terbuka dari otot rongga perut. Selain itu, ada juga hidrokel atau cairan yang terdapat di kemaluan anak-anak, tumor, dan penyakit kelainan lainnya yang merupakan penyakit bawaan sejak lahir.

dr Sugi menerangkan, untuk penanganan penyakit atresia ani (bayi tanpa anus), ia akan melakukan operasi. Operasi dilakukan sebanyak tiga tahapan. Pertama, operasi pembuatan saluran pembuangan (anus) yang dibuat di perut bagian samping. Kemudian akan dilanjutkan dengan pembuatan anus diA� pantat. a�?Jika sudah normal, baru kita lakukan operasi penutupan di perut,a�? terang dr Sugi.

Saat ditemui di ruangan Poli Bedah Anak, dr Sugi terlihat sedang menangani pasien yang baru saja di operasi. Menurut dr Sugi, pasien yang memiliki kelainan (tanpa anus) seringkali tidak diketahui oleh orang tuanya. Ia mengatakan, beberapa dari orang tua pasien terkadang mengetahui kelainan pada anaknya setelah bayi berusia lebih dari empat hari.

a�?Biasanya orang tua pasien akan mengetahui anaknya memiliki kelainan setelah melihat perut bayinya kembung,a�? kata dr Sugi.

dr Sugi menambahkan, kelainan kalau bayinya lahir tanpa anus justru diketahui setelah adanya gejala tersebut. Dari kasus yang sering terjadi seperti itu, dr Sugi menegaskan, kalau orang tua semestinya bisa mengecek kondisi bayinya sejak dini.

Kelainan pada bayi merupakan kelainan yang tidak bisa dihindari. Namun pencegahan atau pun pengobatan sejak dini, menurut dr Sugi penting untuk diperhatikan. Melakukan pengobatan sejak dini akan memudahkan dr Sugi sendiri.

Adapun biaya untuk melakukan operasi tergolong murah. Untuk satu kali operasi, biayanya berkisar antara Rp 5 sampai 9 juta. a�?Sangat berbeda jauh bila dibandingkan dengan biaya di luar daerah. Itu pun kebanyakan pasien yang berobat gratis dengan BPJS,a�? terang dr Sugi.

Menurut dr Sugi, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan orang tua pada saat bayi baru lahir. Pertama, perhatikan anusnya. Kedua, apakah bayi menangis keras atau tidak. Ketiga, perhatikan kemaluannya (alat kelaminnya). Terakhir, perhatikan lipatan pada paha bagian kanan dan kirinya.

a�?Ada beberapa pasien yang diketahui memiliki kelainan setelah beberapa hari kelahirannya. Cara menangani sejak dini, ya dengan memperhatikan beberapa aspek tersebut,a�? tegas dr Sugi.

Berbicara tentang penanganan sejak dini, dr Hj Eka Nurhayati, Sp.OG, kepala Obgyn RSUD Kota Mataram mengatakan, untuk melihat kelainan pada bayi, orang tua bisa melakukan kontrol rutin pada saat kehamilan.

a�?Dari USG, kita bisa melihat adanya gejala kelainan pada bayi. Sehingga nantinya, dengan segera bisa ditangani,a�? terang dr Hj Eka.

Ia juga menjelaskan, jika pada saat USG terlihat adanya kelainan pada bayi, maka ia akan segera mengkonsultasikannya dengan dokter spesialis anak dan spesialis bedah anak.

Hal itu sangat berkaitan dengan apa yang dikatakan dr Sugi, bahwa dalam penanganan pasien di Rumah Sakit, pihaknya tidak lagi menjadi single fighter atau bekerja seorang diri, melainkan team work atau bekerja bersama-sama.

Bertanya tentang penyebab dari kelainan pada bayi sejak dalam kandungan, dr Hj Eka menjelaskan bahwa kelainan tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya adalah penyakit yang diderita ibu yang sedang mengandung.

a�?Penyakit diabetes yang diderita oleh ibu hamil, jika tidak diobati bisa menjadi penyebab kelainan pada bayinya,a�? terang dr Hj Eka.

Penyebab kelainan pada bayi lainnya bisa juga disebabkan oleh ibu hamil yang mengkonsusmi obat-obatan. Selanjutnya kelainan kromosom dari ayah atau ibunya. Atau kromosom yang tidak sempurna. Hal itu menyebabkan adanya kelainan pada pertumbuhan bayi. a�?Intinya, periksa secara rutin,a�? tegas dr Hj Eka.

Di luar penyakit Atresia Ani, ada juga beberapa penyakit yang tak jarang ditangani oleh dr Sugi. Salah satunya adalah penyakit tumor ganas pada anak. Untuk yang satu ini, RSUD Kota Mataram belum mampu menanganinya sendiri.

Biasanya, pasien dirujuk pasien ke rumah sakit lainnya. Seperti RS Sanglah di Bali. a�?Hal itu disebabkan karena kita belum memiliki fasilitas chemotherapy,a�? terang dr Sugi.

Mendengar hal tersebut, dr Emirald Isfihan, Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Kota Mataram mengatakan, pihaknya akan segera mengusahakan adanya fasilitas tersebut. a�?Untuk SDM kita sudah memilikinya. Tinggal sarananya saja. Semuanya tetap akan kita usahakan,a�? tutupnya. (tih/r5)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka