Ketik disini

Metropolis

Ambulans Berbunyi, Pengendara Gagal Paham

Bagikan

MATARAM-Mobil ambulans Public Servise Center (PSC) 119 milik RSUD Kota Mataram mengaung-ngaung dengan kecepatan tinggi. Sayangnya, banyak pengendara di Kota Mataram, bahkan NTB yang masih gagal paham. Mereka tak mau menepi meski kode darurat telah dibunyikan.

a�?Minggir pak, tolong minggir! Darurat pak,a�? kata M Roy Suteja, driver PSC 119 RSUD Kota.

Di sepanjang jalan, lewat mikropon khusus yang terpasang di mobil, Roy mengucapkan itu kepada pengendara yang belum juga mengerti akan bunyi sirine sebagai tanda a�?emergencya��.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Mobil mini bus Toyota Hiace itu tetap ia pacu dengan kencang. Kecepatan rata-rata 100 KM/jam. Kecepatannya bukan sembarang tancap, tapi penuh ketelitian. a�?Driver PSC 119 sudah terlatih,a�?A� terang Roy kepada Lombok Post.

Intinya keselamatan pasien. Itu harga mati bagi Roy. Ia yang telah memegang kepercayaan sebagai driver ambulansPSC 119 tak ingin dianggap sebagai pengendara ugal-ugalan. Tapi tetap tak bisa juga berjalan lambat.

Menurutnya, banyak masyarakat yang belum juga mengerti, bahwa bila lampu darurat menyala, itu tandanya ia memang sedang membawa pasien.

Kalau pun ada mobil yang segera minggir, maka dengan cepat Roy akan mengucapkan terima kasih kepada pengendara tersebut. Namun berbeda jika ada pengendara yang seolah-olah tak peduli pada sirine dan nyawa yang diselamatkannya. Untuk jenis itu, Roy berkali-kali akan meminta pengendara tersebut untuk minggir.

Kurangnya kesadaran masyarakat akan sinyal emergency mobil ambulance memang tak hanya dirasakan oleh Roy. Sehalil Hamzah, seorang perawat ambulans PSC 119 RSUD Kota Mataram juga mengungkapkan hal yang sama. a�?Apalagi mau mengerti tugas tak biasa yang setiap hari harus kita jalani,a�? keluh Halil.

Memang berat. Tahun 2016, ketika Mataram Emergency Medical Centre (MEMS) telah terintegrasi dengan PSC 119 yang berskala nasional, jumlah pasien yang harus ditangani terus meningkat. Menurut Halil, dalam satu bulan, jumlahnya bisa mencapai 40 sampai 50 panggilan darurat.

Tentu banyak. Melihat bagaimana PSC 119 telah ada aplikasi panggilannya yang mirip Gocar, atau Grab. Masyarakat bisa menginstallnya di handpone dan mengorder ambulans lewat aplikasi tersebut.

Respons time menjadi salah satu keunggulan PSC 119. Halil mengatakan, untuk pasien di Kota Mataram, ambulans harus tiba dalam rata-rata waktu 10-15 menit. Bisa jadi lebih bila pasien dalam keadaan kritis. Untuk hal itu, sudah tidak terhitung jumlah pasien yang telah diselamatkan Halil dan tim di PSC 119 RSUD Kota Mataram.

Selain itu, mobil ambulans PSC 119 RSUD Kota Mataram juga telah dilengkapi dengan peralatan medis yang lengkap. Sehingga penanganan pasien bisa segera ditangani di tempat. Halil menyebutnya sebagai IGD mini.

a�?Kami siap siaga dan respons time membantu masyarakat untuk menyelamatkan nyawa dengan penanganan cepat, tepat dan terlatih,a�? tegas Halil.

Sementara itu, berbicara tentang kesadaran masyarakat dalam memahami sirine di jalan raya, Wahyu Gribaldi, bagian Humas RSUD Kota Mataram mengatakan tidak juga ingin menyalahkan masyarakat. Meskipun ia sering juga pusing melihat para pengendara yang tidak mau minggir di saat pasien yang dibawa memang benar-benar dalam keadaan darurat. a�?Kemarin saja, kita harus bawa pasien yang dirujuk ke Singapura. Untuk mengejar pesawat, ambulance harus cepat,a�? terang Wahyu.

Menurutnya, masih banyaknya masyarakat yang belum sadar akan bunyi sirine ambulance merupakan akibat dari masih adanya pihak-pihak yang tidak menggunakan sirine yang dimiliki dengan bijak. Artinya, hal itu jugalah yang mempengaruhi kesadaran masyarakat.

Ia pun berharap, masyarakat bisa meningkatkan kesadarannya. Karena bagaimana pun yang dibawa adalah nyawa. Begitu juga dengan pihak-pihak yang mempunyai sirine di mobilnya. Harapannya, agar tidak memanfaatkan hal itu untuk bisa melaju dengan kencang di jalan raya tanpa ada apa-apa. a�?Seharusnya kita bisa lebih professional,a�? tutupnya. (tih/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka