Ketik disini

Metropolis

2018, Ekonomi NTB Bakal Bergairah

Bagikan

MATARAM-Bank Indonesia memperkirakan ekonomi NTB tahun depan akan terus tumbuh dan bergairah. Membaiknya perekonomian global, diyakini akan berdampak positif pada peningkatan perekonomian NTB. Meski begitu, tetap ada tantangan-tantangan yang harus diatasi oleh para pemangku kepentingan.

Bank Indonesia NTB memproyeksikan ekonomi NTB tahun 2018 akan bisa tumbuh pada rentang 5,3 – 5,6 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi non-tambang pada kisaran 5,8 a�� 6,2 persen.

Tahun ini sendiri, pertumbuhan ekonomi NTB diproyeksikan Bank Indonesia hanya terkontraksi pada kisaran 0,1 a�� 0,5% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan ekonomi non-tambang berada pada rentang 5,7a��6,1% (yoy) dan inflasi pada rentang 3,0 a�� 3,5% (yoy). Di batas bawah koridor target inflasi nasional sebesar 4+1%.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Keyakinan akan terus bergairahnya ekonomi NTB tersebut diungkapkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Prijono dalam Pertemuan Tahunan Bank Indoensia 2017 di Gedung Serbaguna Bank Indonesia Provinsi NTB, kemarin (21/12).

Prijono mengungkapkan, kunci bergairahnya Perekonomian NTB tahun depan terletak pada kemampuan memanfaatkan momentum perbaikan ekonomi. BI setidaknya mencatat tiga momentum yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong perekonomian NTB yang semakin kuat, inklusif, dan berkualitas.

Pertama, momentum perbaikan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi dunia yang membaik berpotensi mendorong peningkatan ekspor, baik ekspor barang maupun jasa.

a�?NTB berpeluang meningkatkan ekspor barang dari sektor pertanian maupun ekspor jasa di sektor pariwisata,a�? kata Prijono.

NTB juga punya momentum meningkatkan sektor pariwisata. Ini terlihat dari pola konsumsi yang berubah, dimana masyarakat saat ini cenderung meningkatkan konsumsinya terhadap kebutuhan rekreasi. Selain itu, branding pariwisata NTB sebagai destinasi wisata halal kelas dunia dirasa tepat untuk menarik atensi wisatawan negara muslim. Sudah terbukti, negara muslim memiliki tingkat spending wisata lebih tinggi dibandingkan wisatawan negara lain.

Momentum Kedua, yaitu era ekonomi digital. Kemajuan teknologi telah memengaruhi perilaku masyarakat dalam aktivitas ekonomi. Diungkapkan, tTrend ekonomi digital hendaknya pandang sebagai momentum positif untuk menciptakan efisiensi dalam perekonomian serta meningkatkan produktivitas di sektor rill.

BI memandang era ekonomi digital ini adalah saat yang tepat untuk mendorong UMKM NTB agar naik kelas melalui metode pemasaran yang terarah serta diiringi peningkatan kualitas produk UMKM.

a�?Tentu momentum ini harus dibarengi kebijakan pemerintah yang berkeadilan,a�? katanya.

Momentum ketiga, yaitu peningkatan investasi. Untuk pertama kalinya dalam 20 tahun terakhir, Indonesia mendapatkan kategori a�?Layak Investasia�? dari tiga lembaga pemeringkat rating investasi dunia. Selain itu peringkat kemudahan berusaha Indonesia pun meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Investasi kata Prijoni adalah kunci bagi perekonomian NTB untuk tumbuh kuat dan berkelanjutan. Hal ini tentunya akan menjadiA� momentum yang tepat bagi berbagai proyek infrastruktur NTB yang sedang dan akan dibangun, seperti KEK Mandalika, Pelabuhan Gili Mas, maupun Smelter pemurnian bijih logam.

Tantangan Ekonomi

Pun begitu, NTB tetap punya tantangan. Hal tersebut terdapat pada struktur ekspor NTB yang masih didominasi oleh komoditas sumber daya alam mentah. Hal tersebut berdampak pada rendahnya nilai tambah yang dihasilkan, serta laju ekspor yang tergantung terhadap fluktuasi harga komoditas.

Kondisi tersebut kata Prijono hendaknya perlu dijawab dengan meningkatkan nilai tambah komoditas. Upaya yang dapat dilakukan antara lain melalui hilirisasi komoditas sektor pertanian guna mendorong sektor agroindustri. Untuk itu dukungan infrastruktur, penerapan teknologi, dan peningkatan akses pembiayaan pada sektor ini perlu diperkuat.

Tantangan lain, terdapat pada peningkatan daya saing pariwisata. Riset Growth Strategy yang dilakukan Bank Indonesia tahun 2017 menunjukan tantangan pengembangan pariwisata terkait peningkatan kualitas fasilitas umum, kondusivitas keamanan lingkungan, serta kondisi kebersihan di destinasi wisata.

Arus urbanisasi juga tak bisa disepelekan. Dalam lima tahun terakhir, masyarakat NTB yang bekerja di pedesaan terus mengalami penurunan. Sebaliknya, jumlah masyarakat yang bekerja di perkotaan terus meningkat. Arus urbanisasi apabila tidak diantisipasi dengan baik berpotensi meningkatkan ketimpangan pendapatan dan menghambat upaya pengentasan kemiskinan.

a�?Penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih merata, akan mampu menekan arus urbanisasi masyarakat kedepannya,a�? tandas Prijono.

Di sisi lain, tantangan ada pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tingginya tingkat partisipasi angkatan kerja yang dimiliki NTB, masih harus diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM. Saat ini, ketenagakerjaan NTB didominasi tenaga kerja dengan tingkat pendidikan SMP kebawah. Sehingga berdampak pada produktivitas yang rendah.

a�?Peningkatan kualitas pendidikan menjadi modal penting agar SDM lokal mampu bersaingdi era ekonomi digital ini,a�? tandas Prijono.

Sementara itu Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi yang hadir dalam pertemuan tahunan tersebut tak menampik jika tren pertumbuhan ekonomi NTB yang selalu di atas rata-rata nasional menjadi tantangan besar.

Dia menegaskan, tantangan tersebut berlaku bagi semua pemangku kepentingan sehingga bisa terus bekerja keras mempertahankan pertumbuhan tersebut.

Secara khusus TGB juga berbicara terkait ekonomi NTB dengan komoditas tambang di dalamnya. Orang nomor satu di NTB ini mengungkapkan, tanpa tambang, NTB saat ini tetap bisa tumbuh di atas rata-rata nasional. (nur/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka