Ketik disini

Headline Metropolis

Meneropong NTB 2018 : BYE-BYE MANUFAKTUR, WELCOME LEISURE

Bagikan

NTB bakal menatap tahun 2018 yang akan datang esok tengah malam dengan optimisme. Sektor manufaktur (perdagangan) yang selama ini banyak menopang ekonomi NTB dinilai akan bergeser ke sektor leisure (pariwisata). Bisnis-bisnis yang bersentuhan dengan pariwisata dinilai akan meroket tahun depan. Hanya saja, sebagaimana sunnatullah, di mana ada harapan, tetaplah ada tantangan. Itu mengapa, pemerintah tak boleh lengah, apalagi berpangku tangan.

——————————-

DALAM TIGA tahun terkahir, kecemerlangan ekonomi NTB menjadi buah bibir. Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan, baik saat berkunjung ke NTB maupun saat berbicara dalam forum-forum ekonomi di tingkat nasional, pun tak ragu melayangkan ujian bagi NTB.

Ekonomi NTB bahkan tercatat pernah tumbuh hingga angka 13,06 persen. Menjadikan NTB juara satu se-Indonesia dalam hal pencapaian pertumbuhan ekonomi.

Dan memasuki tahun 2018 yang merupakan tahun Anjing Bumi bagi warga Tionghoa, tren pertumbuhan ekonomi tersebut akan terus berlanjut. Hanya saja, pemicunya diyakini akan beralih.

a�?Bakal ada pergeseran,a�? kata Doktor Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram M Firmansyah pada koran ini.

Pergeseran yang dia maksud yakni sektor manufaktur atau perdagangan yang beralih kearah leisure (wisata). Meski begitu, NTB ditegaskannya tidak perlu khawatir dengan perkembangan ekonomi di 2018.

a�?NTB sudah punya landasan ekonomi yang bagus,a�? katanya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Landasan yang dimaksud yakni banyak pembangunan kawasan-kawasan strategis. Mulai dari Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Kawasan Samota (Teluk Saleh, Moyo, Tambora) ataupun rencana pembangunan Global Hub di Lombok Utara. Kawasan- kawasan kata Firmansyah yang akan menggairahkan perekonomian NTB pada 2018. Dan tentu, momentum tersebut bisa diraih jika semua fasilitas sudah mulai digarap.

a�?Bukan hanya fisik, namun juga non fisik,a�? katanya.

Kolega Firmansyah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unram Ihsan Rois juga punya prediksi serupa. Dia meyakini betapa sektor pariwisata tahun depan memang akan menggeliat. Tumbuh pesat. Dan itu akan punya daya ungkit yang besar bagi pertumbuhan ekonomi NTB.

a�?Sektor jasa dan pariwisata akan menjadi penopang ekonomi NTB di tahun depan dan masa-masa yang akan datang,a�? katanya.

Banyaknya event nasional bahkan internasional di NTB adalah petanda baik bagi menggeliatnya sektor pariwisata di daerah ini. Sektor pariwisata yang akan menjadi lokomitif ekonomi juga akan ditopang oleh kinerja sektor lain yang membaik.

Tumbuhnya sektor pariwisata juga menjadikan sektor investasi di NTB akan menggeliat. Investasi sendiri adalah salah satu instrumen untuk menyiapkan lapangan kerja. Yang tentunya bertali temali dengan tetap kian sedikitnya angka pengangguran, kemudian menjadikan terjaganya daya beli masyarakat, sehingga momentum meraih pertumbuhan ekonomi dari sektor konsumsi bisa terus terpelihara.

Ihsan Rois juga memperkirakan, harga komoditas ekspor dan import tahun depan juga akan membaik. Belum lagi adanya belanja politik karena tahun 2018 merupakan tahun politik yang bisa menggenjot ekonomi di NTB.

Kondisi global yang juga membaik, diperkirakan akan menjadi daya ungkit terus membaiknya ekonomi NTB. Dalam benak Firmansyah, memang ada kemungkinan terburuk pada 2018. Misalnya kondusivitas NTB yang tercederai mengingat NTB akan memasuki tahun politik dengan Pemilihan Gubernur, pemilihan bupati Lombok Barat, Bupati Lombok Timur dan Wali Kota Bima, sehingga bisa berdampak besar pada sektor pariwisata. Namun, skenario kata Firman nyaris tak mungkin terjadi.

Skenario buruh lain adalah inflasi yang gila-gilaan di NTB, yang akhirnya berdampak besar pada kenaikan harga barang yang berujung pada melemahnya daya beli. Dan lagi-lagi, ramalan hal tersebut saat adalah hal yang tak mungkin. Faktanya, inflasi NTB terbilang masih normal dan berada pada kisaran 0,24 persen. Itu menandakan daya beli masyarakat masih terjaga.

Ia mengatakan, ada beberapa analisa ekonomiA� yang mengatakan daya beli masyarakat saat ini turun. Sebagian lagi menyatakan tidak, namun masyarakat sedang dalam rangka urgensi. Artinya menyimpan uang untuk keperluan-keperluan tertentu.

Skenario buruk lain menurut Firman bisa timbul manakala ada kegagalan para pelaku usaha di NTB membaca keinginan pasar. Mengingat apa yang disebut sebagai generasi milenia. Generasi yang sangat sangat memengaruhi gaya hidup dan juga bisnis. Terlebih lagi saat ini transaksi lebih berbasis internet.

a�?Mereka bisa internetan selama 6-7 jam sehari,a�? kata Firmansyah. Di sisi lain, Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) juga akan tetap menopang ekonomi NTB. Asal pemerintah terus memperkuat kapasitas mereka.

Optimisme Bank Indonesia

Optimisme para pengamat ini juga senada dengan prediksi Bank Indonesia. Bank sentral memperkirakan ekonomi NTB tahun depan akan terus tumbuh dan bergairah. Membaiknya perekonomian global, diyakini akan berdampak positif pada peningkatan perekonomian NTB.

Bank Indonesia NTB memproyeksikan ekonomi NTB tahun 2018 akan bisa tumbuh pada rentang 5,3 – 5,6 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi non-tambang pada kisaran 5,8 a�� 6,2 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Prijono mengungkapkan, kunci bergairahnya Perekonomian NTB tahun depan terletak pada kemampuan memanfaatkan momentum perbaikan ekonomi. BI setidaknya mencatat tiga momentum yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong perekonomian NTB yang semakin kuat, inklusif, dan berkualitas.

Pertama, momentum perbaikan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi dunia yang membaik berpotensi mendorong peningkatan ekspor, baik ekspor barang maupun jasa.

a�?NTB berpeluang meningkatkan ekspor barang dari sektor pertanian maupun ekspor jasa di sektor pariwisata,a�? kata Prijono.

NTB juga punya momentum meningkatkan sektor pariwisata. Ini terlihat dari pola konsumsi yang berubah, dimana masyarakat saat ini cenderung meningkatkan konsumsinya terhadap kebutuhan rekreasi. Selain itu, branding pariwisata NTB sebagai destinasi wisata halal kelas dunia dirasa tepat untuk menarik atensi wisatawan negara muslim. Sudah terbukti, negara muslim memiliki tingkat spending wisata lebih tinggi dibandingkan wisatawan negara lain.

Momentum Kedua, yaitu era ekonomi digital. Kemajuan teknologi telah memengaruhi perilaku masyarakat dalam aktivitas ekonomi. Diungkapkan, tTrend ekonomi digital hendaknya pandang sebagai momentum positif untuk menciptakan efisiensi dalam perekonomian serta meningkatkan produktivitas di sektor rill.

BI memandang era ekonomi digital ini adalah saat yang tepat untuk mendorong UMKM NTB agar naik kelas melalui metode pemasaran yang terarah serta diiringi peningkatan kualitas produk UMKM.

a�?Tentu momentum ini harus dibarengi kebijakan pemerintah yang berkeadilan,a�? katanya.

Momentum ketiga, yaitu peningkatan investasi. Untuk pertama kalinya dalam 20 tahun terakhir, Indonesia mendapatkan kategori a�?Layak Investasia�? dari tiga lembaga pemeringkat rating investasi dunia. Selain itu peringkat kemudahan berusaha Indonesia pun meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Investasi kata Prijoni adalah kunci bagi perekonomian NTB untuk tumbuh kuat dan berkelanjutan. Hal ini tentunya akan menjadiA� momentum yang tepat bagi berbagai proyek infrastruktur NTB yang sedang dan akan dibangun, seperti KEK Mandalika, Pelabuhan Gili Mas, maupun Smelter pemurnian bijih logam oleh PTNNT di Desa Benete, Sumbawa Barat.

Pelaku Usaha Berbenah

Bergairahnya ekonomi itu pun sudah ditangkap para pelaku pariwisata. Mereka juga berkemas. General Manager Lombok Epicentrum Mall Salim Abdad kepada Lombok Post mengungkapkan betapa pihaknya kini tengah bersiap menyambut 2018 dengan optimistis.

Diakuinya tumbuhnya sektor pariwisata telah berimbas pada angka kunjungan masyarakat di pusat-pusat perbelanjaan yang kemudian melakukan transaksi di sana. Manajemen LEM pun menyiapkan event-event yang juga bagian dari upaya mendatangkan wisatawan ke NTB.

a�?Tahun 2018, kami terus menyiapkan terobosan-terobosan,a�? katanya.

Antara lain akan digelar pameran-pameran unik dengan melibatkan event organizer di NTB, maupun mendatangkan investor pameran dari luar NTB.

Sebagai perusahaan penyedia jasa bagi para pelaku usaha, Salim mengaku terus meberikan semangat pada semua tenant. Semangat itu pun disambut baik oleh semua tenant yang ada. Hal ini yang membuat LEM optimistis semua tenant masih memiliki market yang bagus di tahun depan. Terlebih lagi dengan adanya kombinasi buyer di LEM yang dinilai unik. Di antaranya kombinasi buyer dari lokal, mancanegara dan nasional.

Optimisme itu menjadikan Salim begitu yakin bahwa sejumlah tahun depan, tak akan ada space yang kosong di LEM. Seluruhnya terisi oleh para tenant. Soal ada tenant yang datang lalu pergi, pihaknya pun lebih selektif memilih tenan yang akan bergabung. LEM kata Salim sudah membagikan selebaran angket kepada par apelanggan. Isinya adalah tenant apa yang mereka harapkan ada di LEM. Tenan hasil survei terbanyak yang kemudian akan bergabung di LEM.

Salah satu peritel besar Matahari Departemen Store juga tak kalah optimis menatap 2018. Matahari bahkan sudah mempersiapkan stragtegi jitu. Ritel ini berencana akan lebih fokus pada ceruk ekonomi middle up.

Store Manager Matahari Departement Store Lombok Epicentrum Mall I Putu Juniartha mengungkapkan, sebagai peritel konvensional di tengah ingar bingar persaingan ketat sesama ritel, ditegaskannya memang ada juga tantangan baru. Yakni hadirnya bisnis model e-commerce. Namun hal tersebut tidak membuat pihaknya khawatir. Terlebih melihat antusiasme masyarakat Mataram bahkan NTB. Itu masih membuat pihaknyasangat optimis mempertahankan pasar di 2018.

Putu mengakui adanya perubahan daya beli namun bukanlah hal negatif. Orang yang datang berbelanja ke Matahari memang berkurang. Namun kuantitas daya beli perorangan justru meningkat. Satu orang tidak hanya datang berbelanja satu jenis produk, bahkan bisa lebih banyak lagi.

a�?Ini hal yang positif, jadi tidak perlu khawatir,a�? sambungnya.

Tolok ukur yang membuat Matahari optimistis juga yakni poin evaluasi ekonomi 2018 secara nasional. Ia mengaku sempat membaca terkait hal tersebut. Ritel masih selalu mendapat ceruk pasar. Meskipun online sudah mulai berkembang, namun ia memastikan Matahari masih bisa menguasai pasar. Secara evaluasi nasional, online hanya berdampak sebesar 2 persen terhadap ritel konvensional.

a�?Di Lombok belum saya temukan evaluasinya, tapi saya rasa tidak jauh-jauhlah,a�? jelasnya.

Dihadapkan pada Tantangan

Sederet kabar gembira tersebut tentulah datang pula beriringan dengan tantangan-tantangan untuk NTB. Tantangan inilah yang harus dijawab oleh pemerintah daerah dengan menjaga daerah ini tetap kondusif.

Teorinya jelas. Tidak akan ada pertumbuhan ekonomi tanpa adanya stabilitas.A� Seperti inflasi, pengangguran, ketimpangan lainnya karena ini faktor makro ekonomi yang harus diselesaikan. a�?Jadi stabilitas ekonomi ini penting, kalau tidak ada stabilitas ini tidak akan ada investor yang datang,a�? kata Ekonomi Universitas Mataram Iwan Harsono.

Momentum perubahan leadership di NTB kata Iwan adalah keniscayaan. Dan hal tersebut bisa bedampak positif dan negatif. Misalnya di sektor investasi. Selama ini investasi di NTB meningkat secara normal saja. a�?Jadi ada tren biasa saja bahkan tidak ada yang istimewa,a�? tambahnya.

Menurutnya perhatian presiden terhadap KEK Mandalika oleh pemimpin baru harus benar-benar dimaksimalkan. Tantangan lainnya yang harus diperhatikan harus ada pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Karena NTB selama ini hanya mampu menurunkan 4 persen penurunan kemiskinan.

Kemiskinan NTB masih di kisaran 16,8 persen. Sedangkan RPJMD NTB menargetkan penurunan kemiskinan hingga angka 13 persen. a�?Selama ini penurunan setiap tahunnya hanya 0,4 persen. Padahal, melalui kontrak kerja pemerintah daerah janji bisa menurunkan kemiskinan hingga 2 persen setahun.

a�?Jadi ini sangat jauh dari target yang ditentukan,a�? tambahnya.

Menurutnya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas itu salah satu indikatornya bisa menurunkan kemiskinan. Karena sesi pembangunan ekonomi itu dilihat dari seberapa banyak orang miskin yang bisa dientaskan. Selain itu ada juga yang harus diperhatikan pemerintah daerah momentum untuk lebih meningkatkan pemerataan hasil pembangunan.

a�?Karena secara umum pemerataan semua segmen harus menjadi perhatian,a�? terangnya.

NTB juga perlu peningkatan daya saing agar menjadi perhatian pemerintah tahun 2018. Selama ini peningkatan daya saing hanya terjadi diatas kertas, dan pidato. Padahal peningkatan daya saing ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Industri di NTB tidak mampu dan tidak laku di pasaran karena kalah daya saing dari produksi di daerah lainnya.

a�?Penekanan pada harga dan penggunaan teknologi harus diperhatikan,a�? tambahnya.

Tantangan lain juga diungkapkan Bank Indonesia. Wahyu Prijono mengungkapkan tantangan tersebut terdapat pada struktur ekspor NTB yang masih didominasi oleh komoditas sumber daya alam mentah. Hal tersebut berdampak pada rendahnya nilai tambah yang dihasilkan, serta laju ekspor yang tergantung terhadap fluktuasi harga komoditas.

Kondisi tersebut kata Prijono hendaknya perlu dijawab dengan meningkatkan nilai tambah komoditas. Upaya yang dapat dilakukan antara lain melalui hilirisasi komoditas sektor pertanian guna mendorong sektor agroindustri. Untuk itu dukungan infrastruktur, penerapan teknologi, dan peningkatan akses pembiayaan pada sektor ini perlu diperkuat.

Tantangan lain, terdapat pada peningkatan daya saing pariwisata. Riset Growth Strategy yang dilakukan Bank Indonesia tahun 2017 menunjukan tantangan pengembangan pariwisata terkait peningkatan kualitas fasilitas umum, kondusivitas keamanan lingkungan, serta kondisi kebersihan di destinasi wisata.

Arus urbanisasi juga tak bisa disepelekan. Dalam lima tahun terakhir, masyarakat NTB yang bekerja di pedesaan terus mengalami penurunan. Sebaliknya, jumlah masyarakat yang bekerja di perkotaan terus meningkat. Arus urbanisasi apabila tidak diantisipasi dengan baik berpotensi meningkatkan ketimpangan pendapatan dan menghambat upaya pengentasan kemiskinan.

a�?Penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih merata, akan mampu menekan arus urbanisasi masyarakat kedepannya,a�? tandas Prijono.

Di sisi lain, tantangan ada pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tingginya tingkat partisipasi angkatan kerja yang dimiliki NTB, masih harus diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM. Saat ini, ketenagakerjaan NTB didominasi tenaga kerja dengan tingkat pendidikan SMP kebawah. Sehingga berdampak pada produktivitas yang rendah.

a�?Peningkatan kualitas pendidikan menjadi modal penting agar SDM lokal mampu bersaingdi era ekonomi digital ini,a�? tandas Prijono.

Di tempat terpisah, Pimpinan BNI KCU Mataram Akhmad Indra mengakui betapa sektor pariwiasta telah menopang pertumbuhan ekonomi NTB. Pun begitu, sektor lain yang turut memberi peran adalah sektor properti.

Program sejuta rumah yang digagas Pemerintah Pusat dengan wujud hadirnya rumah murah kata dia telah menggairahkan sektor properti di NTB. a�?Harus dicatat, sektor perumahan sangat besar pengaruhnya terhadap sektor lainnya,a�? tuturnya.

Sementara itu Kepala OJK NTB Farid Faletehan melihat pengembangan ekonomi NTB harus terus didorong dengan menggenjot sektor pariwisata. a�?Sektor pariwisata yang terus tumbuh dari tahun ke tahun sangat tepat menjadi andalan dalam menopang perekonomian daerah,a�? jelasnya.

Menurutnya kebijakan mendorong sektor pariwisata ini sejalan dengan agenda prioritas pemerintah. Yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Dia pun mengungkap adanya tantangan lain. Tingkat gini ratio penduduk NTB masih lebih rendah yakni sebesar 0,371. Sehingga menggenjot sektor pariwisata bisa menjadi modal yang sangat baik bagi peningkatan kemakmuran masyarakat menengah ke bawah.

Move On dari Tambang

Sementara Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisi Statistik, Badan Pusat Statistik (BPS) NTB isa Ansori mengungkapkan, NTB dihadapkan pada tantangan lepas dari bayang-bayang tambang. Selama ini kata dia, sektor tambang yang dikelola PT Amman Mineral Nusa Tenggara, menguasai pertumbuhan ekonomi NTB hingga 21 persen. Jika aktivitas perusahaan tersebut goyah, maka angka pertumbuhan ekonomi NTB akan terpengaruh.

a�?Saat ini mereka sedang minus, sehingga angka pertumbuhan ekonomi NTB juga minus,a�? kata Isa.

Jika dalam pertumbuhan ekomoni menghilangkan PT AMNT, sebenarnya sektor lain tengah tumbuh. Pergerakan ekonomi pertanian misalnya saat ini tengah bergerak positif. Tapi karena produksi AMNT tengah berkurang, maka tren pertumbuhan ekonomi NTB sedang turun.

Maka tantangan ke depan, adalah bagaimana NTB melepas ketergantungan pada aktivitas AMNT. Pemprov harus bekerja lebih keras untuk menggenjot pertumbuhan sektor lain agar bisa mendongkak pertumbuhan ekonomi.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) NTB Ridwan Syah mengatakan, pemprov NTB tahun depan akan punya anggaran Rp 5,25 triliun lebih. Jika menghitung anggaran dari pemerintah pusat untuk seluruh instansi di NTB baik pemda dan pemerintah pusat, sedikitnya akan ada 27 triliun dana beredar di NTB.

Ridwan mengatakan, di samping sektor swasta, belanja pemerintah menurutnya masih dominan dalam menggerakkan perekonomian NTB. Apalagi di 2018 sistem padat karya akan diterapkan di desa-desa. Pembangunan berbasis desa memberikan harapan akan semakin membaiknya berkualitasnya pertumbuhan ekonomi. Ada 995 desa se-NTB akan menggelar padat karya yang memberdayakan tenaga kerja lokal. Hal itu akan membuat perekonomian di level desaA� bergerak cepat.

a�?Jika seluruh dana desa dilaksanakan dengan padat karya, maka dampaknya akan sangat luar biasa,a�? katanya.

Apalagi Pemprov NTB juga berkomitmen untuk membelanjakan dana perbaikan rumah tidak layak huni menggunakan sistem padat karya. Itu akan menambah daya gedor perekonomian desa. Dengan catatan padat karya harus menggunakan sumber daya yang ada di desa. Pemprov saat ini sedang mempersiapkan teknis pelaksanaan padat karya tersebut. Meski tidak sampai Rp 60 miliar, mungkin setengahnya atau Rp 30 miliar dialokasikan untuk padat karya perbaikan rumah tidak layak huni.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTB H Muhammad Amin juga tak menampik bahwa ekonomi NTB masih ditopang sektor jasa dan pariwisata. Beberapa proyek strategis seperti Mandalik Resort sudah mulai beroperasi, sehingga bisa memberikan stimulus untuk pertumbuhan ekonomi.

a�?Pariwisata memberikan multi efek bagi sektor lain,a�? ujarnya.

Pemerintah dalam hal ini kata dia, pasti akan berupaya untuk menjaga pertumbuhan tetap positif. Salah satunya dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menggairahkan sektor ekonomi riil. Memberikan kemudahan bagi para investor juga menjadi salah satu strategi agar dunia usaha di NTB semakin bergairah.

Meski demikian, menurut Amin pertumbuhan ekonomi juga sangat tergantung dari kebijakan pusat. Misalnya jika pusat menaikkan harga BBM atau tarif dasar listrik. Tentu dampaknya akan besar ke daerah. Inflasi akan tinggi sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi. a�?Hal-hal semacam ini akan kita antisipasi ke depan,a�? kata politisi Nasdem itu. (fer/nur/ili/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka