Ketik disini

Metropolis

Penayangan Perdana Film Obituary, 30 Menit Dalam Keberagamaan

Bagikan

GIRI MENANGa��Film Obituary besutan Trish Pradana akhirnya tayang perdana dengan gemilang. Setelah dinanti-nanti para penggemarnya, film karya filmmaker muda Lombok yang berdurasi sekitar 30 menit tersebut mampu membuat penonton merasakan keindahan hidup dalam keberagaman.

Cerita yang segar dan otentik membuat film tersebut menarik perhatian para pecinta film. Hal itu terlihat dari antusiasme penonton yang membeludak untuk menyaksikan penayangan pedananya di Gedung HAKKA, Gerimak, Lombok Barat, tadi malam (29/12). Film baru diputar pukul 19.00 Wita. Namun, para penonton telah memadati gedung pemutaran sebelum petang.

Trish Pradana memang telah berhasil membuat kesan tersendiri bagi penggemar film di Lombok. Bagi penonton yang hadir, film Obituary meninggalkan kesan tersendiri. Pun bagi tim produksi film Obituary sendiri.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Bagaimana tidak, ending yang tak terduga membawa penonton sesegukan dan berurai air mata. Cerita yang sederhana dikemas apik sehingga membuat penonton merasa adegan tersebut dekat dengan kehidupan sehari hari mereka.

“Sangat mengedukasi. Pesan Bhineka Tunggal Ikanya sampai,” komentar Hamdani, salah seorang penonton.

Hamdani yang juga sering membuat film pendek memberi pujian kepada sang sutradara. Dari kualitas gambar hingga ide cerita, Hamdani memberikan seluruh jempolnya sebagai bentuk pujian lebih untuk tim produksi.

“Kerukunan antarumat beragama sangat kental di film ini. Nontonnya juga enak. Alur ceritanya sangat clear,” terangnya.

Film ini bercerita tentang Pak Kasim (Ari Garmono) yang menjadi penjaga rumah duka untuk masyarakat Tionghoa. Kasim hidup dari pekerjaan mengurus kematian warga Tionghoa tersebut. “Saya doakan ada yang mati, agar kamu bisa menyambung hidup,” begitu sebuah dialog dalam film Obituary.

Selain itu, Obituary juga menampilkan kebosanan dari hidup Kasim. Kebosanan Kasim dalam kesehariannya ditampilkan begitu apik sehingga penonton mampu merasakannya. Tak hanya fokus pada kedalaman cerita, film ini juga menyajikan humor. Karenanya, beberapa kali penonton tertawa.

a�?Semoga dengan tayangnya film ini, kecintaan kita pada negeri ini semakin bertambah,” ungkap Trish dalam sambutannya usai pemutaran film.

Bagi yang belum menonton, sebaiknya bersiap-siap. Pasti kebagian. Sebab, Obituary akan terus berlanjut diputarkan. Tak hanya di Lombok, dan Indonesia. Tapi kabarnya, Obituary akan dibawa ke beberapa festival film di sejumlah negara. Targetnya empat festival film besar. Cannes Festival, Sundance Film Festival, Toronto dan International Film Festival. Itu festival film bergengsi di dunia.

“Film ini akan kita ikutkan dalam kategori fiksi bahasa asing, dan saya optimis karena ini film terbaik saya,” ungkap Trish di hadapan penonton.

Mendengar itu, tepuk tangan penonton membahana. Film Obituary memang bukan merupakan A� film pertama Trish. Sebelumnya, ia juga pernah membuat beberapa film indie lainnya. Di antaranya, Denune, Lombok I love You, Diam, Edelweis, Kan Aku Follower Setiamu, Kecepret, dan yang terakhir Bully Billa.

a�?Ada juga the day,a�? kata Trish menambahkan daftar film yang telah diciptakannya secara indie.

Menurut Trish, ia membuat film karena dengan itu, sebuah impian yang tak bisa menjadi nyata di dunia, bisa ditemukan di dalam film. Di akhir sambutannya, Trish tak lupa mengucapkan ribuan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung suksesnya produksi film Obituary. (van/tih/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka