Ketik disini

Kriminal

Polda Usut Dana Bimtek DPRD KLU

Bagikan

MATARAM-Polda NTB mengusut penggunaan dana Bimbingan Teknis (Bimtek) tahun anggaran 2016 diduga fiktif, di DPRD Kabupaten Lombok Utara (KLU). Penyelidikan tersebut dimulai dengan meminta klarifikasi sejumlah mantan pejabat dari sekretariat dewan (Setwan) KLU, kemarin (3/1).

Terdapat lima orang mantan pejabat yang dipanggil polisi. Antara lain, mantan Kabag Umum Setwan Jumarep; mantan Kabag Keuangan Muhammad Najib; mantan Kasubbag Perencanaan Ridwan. Dua orang lainnya, yakni Datu dan Rosidi.

Kelimanya menjalani klarifikasi di ruang Subdit III Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda NTB. Ditemui di sela klarifikasinya, Jumarep membenarkan pemanggilannya terkait dana Bimtek di DPRD KLU.

a�?Iya soal dana Bimtek. Diduga ada penyalahgunaan dari laporan masyarakat,a�? kata Jumarep, kemarin.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Ketika anggaran tersebut dilaksanakan, Jumarep menjabat sebagai Kabag Umum di Setwan DPRD KLU. a�?Tapi saya cuma sampai Agustus saja menjabat di sana, setelah itu dipindah jadi guru,a�? ujar dia.

Selama menjabat Kabag Umum di 2016, tercatat ada dua kali pelaksanaan bimtek yang dilakukan. Pelaksanaan tersebut, pun dinilai Jumarep berjalan dengan normal. Tidak ada penyalahgunaan seperti yang dilaporkan masyarakat.

Dia menjelaskan, anggaran pelaksaan bimtek sudah sangat jelas. Semuanya terbagi dengan rinci untuk pimpinan DPRD, anggota DPRD, pejabat eselon II dalam hal ini Sekretaris Dewan, kepala bagian sebagai eselon III, hingga eselon IV di Setwan KLU.

Untuk dana bimtek 2016, digelontorkan anggaran sekitar Rp 1,7 miliar. Jumlah tersebut didistribusikan untuk unsur dewan dan aparatur sipil negara (ASN).

Jika dirincikan, terdapat kontribusi kepada lembaga penyelenggara bimtek senilai Rp 4,5 juta untuk empat kali pelaksanaan. Nilai tersebut digunakan untuk pembelian tiket dan kontribusi lembaga penyelenggara.

a�?Itu langsung dikelola bagian keuangan,a�? beber dia.

Selain itu, terdapat pula uang harian sebesar Rp 1 juta per hari. Uang tersebut diberikan kepada anggota dewan dan pendamping yang mengikut bimtek. Hanya saja, jatah uang harian hanya diberikan untuk dua hari saja.

a�?Pelaksanaan bimtek memang tiga hari. Tapi uang harian untuk dua hari, karena satu harinya itu, makan minum ditanggung penyelenggara bimtek,a�? kata Jumarep.

Ada juga uang transport dari Tanjung ke Lombok International Airport sebesar Rp 340 ribu dan dari Bandara Soekarno Hatta menuju lokasi bimtek senilai Rp 600 ribu. a�?Itu biaya tranport pulang pergi per orangnya. Jadi per pelaksanaan bimtek, pendamping yang eselon tiga menerima uang Rp 2.940.000,a�? jelas dia.

Disinggung mengenai adanya dugaan alokasi fiktif dalam pelaksanaan, Jumarep membantahnya. Kata dia, tidak ada penyalahgunaan dalam pengelolaan anggaran bimtek tersebut. Sebab, semuanya terdistribusi sesuai rincian dalam dokumen pelaksanaan anggaran.

a�?Apa yang bisa difiktifkan? Tidak ada itu. Sudah ada rincian ke dewan dan pendamping. ASN itu sebagai pendampingnya. Kalau selain ASN, itu tidak ada. Sepengetahuan saya tidak pernah selain ASN (yang ikut bimtek),a�? ujarnya.

Bagaimana dengan pertanggungjawaban uang harian? Kata Jumarep, hal tersebut bisa dibuktikan dari kuitansi penerimaan yang bersangkutan. Hanya saja, rincian penggunaannya tidak diatur dalam laporan. a�?Memang tidak ada aturan seperti itu, mereka beli dan makan minum apa, tidak diatur. Yang ada hanya kuitansi sudah menerima uang harian,a�? aku Jumarep.

Lebih lanjut, ada juga uang sebesar Rp 200 ribu yang dinilai sebagai kelebihan. Namun, kata dia, uang tersebut dimanfaatkan untuk peserta yang akses transportasinya berada di luar Tanjung. a�?Misal orang dari Bayan, mau ke Tanjung, jadi diberikan uang tersebut. Itu dianggap kelebihan, tapi saya katakan itu peruntukannya jelas,a�? tandas dia.

Sementara itu, pihak dari Polda NTB belum dapat memberikan keterangan apapun terkait penyelidikan kasus ini. (dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka