Ketik disini

Headline Kriminal

Kisah Perempuan Dalam Lingkaran Kejahatan : Ikut Mencuri Gara-gara Suami

Bagikan

Ekploitasi terhadap perempuan dalam aksi kriminallitas kembali terjadi. Pelakunya bahkan dari lingkaran terdekat, yakni suaminya sendiri. Di bawah ancaman dan intimidasi, sang istri dengan terpaksa menuruti dan terlibat kejahatan yang digagas pasangannya.

== == == == == == =

Rabu (3/1) lalu, dari ruang penyidik Reskrim Polsek Narmada keluar lima laki-laki mengenakan baju tahanan berwarna oranye. Mereka merupakan terduga anggota jaringan pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor)  yang ditangkap tim gabungan dari Polres Mataram dan Polsek Narmada.

Di antara lelaki itu, terselip satu perempuan berambut panjang. Sebut saja namanya Sum. Umurnya belum ada seperempat abad. Dia terlihat memapah seorang laki-laki berambut pirang, yang berinisial Ar. Jalannya memang terlihat pincang, akibat sebutir timah panas yang ditembakkan polisi saat upaya penangkapannya.

Belakangan, dari keterangan polisi, Sum dan Ar  ternyata merupakan pasangan suami istri (pasutri). Dari modus yang dibeberkan, Ar  diduga kuat sebagai otak dalam tindak pidana curamor ini.

Keduanya tertangkap setelah melakukan aksi curanmor dan penjambretan  di wilayah hukum Polres Mataram. Sedikitnya, ada enam laporan polisi di Polsek Narmada terkait aksi kriminal pasutri ini.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Kejahatan  dilakukan dengan berjejaring. Setelah penangkapan Ar dan Sum pada Selasa (2/1) lalu, satu persatu polisi menangkap tujuh orang warga yang diduga sebagai bagian dari penadah hasil kejahatan Ar dan Sum. Dari mereka, polisi  mendapat 13 unit motor yang diduga sebagai hasil kejahatan.

Keterlibatan Sum dalam aksi kejahatan curanmor ini termasuk merupakan modus baru di Mataram. Dia yang ditemui Lombok Post usai pengungkapan tersebut, membeberkan cerita awal hingga terlibat dalam kejahatan yang dilakukan Ar suaminya sendiri.

Perkenalannya dengan Ar dimulai usai bulan puasa tahun lalu. Saat itu, Sum sama sekali tidak mengetahui apa pekerjaan dari Ar. Meski demikian, hubungan mereka semakin intens. Ini ditandai dengan lancarnya komunikasi antara mereka, selama satu bulan.

Singkat cerita, Sum dan Ar akhirnya menikah. Namun, bukannya kebahagian yang didapat Sum, dia malah mendapat tekanan batin selama menjadi istri.

”Saya baru tahu dia ambil motor tiga bulan terakhir ini. Sebelumnya memang gak tahu,” ungkap dia.

Pada awalnya, Sum menolak untuk menceritakan keterlibatannya dalam aksi curanmor yang dilakukan suaminya. Dia merasa tertekan dan trauma atas perlakuan suaminya. ”Takut saya. Waktu itu saya sempat dua kali tinggalin dia ke Sumbawa, tapi balik lagi karena keluarga saya diancam,” ujarnya.

Sum mengatakan, beberapa kali aksi pencurian yang dilakukan, dirinya disuruh untuk menjadi satpam. Ar meminta dia melihat situasi di sekitar TKP. Jika kondisi aman, Ar melancarkan aksinya dengan membobol kunci kontak motor.

Kenapa tidak menolak? Menurut Sum, hal itu tidak mungkin ia lakukan. Jika ada penolakan, Arf akan mengancam dan melakukan tindak kekerasan. Dirinya beberapa kali dipukul di bagian kepala akibat menolak ajakan Ar.

Menurut dia, Ar juga takut meninggalkan dirinya di rumah sendirian. Karena itu, dengan ancaman dan pukulan, Sum terpaksa menuruti kemauan pelaku. ”Dia takut saya sendirian di rumah, takut saya melapor,” ungkap Sum yang berprofesi sebagai penari ale-ale ini.

Sementara itu, Aktivis Perempuan Nur Jannah mengatakan, dalam kasus tersebut bisa dikatakan bahwa Sum telah menjadi korban. Dia dieksploitasi oleh suaminya dan dilibatkan dalam aksi kejahatan.

”Kalau narkoba, kita sering dengar. Tapi, curanmor ini jadi hal baru,” kata dia.

Menurut Nur, tentu ada yang melatarbelakangi keterlibatan Sum dalam kejahatan tersebut. Apalagi jika melihat anggapan masyarakat kebanyakan, yang melihat perempuan sangat rentan diintimidasi, tidak bisa mengambil keputusan, hingga penundukan terhadap kaum lelaki.

Jika melihat kasus tersebut, lanjut dia, Sum tidak punya kuasa untuk menolak. Terlebih ada ancaman yang dilakukan suaminya. Hal itu juga yang kemudian digunakan Ar  sebagai modus operandi baru dalam kejahatannya.

”Ini sebagai modus baru, melibatkan istri untuk kejahatan curanmor,” ujarnya.

Nur mengatakan, faktanya selama ini adalah tindak pidana curamor identik dengan perbuatan kaum laki-laki. Sehingga keterlibatan perempuan di dalamnya, digunakan sebagai kamuflase. Trik untuk cuci tangan dan memuluskan aksi kejahatan tersebut.

”Orang tentu tidak curiga ketika ada perempuan yang duduk mengawasi. Padahal mereka sangat rentan tertimpa masalah, misalnya aksinya ketahuan. Lakinya pasti tidak akan segan menyalahkan perempuan,” jelas Nur.

Lebih lanjut, menurut Nur, kepolisian harus bersikap bijak dan arif dalam mendalami perkara tersebut. Terutama mengenai pengakuan adanya ancaman dan kekerasan yang dialami Sum, sehingga terlibat dalam aksi kriminal.

Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) yang ada di kepolisian, juga diharapkan terlibat. Sum yang dinilai Nur sebagai korban dalam kasus ini, membutuhkan treatment khusus untuk pendalaman jaringan Arif.

Menurut Nur, kepolisian tidak semata-mata hanya mengungkap kasus kriminal, di mana Sum diduga terlibat. Tetapi, harus juga mendalami dugaan kekerasan yang dia alami sebagai sebab keterlibatannya dalam kejahatan tersebut.

Instansi pemerintahan juga diharapkan proaktif memantau kasus ini. Bersinergi memberikan dukungan dan pendampingan, sehingga korban bisa kuat mengungkapkan apa yang ia alami selama ini.

”Kalau seperti itu, suaminya bisa kena pasal berlapis. Kena pidana KDRT dan juga curanmor,” pungkas dia.

Sementara itu, Kapolsek Narmada Kompol Gusti Bagia melihat dalam kasus ini peran Sum, turut membantu aksi kriminal tersebut. Dia bertugas mengawasi Arif ketika beraksi.

”Dia (Sum, Red) mengawasi. Itu untuk curanmor. Tapi, kalau jambret, dia yang menjadi eksekutornya,” kata Bagia.

Mengenai dugaan kekerasan yang mendasari keterlibatan Sum itu, kata Kapolsek akan tetap  didalami dan mempertimbangkannya. Sum juga sempat menyatakan hal tersebut, ketika dia diperiksa penyidik, tak lama setelah ditangkap.

”Untuk hukuman akan dipelajari, apalagi jika tindakan Sum di bawah tekanan atau ancaman. Tapi kasus pidananya tetap kita proses. Nanti akan kelihatan siapa otak di balik aksi curanmor itu,” tandas Bagia. (wahidi akbar sirinawa/r2)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka