Ketik disini

Headline NASIONAL

KPK Ungkap Rekayasa untuk Setnov

Bagikan

JAKARTA-Komisi Pemberantasan Korupsi telah menetapkan mantan pengacara Setya Novanto Fredrich Yunadi dan Dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo sebagai tersangka. Keduanya diduga mencegah, merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung, penyidikan dugaan tindak pidana korupsi terkait Setya Novanto.

Sebelum menetapkan kedua pihak tersebut sebagai tersangka, KPK telah melakukan serangkaian tindakan penyelidikan dengan memeriksa 35 orang saksi dan ahli. Setelah menemukan bukti permulaan yang cukup, KPK kemudian meningkatkan ke tahap penyidikan dengan menetapkan keduanya sebagai tersangka.

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam konferensi pers di kantor KPK semalam (10/1) mengatakan, sebelum Setya Novanto diboyong ke KPK dan dilakukan penahanan, ternyata ada skenario yang dirancang Fredrich dan Bimanesh untuk menggagalkan upaya penangkapan yang dilakukan KPK terhadap mantan Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”192″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Dia pun membeberkan konstruksinya. Basaria menyebut, Fredrich dan Bimanesh diduga bekerja sama untuk memasukkan tersangka Setya Novanto ke rumah sakit untuk dilakukan rawat inap dengan data-data medis yang diduga dimanipulasi sedemikian rupa, untuk menghindari panggilan dan pemeriksaan oleh penyidik KPK.

Pada Rabu (15/11/2017) kata Basaria, Setya Novanto (Setnov) diagendakan akan diperiksa oleh tim penyidik KPK. Namun, Setnov mengirimkan surat berhalangan hadir. Dia lebih memilih hadir dalam acara di DPR.

Atas ketidakhadiran Setnov, pada hari yang sama Rabu, (15/11) sekitar pukul 21.40 WIB tim penyidik KPK mendatangi rumah Setnov di Jalan Wijaya Xlll, Melawai Kebayoran Baru dengan membawa surat perintah penangkapan dan penggeledahan.

Namun, saat KPK berkunjung ke kediaman Setnov, suami Deisti Astriani Tagor tersebut tidak berada di tempat, hingga proses pencarian di rumah dilakukan sampai pukul 02.50 WIB. Lalu, KPK menghimbau agar Setnov segera menyerahkan diri secepat mungkin.

Keesokan harinya, pada Kamis (16/11/2017), karena tidak ada pemberitahuan mengenai penyerahan diri Setnov, maka KPK menerbitkan Daftar Pencarian Orang (DPO) dan menyurati Kapolri, Up. Ses-NCB Interpol atas nama tersangka Setnov.

Tiba-tiba pada malam hari, KPK mendapat informasi bahwa mobil yang dinaiki Setnov  mengalami kecelakaan dengan menabrak tiang lampu (listrik) dan akhirnya Novanto dibawa ke RS Medika Permata Hijau.

Padahal sebelum kejadian terjadi, Setnov sempat melakukan wawancara live untuk sebuah stasiun televisi.

Basaria melanjutkan, saat di RS Medika Permata Hijau, meskipun telah terjadi kecelakaan, Novanto tidak dibawa ke Instalansi Gawat Darurat (lGD), melainkan langsung ke ruang rawat lnap VIP.

Dari hasil penyelidikan, kata Basaria, sebelum mantan ketua DPR dirawat di Rumah Sakit, diduga Fredrich telah datang terlebih dahulu untuk berkoordinasi dengan pihak RS Medika Permata Hijau.

Selain itu tim penyidik KPK juga mendapatkan informasi, ada salah satu dokter di RS Medika Permata Hijau, mendapat telepon yang diduga sebagai pengacara Setnov. Pengacara tersebut mengatakan, Setnov akan dirawat di RS sekitar Pukul 21.00 WIB dan meminta kamar perawatan VIP yang rencana akan di boking 1 lantai. Padahal  saat itu belum diketahui Novanto  akan dirawat karena sakit apa.

Pada akhirnya kata Basaria, penyidik mendapatkan kendala ketika melakukan pengecekan informasi peristiwa kecelakaan, yang berlanjut pada perawatan medis di RS Permata Hijau.

Dicegah ke Luar Negeri

Terkati penetapan tersangka ini, Penyidik KPK juga telah mengajukan permohonan pencegahan ke luar negeri atas nama dr Bimanesh Sutarjo ke Ditjen Imigrasi Kemenkumham. Pengajuan permohonan pencegahan ini dilakukan, sebagai tindak lanjut penetapan tersangka oleh KPK.

“Surat pencegahan untuk bepergian keluar negeri telah dikirimkan oleh KPK kepada Ditjen Imigrasi,” ujar Basaria Pandjaitan. Bimanesh kata Basaria, dicegah bepergian selama 6 bulan ke depan sejak 8 Januari 2018.

“Yang bersangkutan dicegah dalam kapasitas sebagai tersangka,” jelasnya. Pencegahan dilakukan, agar sewaktu-waktu keterangannya dibutuhkan, Bimanesh sedang tidak berada di luar negeri.

Sebelumnya, terkait pencegahan, KPK juga melayangkan surat permohonan pencegahan ke beberapa orang. Mereka antara lain, mantan pengacara Novanto Fredrich Yunadi, mantan Jurnalis Metro TV Muhammad Hilman Mattauch, Reza Pahlevi (Polri) dan Achmad Rudyansyah yang ditengara adalah ajudan Novanto.

Atas perbuatannya, baik Fredrich maupun Bhimanes, disangka melanggar Pasal 21 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No.20 Tahun 2011 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP Pidana.

Sementara itu, atas pasal yang disangkakan, keduanya terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Terpisah, terkait adanya penetapan tersangkanya oleh KPK, sebelumnya, kuasa hukum Fredrich, Sapriyanto Refa membenarkannya. ” Ya benar, kemarin suratnya (penetapan tersangka). Saya ada di situ,” katanya kepada koran ini. Untuk mengklarifikasi penetapan tersangkanya oleh KPK, pihaknya berencana akan menyambangi KPK hari ini. (JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka