Ketik disini

Headline Metropolis

Nelayan Harusnya Mengerti! Warga Senggigi Resah dan Merasa Dirugikan

Bagikan

MATARAM-Mendalami persoalan kontroversi meja dan tempat duduk beton di pantai Senggigi, Lombok Post pun mendatangi lokasi. Sejumlah warga, langsung bertutur kenapa mereka sangat setuju dengan pemasangan meja dan tempat duduk beton itu.

Keberadaan nelayan-nelayan Ampenan asal Pondok Prasi dinilai merusak tatanan kawasan wisata. Selain membuang sampah, mereka juga mematikan pendapatan para PKL yang ada di sana. “Iya kalau mereka mau beli, tapi mereka kan bawa sendiri bekal masing-masing,” tutur Ahmad Kurnaen.

Perahu-prahu nelayan Pondok Prasi, membuat citra sekitar pantai Senggigi kumuh. Wajar saja, banyak wisatawan akhirnya memilih tak berlibur di kawasan itu. Tapi beralih ke Lombok Utara, bahkan ada yang ke Lombok Tengah. “Wistawan sepi karena apa mau dilihat, di sini penuh sampan,” keluhnya.

Belum lagi soal prilaku sejumlah nelayan yang dinilai jauh dari kata bersih. Selain membuang sampah, sisa makanan, dan limbah ikan di tempat itu, mereka juga ada yang dengan seenaknya buang kotoran di pantai dengan menggali pasir semaunya. “Buang air, ekek (jorok) jadi ‘ranjau’ di mana-mana, ” sesalnya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Tidak hanya itu, kawasan publik yang harusnya steril dari kendaraan, juga dilanggar. Motor-motor di bawa masuk, selama para nelayan berteduh di kawasan itu. “Padahal sudah dibuatkan portal, tapi dirusak,” ungkapnya.

Ahmad juga bercerita, pernah suatu ketika seorang wistawan mancanegara berjalan kaki di tempat itu. baru saja asyik melangkah, di kawasan publik, ia tiba-tiba menginjak sesuatu yang lunak.

“Setelah diperhatikan ternyata kotoran manusia, bule itu langsung buang sepatunya ke laut dan tak pernah kembali lagi,” tuturnya.

Tak hanya Ahmad, pedagang yang tak jauh dari area kawasan publik yang selama ini dipakai nelayan asal Ampenan menambatkan perahu, Ibu Mukini juga menuturkan hal yang serupa. Ia juga membantah cerita jika para nelayan itu hanya singgah dalam 3-4 hari.

“Kalau saya bilang lekak mungkin terlalu kasar, tapi kenyataanya mereka di sini berbulan-bulan,” bantah Mukini.

Tapi jika yang dimaksud perorangan nelayan, Mukini menyebut bisa saja, mereka tiga sampai empat hari. Hanya saja, mereka silih berganti berdatangan. Begitu seterusnya, hingga akhirnya kawasan publik itu tak pernah sepi selama berbulan-bulan lamanya.

“Belum lagi sisa kotoran, pampers, mereka datang seperti orang berlibur,” ceritanya.

Mukini mengaku berdagang di sana, sejak tahun 1984. Tapi baru kali ini, sejak pemasangan meja dan tempat duduk beton itu, kawasan itu terlihat lebih tertib di saat tiba musim muson barat. “Memang dari dulu, mereka di sini,” akuinya.

Meski dirinya pedagang, ia mengaku tak dapat keuntungan dengan menginapnya berpuluh-puluh nelayan itu. Apalagi setelah mereka pergi, dengan meninggalkan sampah dan kotoran yang menganggu pemandangan. “Mereka bawa termos, cobek, ndak berani kita lewat pantai, takut ada injak kotoran,” teranganya.

Babinsa Senggigi, Sertu Abdul Rauf tak kalah kesal dengan tingkah polah para nelayan. Sebenarnya di kawasan itu, ada aturan yang telah disepakati bersama antara perangkat desa dan nelayan Senggigi.

Peraturan itu adalah tak boleh ada yang menaikan perahu ke atas pasir pantai di sana. Tapi boleh, mengapung tak jauh dari pantai. Perahu baru boleh dinaikan ke pasir pantai dengan syarat bocor dan telah ditanda tangani oleh para pengawas pantai.

“Itupun saya harus chek apakah benar-benar bocor, dan kalau bocor tidak boleh lebih dari 14 hari,” terang Rauf.

Para nelayan di Senggigi sangat patuh pada aturan itu. Sehingga tak ada satupun yang berani menaikan perahu ke atas pasir pantai. Mereka lebih memilih mengapungkan perahunya tak jauh dari pantai.

“Tapi mereka (nelayan luar), malah melanggar aturan yang oleh nelayan sendiri, sangat mematuhinya,” sesalnya.

Itu baru persoalan pelanggaran aturan yang tak mau dipatuhi. Belum lagi, soal kebiasaan beberapa nelayan yang membuang limbah ikan, sehingga kawasan pantai, seketika berbau amis bahkan cendrung busuk.

“Coba lihat di belakang Aruna itu, kalau turun hujan baunya sangat keras,” contohnya.

Sebenarnya, lanjut Rauf, gelombang di kawasan pantai Senggigi, tak jauh beda dengan pantai-pantai lainnya. Begitu juga yang diamati Lombok Post saat itu. Tapi Rauf menduga, para nelayan betah di sana, karena lokasi teduh. Selain itu, nelayan tak pernah merasa khawatir, kehilangan mesin sampan.

“Selain kawasan lebih tertutup, di sini mereka pikir ada security, jadi mereka yakin ikut dijagaian juga sampan-sampannya,” terangnya.

Tapi Rauf menambahkan, para nelayan itu tak pernah mau berpikir. Apa dampak dari kegiatan mereka yang berpotensi mematikan sektor pariwisata di sana.

“Jika mereka (nelayan) beralasan terpaksa parkir di sini karena mau cari makan, warga Senggigi juga jaga kebersihan pantai karena pariwisata tumpuan mereka cari makan!” tegasnya.

Tak jarang pula, ia mendapati para nelayan membawa minuman keras ke lokasi. Rauf mengaku tak ingin pada akhirnya Senggigi hanya tinggal kenangan. Saat wisatawan tak mau lagi datang ke lokasi itu, dan memilih kawasan yang lebih steril dari perahu dan lebih bersih dari sampah, seperti di daerah lain.

“Coba lihat juga seperti di belakang Paragon itu, mereka pasang tenda besar di sana,” imbuhnya.

Sementara, itu Kabid Destinasi Dinas Pariwisata Kota Mataram Lalu Kusuma Wijaya, berharap persoalan ini bisa segera selesai dengan baik. Tak boleh ada yang memaksakan kehendak.

Pariwisata di Senggigi harus berjalan, tapi juga nelayan Ampenan yang mencari tempat berlindung harus segera dicarikan tempat. “Pantai Duduk itu salah satu opsi dan akan kita diskusikan nanti,” ujar Wijaya.

Bagaimanapun ruang publik yang selama ini ‘dikuasai’ nelayan harus dikembalikan fungsinya. penataan ini fungsinya untuk jangka panjang. Sedangkan persoalan nelayan Ampenan yang butuh tempat berlindung akan dipikirkan solusinya bersama-sama.

“Itu bangunan, tapi itu tools. Itu meja yang ada payungnya sehingga kawasan pantai lebih cantik,” terangnya.

Karena itu, pihaknya merasa, tak pernah membangun di kawasan pantai. Baginya itu tak lebih dari kelengkapan untuk menambah minat wistawan mau mendatangi pantai senggigi.

“Nanti kita tidak bangunkan tempat duduk dikira kita tak peduli pada wistawan,” dalihnya.

Demo Nelayan Ampenan

Sementara itu, puluhan nelayan menggeruduk tiga tempat kemarin. Pertama mereka mendatangi kantor Dinas Pariwisata Provinsi NTB, lalu bergerak ke Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB. Terakhir mereka menyuarakan protesnya di kantor Gubernur NTB.

“Kalau sampai tidak ada respons dan solusi terbaik, kami akan blokir akses wistawan ke Senggigi yang di Ampenan!” ancam Viken Madrid, Ketua Gerakan Kebangkitan Petani dan Nelayan (Gerbang Tani) Indonesia, NTB.

Peserta aksi, baru membubarkan diri. Setelah, ada kabar pertemuan dengan Dinas Pariwisata Provinsi NTB dan Pihak Pemkab Lombok Barat, di Ampenan kemarin malam. “Pokoknya persoalan ini harus tuntas hari ini juga, kalau tidak kita boikot balik,” teriak salah satu peserta aksi.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB Lalu Hamdi, juga tak bisa berkomentar panjang. Dirinya mengaku perlu melakukan koordinasi lebih dahulu, terkait persoalan ini dengan Dinas Pariwisata NTB.

“Kami harus koordinasikan dan bicarakan ini lebih dahulu dan cari solusi terbaiknya,” tandas Hamdi.

Terpisah, Kadis Pariwisata NTB, LM Faozal meminta Pemkot Mataram mencari solusi. Sebab, persoalan pariwisata di Lobar juga tak banyak. Sehingga, Pemkab Lobar juga punya hak untuk menajaga destinasi pariwisatanya.

“Ini kan masalahnya Lobar yang punya wiayah. Dia juga punya perda soal pariuwisata dan pesisir pantai. Jadi Pemkot Mataram harusnya tidak bisa mengintervensi itu. Sebaiknya mencari solusi bagi warganya dengan tidak mengganggu wilayah orang lain,” tandas Faozal. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka