Ketik disini

Opini

PILKADA ZAMAN NOW

Bagikan
Oleh : H. Lalu Fahmi Husain, Lc., MA
Pengasuh Ponpes Selaparang NW Kediri, Pengurus BAKOMUBIN NTB dan Penyuluh Agama Islam Kemenag Lobar
***
Eskalasi politik menjelang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati di Provinsi Nusa Tenggara Barat, sudah semakin terasa hangat. Bahkan kehangatannya pesta demokrasi ini sudah terasa sejak masing-masing calon mendaftarkan diri mereka ke KPUD, tim pemenangan masing-masing kandidat sudah terlebih dahulu menyebarkan berbagai atribut kampaye, seperti stiker, baliho dan spanduk yang memperomosikan kandidatnya masing-masing.
Dunia medsos tidak kalah ramai dibandingkan dunia nyata, masing-masing tim pemenangan maupun simpatisan memuat berbagai macam gambar dan kata-kata yang mengekspresikan kelebihan masing-masing kandidatnya Namun, sungguh disayangkan bahwa fenomena tersebut, tidak disertai dengan tanggung jawab serta etika dalam mengekpresikan semua bentuk dukungan kepada calonnya. Masih terdapat sebagian simpatisan maupun pendukung menggunakan Kampanye Hitam untuk kandidat lainnya.
Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”116″ tax_operator=”0″ order=”desc”]
Kampanye hitam sering dilakukan sebagai senjata untuk menjatuhkan kredibilitas dan menjegal lawan politiknya. Cara-cara seperti ini, tentunya seringkali menjurus kearah hal-hal yang negatif dan tidak sportif. Seperti, membuka aib, memfitnah, merusak baliho atau stiker kandidat lainnya dan bahkan menyebarkan berita bohong berkaitan dengan kandidat lain.
Please dech, zaman now masih saja menggunakan kampanye hitam. Apakah tidak malu masih menggunakan cara-cara yang tidak fair dan tidak  sportif untuk memenangi kontestasi Pilkada? Mengingat masyarakat sudah semakin cerdas dan beretika dalam memilih pemimpinnya.
Sadarkah ia, bahwa kampanye hitam merupakan salah satu bentuk ketidakpercayaan dirinya untuk menjadi pemimpin, dalam jiwanya telah tertanam sifat pengecut, curang, pesimis dan tidak jujur. Maka orang seperti ini tidak competibel dijadikan sebagai pemimpin.
 Pemimpin bukanlah dicetak secara instans, namun harus memiliki track record yang bagus. Memiliki integritas dan moralitas yang teruji, sehingga tidak akan berpengaruh besar terhadap kampaye hitam dari lawan politiknya.
“Zaman Now” merupakan terminologi kekinian yang menggambarkan suasana yang lebih kekinian, lebih baik, lebih modern, dan lebih maju dibandingkan “zaman old”. Hal-hal yang bersifat negatif dan sudah tidak sesuai dengan kekinian, maka itu dapat diklasifikasikan sebagai “zaman old”.
Zaman now harus memiliki semangat maju, semangat untuk menghilangkan virus-virus yang akan menciptakan sekat-sekat perbedaan, pertikaian dan permusuhan di tengah masyarakat. Seperti Kampanye hitam dan saling menjelekkan satu sama lain. Konsekwensinya, teman menjadi lawan, sahabat menjadi musuh, saudara menjadi ancaman.
Begitu besarnya dampak dari kampanye hitam ini, maka Allah SWT mengancam orang-orang yang suka menyebarkan berita bohong melalui media apa saja akan ditempatkan di dasar api neraka : “Sesungguhnya orang-orang munafiq akan ditempatka di dasar api neraka dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka” (annisa 145) Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihyâ ‘Ulûmiddîn mengatakan bahwa pada hakikatnya kebohongan tidak diperbolehkan bukan karena kebohongan itu sendiri (lâ bi ‘ainihi). Akan tetapi kebohongan dilarang dalam agama karena kebobongan itu menimbulkan banyak dampak negatif.
Sama dengan hal tersebut, dalam kitab Adabud Dunyâ Waddîn, Imam Al-Mawardi menjelaskan: “Kebohongan adalah sumber dan akar dari segala kejahatan dan kejelekan karena dampak buruk dan keji yang ditimbulkannya.”
Karena sesungguhnya kebohongan dapat menimbulkan fitnah, dan fitnah membawa pada kemarahan. Lalu kemarahan akan menjadi awal dari permusuhan. Dan tidak ada yang namanya rasa aman dan ketentraman dalam sebuah permusuhan.
Apalagi menyebarkan aib kandidat lain, tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal. Selalu saja ada kekurangan. Boleh jadi ada yang bagus dalam rupa, tapi ada kekurangan dalam gaya bicara. Bagus dalam penguasaan ilmu, tapi tidak mampu menguasai emosi kalau ada singgungan. Kuat di satu sisi, tapi rentan di sudut yang lain.
Maka, Islam menuntut kita sabar untuk tidak mengabarkan keburukan saudaranya kepada orang lain. Sesuatu yang menarik buat orang lain kadang buruk buat objek yang dibicarakan. Di situlah ujian seorang mukmin untuk mampu memilih dan memilah. Mana yang perlu dikabarkan, dan mana yang tidak.
Jika ia melihat saudara muslimnya berbuat kebaikan maka ia mencibirnya, mencelanya bahkan menghalangi, jika melihat saudara muslimnya berbuat kesalahan, maka ia mengekspos kesalahannya, menggunjing menyebarkan aibnya pada orang lain.
Ingatlah ancaman Allah bagi orang yang selalu menyebarkan aib saudaranya, Allah SWT berfirman dalam surat annur ayat 1:“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar dikalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat, Allah mengetahui sedang kalian tidak mengetahui”.
Begitu besarnya kehormatan seorang muslim, sampai-sampai suatu hari Abdullah Bin Umar memandang ke ka’bah, ia berkata : “Alangkah agungnya engkau dan besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya di sisi Allah darimu.”
Maka wajar jika Rasulallah memberikan keutamaan bagi orang yang menutupi aib saudara muslimnya, dalam sebuah hadis beliau bersabda : “Barang siapa menutupi (aibnya) orang Islam, maka Allah akan menutupi (aib) orang itu di dunia dan di akhirat”.
Saat ini, merupakan momentum yang sangat pas untuk semua calon harus menggaungkan Pilkada Zaman Now,  pilkada yang damai, sejuk DAN menyenangkan dengan berlandaskan Kesalehan Politik yang mengedepankan aspek spritualitas, moral, etika serta “sell ideas and thoughts” (menjual gagasan dan pemikiran) kepada masyarakat tentang skema besar dalam memajukan NTB ke depan.
Meskipun Kampanye Bersih itu terkadang berat tapi siksa Allah lebih pedih daripada  hanya sekedar berat, maka marilah kita berpilkada tanpa harus menebar dosa dan permusuhan, marilah kita nikmati pesta demokrasi di daerah kita ini dengan penuh kesenangan dan sportivitas, jaga lidah ini dengan kejujuran dan tidak menyebarkan aib saudara kita.(*)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka