Ketik disini

Headline Opini

LEMBAGA ZAKAT: DARI FUNDRAISING KE FRIEND-RAISING

Bagikan

Oleh: Bambang Suherman [Direktur Mobilisasi ZIS Dompet Dhuafa & Sekjen Foz 2012-2015]
——————
Alkisah Khalifah Umar Khattab RA memanggul sendiri sekarung gandum dari baitul mal untuk diantarkan langsung ke rumah rakyatnya yang kelaparan. Ia bahkan melarang Aslam yang hendak membantunya untuk memanggul karung tersebut. Umar RA menyadari dirinya sebagai pemimpin juga adalah seorang pelayan umat. Teladan ini harus diresapi dan ditiru oleh umat pada hari ini. Khalifah Umar mencontohkan betapa mereka yang tidak mampu, atau berstatus sebagai mustahik, adalah individu-individu yang harus dilayani sebaik-baiknya.

Jika hari ini kita menemukan fakta bahwa ada kasus gizi buruk yang terjadi tak jauh dari tempat kita tinggal, apakah kondisi itu tak cukup untuk menggedor ruang hati kita? Teladan Khalifah Umar tadi sudah sepantasnya menginspirasi umat untuk bergerak bersama-sama mengatasi persoalan tersebut. Individu yang mampu harus saling merapatkan barisan untuk bersama-sama mengulurkan bantuan. Selain itu, lembaga kebaikan yang mengelola dana public seperti zakat, infak, dan sedekah juga bertanggung jawab untuk mengedukasi publik agar bantuan itu tersalurkan dengan baik dan benar.

Sikap kedermawanan serta saling tolong-menolong adalah modal sosial penting dalam membangun sebuah kesadaran untuk berzakat pada hari ini. Namun, paradigma tolong-menolong dan kedermawanan itu membutuhkan edukasi yang intens agar tak terjebak pada pola lama.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”116″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Apa yang dimaksud pola lama itu, salah satu contohnya adalah, membiarkan orang miskin berbaris antre sedemikian panjang demi mendapatkan bantuan dari penderma. Kasus seperti ini di Indonesia justru banyak menimbulkan efek negatif (mudharat) daripada efek positifnya (mashlahat). Peristiwa pilu di Pasuruan, Jawa Timur, pada 2008, di mana mustahik justru menjadi korban saat berebut bantuan, adalah pelajaran penting agar tidak lagi dipakai dalam pola penyaluran bantuan atau donasi. Pada konteks inilah, konsep fundraising mencoba menggeser paradigma lama itu.

Terminologi fundraising lekat dengan aktivitas pengumpulan dana. Dari akar kata bahasa Inggrisnya, mengacu pada kamus Merriam-Webster, fundraising memiliki definisi: the organized activity of raising funds (as for an institution or political cause). Kosakata ini diketahui mulai populer pada 1940. Ketika itu Eropa sedang memasuki fase awal Perang Dunia II yang mengerikan itu. NAZI mulai menunjukkan tajinya di daratan Eropa. Sementara korban perang mulai berjatuhan dan membutuhkan bantuan. Jadi, kosakata fundraising ini memiliki benang merah dengan kondisi zaman ketika itu.

Kosakata ini kembali populer, terutama di kalangan pegiat kemanusiaan, termasuk lembaga amil zakat di dalamnya. Ditambah kultur fundraising melekat kuat dalam masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia dikenal memiliki modal sosial yang tinggi dalam hal tolong-menolong dan toleransi kepada sesama. Jamaknya, bencana di suatu daerah yang terjadi pada hari ini, akan mendapatkan respons cepat dari daerah lain.

Jebakan Angka dan Transaksional

Tak bisa dipungkiri bahwa lembaga amil zakat, yang diberi amanah untuk menghimpun dana zakat dari publik, kadang terjebak pada target penghimpunan dana. Angka kemudian menjadi momok menakutkan bagi pegiat yang terjun di dalamnya. Padahal, penghimpunan dana ini hanyalah hulu dari proses sesudahnya, yaitu pengelolaan dan pendayagunaan. Namun, kesan yang melekat bahwa fundraising itu semata untuk mengejar target perolehan, justru mereduksi marwah lembaga itu sendiri. Besaran angka perolehan memang sesuatu yang riil dan bisa dikalkulasi. Angka-angka itulah yang menjadi parameter untuk melihat seberapa besar perolehan riil zakat dari potensi zakat yang ada. Pada 2012 lalu, potensi zakat kita sebesar Rp 217 triliun, dengan peroleh riil sebesar Rp 13,8 triliun.

Ruang fundraising itu bukan soal kompetisi angka siapa yang paling besar dalam menghimpun dana zakat. Makna fundraising itu adalah ruang di mana kita memiliki sesuatu yang bisa kita bagi kepada orang lain. Lantas, ketika orang lain melakukan sesuatu berbasis pengetahuan yang kita sampaikan, dan mereka menghimpun dengan pengetahuan itu, maka kita menganggap mereka sudah menyelesaikan sebagian dari pekerjaan kita. Jika sebuah lembaga tak mampu menjangkau sebuah permasalahan, dan ada lembaga lain yang mampu, maka berangkat dari konsep fundraising, lembaga tersebut yang memegang tanggung jawab untuk menyalurkan pengetahuan tentang zakat seluas-luasnya.

Konsep fundraising tahap lanjut, di mana menebar edukasi tentang zakat menjadi keutamaan inilah, yang kemudian menggesernya menjadi friendraising.Kata friend dipilih bukan tanpa dasar. Tantangan terbesar gerakan zakat hari ini adalah pengetahuan zakat yang tidak merata di masyarakat. Pengetahuan yang tidak merata inilah yang membuat individu tidak menjalankan ibadah zakatnya. Perbesar ruang pertemanan dan perbesar syiar tentang zakat di masyarakat untuk memperbesar amal zakatnya. Dengan begitu, fund yang terkumpul adalah dampak dari pertemanan (friendship) yang dijalin.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa sebagian lembaga amil zakat terjebak pada aspek transaksional. Kondisi ini menyebabkan lembaga bersangkutan terjebak pada pandangan bahwa fundraising sama dengan gaya sales-marketing. Model sales-marketing ini cenderung bertumpu pada masyarakat untuk a�?membelia�? program. Jika masyarakat membeli program yang ditawarkan tersebut, artinya masyarakat membayar zakat. Padahal jika dikaji lebih dalam, kebutuhan donatur itu berbeda-beda tergantung tipe donasinya.

Pada masa kini, yang dibutuhkan oleh para muzakki adalah kemudahan transaksi. Mereka akan bertanya, siapa lembaga yang bisa memudahkan individu untuk melaksanakan kewajiban zakatnya. maka, mereka takkan ragu untuk mengeluarkan kewajiban hartanya di sana untuk disampaikan ke pihak yang berhak atasnya.

Agar lepas dari jebakan transaksional inilah, lembaga amil zakat harus mampu mengedukasi melalui jalinan pertemanan mulai dari individu per individu, menjalin pertemanan dengan lembaga, komunitas, birokrasi, dan pihak lain. Metode yang mirip getok tular inilah yang menjadi bagian dari friendraising. Inilah yang disebut aspek knowledge sharing, mengedukasi publik tentang ibadah zakat yang benar.

Sejatinya, target (pengumpulan zakat) adalah sesuatu yang diletakkan di langit-langit, dapat kita lihat namun bukan untuk dijadikan momok. Pola pikirnya kemudian, bagaimana untuk sampai di puncak itu? Karena itulah, lembaga amil zakat perlu merancang a�?anak-anak tanggaa�? dalam bentuk strategi-strategi. Proses merancang a�?anak-anak tanggaa�? inilah salah satunya dengan memperbesar pertemanan. Pendekatan ini diharapkan mampu menggeser fokus a�?capaian angkaa�? tadi ke fokus lain tentang bagaimana memperbesar jaringan pertemanan.

Proses pertemanan ini perlu dibangun, dijaga, dan dikembangkan, niscaya akan berdampak positif pada target pengumpulan/transaksi yang diletakkan di langit-langit tadi.Dengan begitu, publik yang sudah teredukasi akan semakin banyak dan memilih untuk menyalurkan zakatnya melalui lembaga-lembaga amil zakat. Di sinilah fokus pada proses yang sesuai dengan linimasa kerja lembaga jauh lebih penting daripada terus berkutat pada target angka tadi.

Setara, Sharing, dan Kolaborasi dengan Friendraising

Pertemanan yang tulus harus dimulai dengan menempatkan diri dalam hubungan yang setara. Dalam konteks gerakan zakat, tidak boleh organisasi yang merasa jumawa dan superpower sehingga dapat melakukan subordinasi kepada organisasi lainnya. Meski secara kelembagaan organisasi A memiliki sumberdaya dan aset yang lebih besar, bukan berarti bisa memposisikan diri di atas institusi B yang secara aset maupun organisasi lebih kecil.

Posisi pertemanan yang setara inilah yang kemudian bisa memberikan keleluasaan antarlembaga untuk saling berbagi pengetahuan dan inspirasi. Tahap inilah yang namanya sharing. Lembaga zakat yang besar secara sumberdaya dan aset, biasanya, telah memiliki standar kerja tertentu yang bisa dijadikan acuan. Lembaga zakat dengan sumberdaya yang lebih kecil dapat belajar darinya. Sedangkan lembaga zakat yang lebih besar harus membuka diri sebagai ruang belajar bagi lembaga lain terutama dalam hal manajemen pengelolaan zakat dan penguatan sumberdaya. Sehingga standar yang lebih baik dibagikan kepada lembaga lain yang standarnya masih kurang atau bahkan sama sekali tidak memiliki standar. Hubungan inilah yang kemudian dekat dengan konsep kemitraan. Dari sinilah, maka, prasangka yang besar mengakuisisi yang kecil dapat dikikis.

Di tengah isu global yang kian kompleks, sudah seharusnya lembaga amil zakat bekerja kolaboratif. Saatnya sekat yang membatasi ruang kemitraan antarlembaga dihilangkan. Fokus pada fund telah bergeser pada orientasi pertemanan (friend). Lembaga amil zakat hari ini, sejatinya, adalah entitas yang tumbuh dan besar bersama-sama.***

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys