Ketik disini

Headline Metropolis

Jadi Langganan Banjir Sindir Walikota dengan Pancing Ikan

Bagikan

MATARAM-Hujan panjang mengguyur Kota Mataram sejak Rabu sore hingga Kamis pagi, kemarin. Tak ayal membuat daerah yang dipimpin H Ahyar Abduh dan H Mohan Roliskana (Aman) ini kembali terendam banjir.

Ketinggian air pun bervariasi menelisik ke rumah warga. Dari sekitar tiga jengkal hingga lutut orang dewasa.

Di Lingkungan Karang Buaya, sedikitnya 50 rumah warga terdampak. Rinciannya 25 rumah di RT 6, tujuh rumah di RT 3, tujuh rumah di RT 5, dan 11 rumah di RT 7.

Air terpantau tak kunjung surut dari rumah warga hingga siang hari. “Mancing ikan pak,” sindir Ahmad, warga RT 6 Karang Buaya yang menggelar pancing persis di depan pintu rumahnya.

Ahmad mengaku tidak tahu lagi, harus bagaimana cara meminta bantuan pemerintah. Beberapa kali menyuarakan pendapat, hanya berakhir dengan janji penanganan. Tapi hingga belasan tahun, tidak pernah ditindaklanjuti. Sejak tahun 1995, jika hujan turun selalu banjir,” sesalnya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Idenya menggelar pancing itu pun spontan. Saat melihat aparat lingkungan dan Polisi Sektor Pagutan turun langsung memantau kondisi warga. Ahmad berpikir jika cara minta langsung, tidak membuat pemerintah tergerak. Sehingga cara sarkas itu diharapkan dapat membuat pemerintah malu dan mau memperhatikan mereka.

a�?Air ini limpahan anak sungai kali Unus, ya siapa tahu ikannya berenang ke mari,a�? sindirnya.

Sejarak lemparan batu, ada anak sungai yang melintas di belakang rumah Ahmad dan warga lainnya. Air sungai itu meluap dan masuk pekarangan dan rumah-rumah warga.

a�?Jika cara ini juga tidak ada respons, kami tidak tahu lagi harus berbuat apa,a�? ujarnya pasrah.

Di RT 7, warga bahkan sampai membeli pompa air. Ini ironi sebab warga sudah sangat akrab dengan bencana ini. Agus Riadi salah satu warga, bertutur ia sudah menduga banjir akan datang.

Agus sebenarnya warga Ampenan. Tapi karena Ayah dan Ibunya tinggal di Karang Buaya, ia ke sana untuk memberi pertolongan pada ayah dan ibunya yang sudah pasti terendam banjir. “Iya, hanya dibatasi dengan tembok drainasenya,a�? kata Agus.

Dimensi drainase di depan rumah itu cukup besar. Sekitar dua meter lebih. Tapi karena pendangkalan yang sangat parah, dimensi drainase tak mampu menampung air. Lebih parah lagi, drainase lebih tinggi dari rumah warga.

a�?Jadi ketika air meluap, pasti masuk ke dalam rumah,a�? imbuhnya.

Agus harus membantu ibu dan ayahnya berjaga setiap malam. Dengan menghidupkan pompa air agar rumah orang tuanya tak terendam.

Air bisa merendam rumah itu sampai setengah meter, bahkan lebih. Jika tidak dipompa, maka air bisa semakin tinggi. “Sebenarnya kami tidak perlu pertebal tembok, asal pemerintah mau menguras sedimentasinya,a�? cetusnya.

Tapi sudah belasan tahun sedimentasi drainase depan rumah itu, tak pernah ditangani. Bahkan bukannya mengeruk, tapi pemerintah justru mempertinggi talud drainase. Hingga membuat posisi drinase lebih tinggi dari pemukiman warga.

a�?Dulu kalau kami masuk ke dalam drainase ini, tubuh kami masuk semuanya,a�? tuturnya. “Tapi tidak dengan sekarang. Drainase dipenuhi tumpukan pasir, lumpur, sampah,” keluh Agus.

Kepala Lingkungan Karang Buaya, Pagutan Timur, Muzakallah juga mengaku kecewa. Wilayahnya belum ada penanganan untuk persoalan banjir menahun ini. “Kalau drainasenya dikeruk, mungkin air tak perlu sampai masuk ke rumah warga,a�? kata pria yang karib disapa Mung ini.

Ia sendiri mengaku tak bisa berbuat banyak. Warga juga kerap memprotes soal itu pada dirinya. Tapi setiap usaha meneruskan keluhan itu pada kelurahan, selalu kandas dengan janji-janji.

a�?Ini juga kalau bisa pipa PDAM yang melintas di drainase ini dinaikan atau sekalian di tanam saja. Sebab ini yang tahan sampah, akhirnya membuat luapan air makin parah,a�? cetusnya.

Kemarin malam, air bahkan sampai merendam rumah warga, hingga ketinggian sekitar satu meter lebih. Dan hingga siang kemarin, air masih enggan meninggalkan rumah warga.

Mung khawatir, jika hujan terus-menerus turun, akan semakin banyak warga yang terkena imbasnya. “Selain aktivitas terganggu, banyak juga yang tak bisa bekerja lagi,a�? sesalnya.

Beberapa warganya yang punya industri rumahan, seperti penggorengan kerupuk, tak bisa berproduksi. Tak hanya pekarangan, tapi ruang tamu, kamar tidur, hingga dapur masih tergenang oleh air. “Semoga persoalan ini bisa cepat tuntas,a�? harapnya.

Polisi Keluarkan Imbauan

Sementara itu, Kapolsek Pagutan IPDA Agus Rachman yang ikut turun memantau kondisi warga mengeluarkan imbauan penting bagi warga. Diantaranya, warga diminta tidak lengah dengan kondisi saat ini. “Tetap jaga keamanan dan ketertiban,a�? kata Agus.

Tak menutup kemungkinan, situasi darurat ini, justru dilihat sebagai peluang oleh oknum tak bertanggung jawab. Mencari keuntungan pribadi, seperti mencuri.

Agus juga berharap, ada peran serta masyarakat ikut sadar menjaga lingkungan. Sampah-sampah tidak lagi dibuang sembarangan, karena dampaknya justru akan merugikan masyarakat sendiri. a�?Selokan yang tersumbat, mungkin bisa ditangani setelah airnya sedikit surut,a�? harapnya.

Ia juga sudah melihat warga membuat tanggul tanggul kecil di depan rumah. Untuk menghadang air masuk ke rumahnya. Tapi karena debit air terlalu besar, upaya membentengi rumah gagal. Karena itu, ia berharap persoalan ini bisa jadi perhatian pemerintah daerah.

a�?Kalau bisa pompa air bisa jadi inventaris (pemerintah daerah) yang harus ada, untuk bisa membantu warga jika kondisi seperti ini terjadi lagi,a�? ujarnya.

Tak kalah penting, masyarakat diminta tidak lengah perhatiannya pada orang tua jompo atau anak kecil. Bahaya sewaktu-waktu bisa datang dan mengancam jiwa. Termasuk jika genangan itu sudah mulai surut, lalu menyisakan persoalan berikutnya yakni jentik nyamuk demam berdarah.

“Baru kali ini saya tahu ada banjir di sini, karena saya baru jadi Kapolsek di sini,a�? tandasnya.

Sekarbela-Ampenan

Selain di Pagutan, banjir juga terjadi di Kecamatan Sekarbela dan Ampenan. Seperti di jalan Lingkar Selatan di depan Kantor DPRD Kota Mataram, Kantor Lurah Jempong Baru, Kantor Inspektorat, Kantor BP2AKB, Kantor Ketahanan Pangan, hingga sejumlah perkampungan dan perumahan.

a�?Ini karena faktor alam, tapi faktor lainnya juga ada. Salah satunya, dengan keberadaan sejumlah tiang listrik PLN yang menganggu saluran drainase,a�? kata Lurah Jempong Baru, Muhamad Yusuf, kemarin.

Yusuf menilai, keberadaan tiang listrik menjadi faktor utama tersumbatnya aliran air yang ada di saluran drainase. “Tiangnya berada di dalam saluran, pantas saja jadi banjir seperti ini di wilayah saya. Saya akan minta agar pihak PLN bisa memindahkan tiang listriknya, setidaknya jangan di dalam saluran drainase ini,a�? ujarnya kesal.

Dengan adanya kejadian tersebut, Yusuf bersama Camat Sekarbela akan melakukan koordinasi dengan pihak PLN. Agar nantinya, tujuh tiang listrik yang ada di dalam drainase segera dipindahkan. Sehingga, aliran air dari saluran drainase bisa lancar seperti semula.

a�?Akan segera kami hubungi,a�? tegas Camat Sekarbela, Cahya Samudra pada Lombok Post.

Menurut Cahya, untuk sementara waktu, pihaknya hanya melibatkan sejumlah tim keamanan lingkungan dan masyarakat dalam membersihkan saluran drainase. Karena kondisinya sudah sangat darurat.

Selain jalan Lingkar Selatan, banjir juga terjadi di kawasan perbatasan Jempong Baru dengan Pagesangan, Perumahan Kopajali, kompleks perkantoran, dan sejumlah lingkungan di sekitar Kampus IAIN Mataram. Parahnya lagi, di sepanjang jalan Lingkar Selatan, ketinggian air mencapai lutut orang dewasa.

Salah seorang pengendara yang tengah melintas di jalan Lingkar Selatan, Sarifudin, warga Jempong Baru, Mataram mengatakan, kendaraanya mogok. Karena ia melintasi genangan yang ada di depan Kantor DPRD Kota Mataram hingga Asrama Haji NTB.

a�?Airnya lumayan tinggi, hampir selutut. Saya awalnya tidak tahu kalau genangannya tinggi, dari jauh tidak kelihatan ada genangan,a�? kata Sarifudin.

Sementara di Kecamatan Ampenan, beberapa wilayah kebanjiran cukup parah. Jalan-jalan tergenang air setinggi lutut orang dewasa.

a�?Lebih baik saya putar balik saja, dari pada kendaraan saya mogok seperti orang-orang itu,a�? kata Siti Aminah, salah satu warga Kota Mataram yang tengah melintas.

Terkait dengan kondisi tersebut, Kabid Darurat dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, I Made Gede Yasa mengaku telah bekerja optimal. Yakni dengan menurunkan puluhan anggota BPBD untuk menyedot genangan air di sejumlah titik.

“Untuk meminimalisir genangan dan banjir, kami turunkan puluhan anggota untuk menyedot air menggunakan mesin. Misalnya di Bintaro, Punia, Pejeruk, dan Gomong,a�? kata Yasa. (zad/tea/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka