Ketik disini

Headline Metropolis

Teriakan Itu Jujur Pak Wali!

Bagikan

H Ahyar Abduh, bukan tipe pemimpin yang hanya duduk di balik meja. Dia kerap turun langsung ke lapangan, melihat langsung persoalan yang dihadapi warganya. Saat turun ini, dia harus siap menghadapi keluhan warganya. Ekspresinya macam-macam, ada yang sopan, tak sedikit yang teriak-teriak.

A�———————-

JAM menujukan pukul 12.00 siang. Pria bertopi hitam dengan kaca mata bening itu, terus menyusuri gang-gang jalan di Lingkungan Kebon Roek, Kelurahan Dayen Peken, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Beberapa pria tak kalah tegang mengiringi di belakang. Hanya sedikit yang tampak bercanda. Mereka mungkin tak paham apa arti tangan pria itu di dalam kantong celana.

a�?Pak wali itu, tidak bisa marah-marah. Nunjuk orang saja kalau sedang marah hampir tidak pernah. Kalau mau tahu pak wali sedang marah, lihat saja tangannya pasti dimasukan ke dalam kantong celana,a�? kata sebuah sumber yang layak dipercaya dan dekat dengan wali kota.

Memang ada kalanya saat bersantai, Ahyar kerap memasukan tangannya ke saku celana. Tapi gestur ini akan terlihat sangat lain, ketika Ahyar tengah mendengar sebuah persoalan dan kedua tangannya berada di saku celana.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Saat terjun langsung meninjau Kebon Roek, kemarin (4/2), beberapa kali Ahyar memasukan tangan ke dalam saku celana. Sebuah bahasa isyarat yang bisa saja bermakna Ahyar tak nyaman dengan kinerja bawahannya.

Tak hanya menyusuri gang, Ahyar juga berkeliling melihat saluran drainase di depan pertokoan sisi selatan Pasar Kebon Roek. Dari dalam drainase, tumpukan sampah terus diangkat dengan aroma menyengat. Entah berapa lama sampah itu menggendap di sana.

a�?Dari dulu, setiap kali hujan pasti banjir di sini,a�? kata seorang warga Iswanto.

Dulu Lingkungan Kebon Roek adalah daerah persawahan. Kontur tanahnya lebih rendah dari daerah lain. Karena itu, Iswanto tak heran, jika akhirnya kawasan itu kerap direndam banjir. Ini sudah berlangsung belasan tahun lamanya.

a�?Ya selain drainasenya yang kecil,a�? ujar Iswanto.

Tapi baru saja Ahyar hendak beristirahat siang di sebuah warung, Ahyar didekati seorang wanita tua. Ia mengenakan mukena. Lalu spontan, mendekap wali kota dua priode itu dengan hangat.

a�?Semoga urusan pak wali dilancarkan, itu yang saya doakan di Makkah,a�? ujar wanita itu.

Suara wanita yang cukup lantang itu sempat membuat beberapa orang kaget. Tapi akhirnya, membuat banyak orang geleng-geleng lalu tersenyum. Camat Ampenan Zarkasyi bertutur wanita itu adalah Hj Daimah.

a�?Dia ibunya pak kaling (Kebon Roek),a�? kata Zarkasyi.

A�Wanita tua itu, tampak hangat menyapa Ahyar. Meski rumahnya kerap terendam banjir. Tapi Daimah tetap memperlihatkan kebanggaanya pada sang wali kota.

a�?Memang keduanya sudah saling mengenal lama, kebetulan setelah pulang haji kemarin belum sempat ketemu pak wali,a�? tuturnya.

Tak berselang lama, usai menyantap mie instan dengan telur rebus di sebuah warung, seorang wanita berteriak dengan lantang kearah Ahyar. a�?Pak wali, bagaimana rumah saya kebanjiran pak wali!a�? teriak wanita itu.

Wajahnya terlihat jengkel. Sepertinya ia, sudah bosan dengan banjir yang tiap tahun melanda rumahnya. Sejumlah orang kembali terkaget-kaget. Wanita itu terlihat tak mau berkompromi lagi, dengan keadaanya.

a�?Sabar ya bu,a�? ujar Ahyar menenangkan. Ahyar berusaha tersenyum saat melihat warganya protes langsung di depan wajahnya.

Tapi wanita yang mengaku bernama Junisih Nani itu terus saja memberondong Ahyar dengan pertanyaan lugas. Ia meminta agar banjir bisa cepat diselesaikan. Sehingga dia tak perlu was-was lagi, setiap kali hujan turun.

a�?Airnya sampai segini masuk ke dalam rumah saya pak wali!a�? cetusnya sembari menunjuk titik di bawah lutut.

Ahyar diam, bibirnya masih senyum. Ia terus mendengar wanita itu mengeluarkan uneg-unegnya. Seseorang meraba punggung Junisih, lalu mengelus punggungnya. Sebuah isyarat agar ia memperkecil intonasi suaranya.

a�?Ayo pak wali lihat keadaan rumah saya, kalau tidak percaya,a�? tantangnya, tak peduli dengan elusan di punggungnya.

Ahyar berjalan di belakang Junisih. Wanita itu, terlihat semakin bersemangat. Ia lalu menunjuk rumah yang terlihat dingin oleh genangan air yang masih setinggi satu jengkal di pekarangan rumahnya.

Wanita itu kembali bertanya sekali lagi. a�?Gimana ini pak wali, ayo masuk ke dalam,a�? cetusnya.

Ahyar tersenyum. Ia menjamah pundak wanita itu. Lalu dengan sebuah anggukan ia mengisyarakatkan akan segera kembali ke mobil. Junisih masih memaksa, agar wali kota mau melihat keadaan rumahnya di dalam.

a�?Saya sudah berikan dua mesin pompa air, nanti itu yang akan tangani persoalan banjir di sini,a�? ujar Ahyar pada Junisih.

Wanita itu menarik nafas lega. Ia pun membiarkan Ahyar pergi meninggalkan ia dan rumahnya yang masih tergenang. Dengan suara lantang ia lalu kembali berteriak pada Ahyar.

a�?Lanjutkan pak wali!a�? pekiknya.

Saat ditanya Lombok Post Junisih mengaku spontan saja melakukan itu. Ia mengaku bosan menghadapi banjir yang selalu datang setiap musim hujan. Tapi secara terbuka ia mengaku dirinya adalah pendukung setia Ahyar Abduh.

a�?Justru karena saya pendukung beliau, saya merasa nyaman untuk menuntut agar persoalan saya diselesaikan,a�? ungkapnya.

Ia yakin persoalan ini sebentar lagi akan ditangani. Ia juga senang akhirnya wilayahnya yang selama ini kerap terendam banjir, diberikan mesin pompa air berkekuatan 5,5 pk untuk menyedot air.

a�?Memang dari dulu di sini banjir, karena di sini kan tanahnya lebih rendah, karena itu air turun semua ke sini,a�? terangnya.

Karena itu ia mengaku senang saat Ahyar meninjau langsung lokasinya. Jika intonasinya suaranya terdengar keras, ia mengatakan itu murni karena cara bicaranya memang seperti itu.

Sementara itu Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh mengakui belum bisa sepenuhnya menangani persoalan banjir di kota. a�?Iya ini (Kebon Roek) adalah daerah yang paling sering banjir,a�? cetusnya.

Ia melanjutkan persoalan utama penyebab banjir di kawasan Kebon Roek, bukan semata-mata karena dimensi saluran. Tapi juga karena daerah itu dulu adalah daerah resapan.

a�?Jadi warga dulu membangun di sini tanpa mempertimbangkan lokasinya,a�? ujarnya.

Penanganan jangka pendek sudah dilakukan dengan memberikan langsung dua unit pompa air. Jangka panjangnya, ia berharap dinas terkait bisa mengatasi saluran air yang terlalu kecil.

a�?Penanganan ini, harus bersifat segera,a�? tekannya.

Ahyar menilai penanganan banjir dipengaruhi anggaran. Anggaran yang terbatas, membuat penanganan banjir terkesan lambat.

a�?Anggaran kita terbatas, sedangkan persoalan kota ini sangat banyak yang harus ditangani,a�? tukasnya.

Seharusnya persoalan kota, tidak hanya sepenuhnya jadi persoalan kota. tetapi jadi perhatian pemerintah pusat, provinsi, dan BWS. a�?Saya juga ingin ketemu BWS, biar tahu seperti apa programnya di kota dalam penanganan saluran, biar bisa disinergikan,a�? jelasnya.

Kepala BPBD Kota Mataram Dedy Supriadi mengatakan titik genangan di kota selama banjir kemarin cukup merata. Tapi ia mencatat ada lima yang terparah.

a�?Karang Buaya, Bekicot, Kebon Roek, Pejeruk, sama Punia,a�? kata Dedy.

Banyaknya titik genangan membuat pasukannya sempat kewalahan. Karena terbatasnya anggota di lapangan yang menangani. Sedangkan titik banjir merata di banyak daerah. Dedy mengatakan banyak pekerja lapangannya harus bekerja 24 jam.

a�?Intinya kami akan terus, berusaha sekuat tenaga menangani persoalan ini,a�? tamdas mantan Kepala Dinas Kebersihan Kota Mataram ini. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka