Ketik disini

Metropolis

25 Calon TKW Termakan Rayuan Maut Sponsor

Bagikan

MATARAM-Rayuan maut para calo telah menyebabkan 25 calon TKW asal NTB harus pulang meski baru dua hari di Jakarta. Baru dua hari di Ibu Kota Jakarta, para calon TKW tersebut digerebek aparat keamanan. Mereka pun selamat dari upaya pemberangkatan secara ilegal ke Timur Tengah.

Para calon TKW itu pun dipulangkan kemarin (5/2). Mereka tiba di Lombok International Airport pada pukul 17.00 Wita, dan dengan bus dibawa terlebih dahulu ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmirasi NTB. Mereka didata, sebelum akhirnya dipulangkan ke rumah masing-masing.

Sebagian besar calon TKW ini sudah berumah tangga dan memiliki tanggungan anak yang harus dibiayai. Sebagian nampak malu dan menutup muka saat disorot kamera.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Mereka merupakan korban rayuan maut para calo yang disebutnya dengan istilah sponsor. Para calon TKW itu tidak tahu jika pengiriman pembantu rumah tangga ke Timur Tengah sedang dimoratorium, sehingga menjadi aktovtias terlarang.

Aslimiah, warga Pringgerata Lombok Tengah misalnya. Dia mengaku ditawari bekerja sebagai cleaning service A�di Arab Saudi. Dengan iming-iming gaji besar, ia pun berangkat ke Jakarta dengan biaya sendiri.

a�?Eh baru dua hari di BLK (Jakarta) sudah digerebek,a�? tutur Aslimiah.

Ia memiliki harapan besar bisa bekerja di Arab Saudi. Sebab, ia butuh biaya untuk biaya anak-anaknya sekolah. Demi mendapatkan pekerjaan, Aslimiah akhirnya berhutang Rp 1 juta sebagai ongkos ke Jakarta. Kini ia masih bingung mau membayar hutang tersebut. a�?Habis saya pakai buat beli tiket ke Jakarta,a�? katanya.

Hal senada dialami Fitriah, asal Montong Sapah, Kecamatan Praya. Dia dibawa oleh sponsor bernama Mamiq Andi, dijanjikan ke kerja di Timur Tengah. A�Sebagai biaya pemberangkatan, dia dijanjikan uang Rp 2 juta, tapi dana itu tidak pernah diterimanya, sampai akhirnya dia dipulangkan pemeritah.

Beda halnya dengan Makiah, warga Gawah Pudak, Sekotong itu mengaku baru pertama kali akan berangkat ke Arab Saudi. Ia dan suaminya tertarik karena dijanjikan gaji bagus dan pekerjaan tidak berat. H Mawardi, sponsor yang memberangkatkannya memberinya uang Rp 2 juta, sebagai bekal dalam perjalanan.

a�?Saya tidak tahu kalau ke sana (Arab Sudi) dilarang,a�? katanya.

Suhaini, warga Sambelia Lombok Timur, mengaku sangat bersyukur bisa dipulangkan. Sebab, sebelumnya ia tidak pernah tahu jika dia diberangkatkan secara non prosedural. Ia berada di Jakarta hampir dua bulan, sejak 19 Desemer 2017. Tapi satu bulan setelah itu digerebek petugas Kementerian Tenaga Kerja.

a�?Saya tidak kecewa malah saya bersyukur bisa dikembalikan,a�? katanya.

PT Marco yang menjadi sponsornya menjanjikan dirinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Abu Dhabi. Tapi ia tidak tahu jika bekerja sebagai pembantu di Timur Tengah dilarang. Sebelumnya, ia juga dijanjikan oleh orang yang bernama Pak Hilmi uang Rp 3 juta. Tapi uang itu tidak pernah diterima. Katanya untuk biaya paspor.

a�?Anak saya tiga dan sumi masih ada. Saya memang mau berangkat untuk masa depan anak-anak,a�? ujarnya.

Sementara itu, Fitriansyah Kurniawan Subdit Perlindungan TKI, Direktorat PPTKLN, Kementerian Ketenaga Kerja menjelaskan,A� penggerebekan itu berawal dari laporan warga Kabupaten Bandung Barat, yang kemudian ditindaklanjuti Disnaker setempat.

Setelah melakukan pelacakan, petugas memeriksa BLKLN Restu Putri Indonesia, di Pondok Kopi Jakarta Timur. Di sana ditemukan 100 orang, 75 orang diantaranya akan diberangkatkan ke kawasan Timur Tengah. Semuanya tidak memiliki dokumen yang lengkap.

Mereka brasal dari Jawa Barat 45 orang, NTB 25 orang, SemarangA� dua orang, dan tiga orang dari Sulawesi Tenggara. Para calon TKI itu kemudian dibawa ke RPTC di Jakarta, mereka juga sudah diperiksa Bareskrim Polri. a�?Setelah di BAP baru mereka dipulangkan,a�? jelasnya.

Ia berharap setelah dipulangkan, Disnakertrans dan BP3TKI Mataram menindaklanjuti dengan mengusut para pelaku yang memberangkatkan para TKW. Ia juga berharap di daerah-daerah kantong TKI dilakukan sosialisasi agar warga paham terkait prosedur pemberangkatan calon TKI.

Sebab, ada kemungkinan, dalam waktu dekat akan ada lagi pemulangan. Kementerian juga sudah menggerebek lokasi penampungan calon TKI di daerah Bekasi di tempat PT Hasindo sebanyak 39 orang. Dan 8 orang di antaratnya diketahui dari NTB.

Kepala BP3TKI Mataram Joko Purwanto menyebut, tahun 2017 lalu jumlah TKI asal NTB yang dipulangkan karena bermasalah sebanyak 717 orang. Karena itu, ia merasa perlu terus dilakukan sosialisasi lebih intensif ke masing-masing kabupaten. Pecengahan pengiriman TKI non prosedural ke luar negeri.

a�?Mereka belum tahu ke Timur Tengah dilarang,a�? katanya.

Sekretaris Disnakertrans NTB Mustain menambahkan, semua calon TKW akan dipulangkan ke rumah masing-masing. Kasus itu akan menjadi pelajaran bagi pemerintah daerah. Di antaranya dengan memperbanyak sosialisasi, bahkan melibatkan pemerintah desa. (ili/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka