Ketik disini

Headline Metropolis

Diam-diam DMB Simpan Rp 61,2 M

Bagikan

MATARAM-Sedikit-demi sedikit dana hasil penjualan enam persen saham PT NNT mulai terkuak. Ternyata, tak banyak yang tahu, ternyata uang penjualan saham milik daerah sebetulnya telah ada yang dibayarkan Multi Capital, milik Bakrie Group. Namun, jumlahnya baru Rp 61,2 miliar. Dana itu pun diklaim disimpan rapi di rekening PT Daerah Maju Bersaing (DMB).

Soal adanya dana Rp 61,2 miliar tersebut selama ini pun belum pernah diungkapkan ke publik. Pun saat dana ini menjadi pusaran polemik di media masa. Tak juga diungkap kalau ada uang sudah masuk dan tersimpan di rekening milik PT DMB. Manajemen DMB pun selama ini tak pernah mengungkap hal tersebut ke publik, dan memilih menyimpan rapat-rapat informasi ini.

Dan baru kemarin (7/2), dana Rp 61,2 miliar itu ketahuan. Itupun setelah Direktur Utam PT DMB Andy Hadianto dipanggil Pemprov NTB dan duduk bersama untuk memberi penjelasan detail soal penjualan saham hak daerah sebesar 6 persen di PT Newmont Nusa Tenggara.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Pertemuan tersebut berlangsung selama dua setengah jam. Dimulai pukul 10.00 Wita dan dinyatakan tertutup bagi media. Selain Andy Hadianto, hadir dalam pertemuan itu Direktur DMB Nurdin Noer beserta komisari DMB. Sementara dari pemerintah daerah hadir Kepala Biro Perekonomian Ahmad Nur Aulia, Kepala BPKAD NTB H Supran, Asisten I M Agus Patria, Sekda Kabupaten Sumbawa H Rasyidi, dan perwakilan Pemkab Sumbawa Barat.

Pertemuan mengurai kesimpangsiuran dana hasil penjualan saham yang hingga kini belum sepeserpun masuk ke kas daerah milik para pemegang saham. Sebelumnya ada perbedaan data pula. Hitungan Pemprov NTB, masih ada dana Rp 400 miliar yang harusnya masuk ke kas daerah. Sementara DMB menyebut nilainya tak lebih dari Rp 350 miliar. Belakangan, temuan para aktivis antikorupsi di NTB, ada selisih dana hingga Rp 800 miliar yang disebut sebagai hak daerah pula dalam penjualan saham tersebut.

Manajemen DMB pun dalam pertemuan kemarin merinci berapa dana-dana tersebut. Namun, Asisten II Pemprov NTB H Chairul Mahsul yang berbicara kepada media usai pertemuan merinci secara umum saja.

Bahwa dalam pertemuan kata Chairul, manajemen DMB melaporkan bahwa total dana yang harus dibayarkan Multi Capital, anak usaha Bakie Group kepada DMB adalah uang senilai Rp 718 miliar.

Sebanyak Rp 248,7 miliar dari uang tersebut adalah piutang dividen yang pembayarannya nunggak dari Multi Capital ke DMB semenjak tahun 2012. Sementara nilai penjualan 6 saham di PTNNT sendiri disebut Chairul nilainya Rp 408 miliar.

Pria yang karib disapa CM tersebut menyebutkan, dari Rp 408 miliar dana penjualan saham tersebut, saat ini sudah ada di rekening DMB sebesar Rp 61,299 miliar. a�?Sisanya katanya disanggupin dilunasi (MDB) bulan Maret,a�? kata CM usai pertemuan di ruang kerjanya, kemarin (7/2).

Ditanya semenjak kapan uang Rp 61,2 miliar itu masuk dan berada di rekening DMB, CM mengaku tidak tahu pasti. Dia menjelaskan, pihaknya sama sekali tidak mendalami sejauh itu dalam pertemuan. Sebab, baginya itu merupakan urusan internal perusahaan DMB.

a�?Ndak tahu, ndak tahu,a�? kata CM soal kapan dana tersebut mulai nagkring di rekening DMB.

Seperti diketahui, proses penjualan saham PTNNT ke Medco Energi milik Arifin Panigoro sendiri sudah rampung Desember 2016 silam dengan membayar saham kepada para pemiliknya. Saham 6 persen milik daerah dibayar ke PT Multi Daerah Maju Bersaing, perusahaan patungan milik Pemprov NTB, Pemkab Sumbawa, Sumbawa Barat dan Multi Capital. Sebab, saham tersebut bagian dari kepemilikan 24 persen saham MDB di PTNNT. Namun, oleh Multi Capital, dana penjualan saham tersebut tidak langsung dibayar tunai ke DMB.

Hingga tadi malam, belum diketahui, apakah dana Rp 61,299 miliar itu masuk ke rekening DMB pada Desember 2016 itu atau belakangan. Jika masuk pada Desember 2016, itu berarti sudah setahun lebih dana tersebut tersimpan di rekening DMB. Dan andai kata itu benar, selama setahun pula tak pernah diungkap ke publik, bahwa sudah ada uang Rp 61,299 miliar tersimpan di rekening DMB.

Jangan tanya pula soal pemanfaatannya. Informasi tersebut sama sumirnya. Sebab, meski berstatus sebagai perusahaan milik daerah, DMB diketahui memang tidak memiliki unit usaha sama sekali. Perusahaan ini memang dibentuk untuk proses akuisisi saham PTNNT yang dilepas melalui skema divestasi pada 2010 silam.

Diminta Disetor ke Kas Daerah

CM mengungkapkan, dalam rapat kemarin, telah disampaikan bahwa permintaan pemegang saham agar uang yang sudah tersimpan rapi di rekening DMB tersebut agar disetorkan ke kas daerah. DMB sendiri menyebut bahwa butuh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa untuk mengalihkan uang tersebut ke kas daerah. Sebab, hanya itu mekanisme yang bisa ditempuh untuk memutuskan besaran dana yang diterima tiga pemda pemegang saham. Dimana pemprov dan KSB masing-masing menguasai 40 persen, dan Sumbawa 20 persen.

a�?Sesuai undang-undang PT, hak pemegang saham hanya dividen, kalau non dividen (modal) harus diputuskan melalui RUPS-LB,a�? kata CM merinci alasan lain di balik hal tersebut.

Meski begitu, selain RUPS-LB, kata dia, menyangkut dana ini sebenarnya bisa diputuskan melalui RUPS PT DMB yang dijadwalkan Juni 2018. Tapi jika menunggu rapat itu tentu jarak waktunya sangat lama dari deadline 16 Februari yang ditetapkan gubernur.

a�?Karena itu DMB akan menggelar RUPS-LB sebelum masa tenggat waktu berakhir,a�? ungkapnya.

Dengan demikian, kini Pemprov tinggal menunggu hasil RUPS-LB yang akan digelar DMB. Rapat itulah yang akan menetapkan nasib uang Rp 61,299 miliar tersebut. Jika harus disetorkan ke kas daerah, RUPS-LB yang akan memutuskan berapa hak Pemprov NTB, Pemkab Sumbawa dan Sumbawa Barat.

a�?Apakah nanti Rp 300 miliar disetor, kita tungu saja,a�? tandas CM.

Sementara itu, terkait tenggat waktu, CM memastikan bahwa tenggat waktu tetap berlaku hingga 16 Februari 2018. Jika lebih dari itu, dana Rp 408 miliar tidak kunjung disetorkan ke kas daerah, maka pemerintah daerah akan menggunakan Jaksa Pengacara Negara untuk menagih langsung ke Bakrie Group.

Andy Menolak BicaraA�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�

Sementara itu, Andy Hadianto yang hendak dikonfirmasi soal dana ratusan miliar terkait penjualan saham milik daerah ini, memilih tidak mau berkomentar. Meski didesak wartawan, pria yang kini Ketua KONI NTB itu tetap tak mau berkomentar dan kemudian buru-buru pergi meninggalkan ruangan rapat.

a�?Saya serahkan ke pak CM, dia yang pimpin rapat,a�? katanya lalu bergegas.

Demikian juga dengan pejabat lain yang keluar dari ruang rapat. Semuanya kompak tidak mau mengeluarkan penjelasan. Semua keterangan diserahkan ke Asisten Chairul Mahsul. (ili/r8)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka