Ketik disini

Metropolis

ASN Belum Wajib Berzakat, Gaji Dewan Lebih Pantas Dipotong

Bagikan

MATARAM-Pemerintah boleh saja sangat bersemengat menarik zakat 2,5 persen dari gaji pegawai negeri sipil. Namun, bagi Majelis Ulama Indonesia, para PNS ini sebetulnya belum wajib berzakat. Sebab, penghasilan mereka belum memenuhi hitungan untuk jumlah penghasilan yang wajib terkena zakat.

Ketua Bidang Hukum dan Fatwa MUI NTB TGH Mustamiuddin Ibrahim kepada Lombok Post kemarin (9/2) menjelaskan, zakat profesi dibebankan kepada para pekerja, mulai dari tukang sapu, tukang parkir, buruh, karyawan, termasuk PNS, dan sebagainya. Tetapi zakat baru dikenakan apabila gaji atau penghasilannya sudah mencapai nisab.

Saat ini MUI sepakat nisab harta yang dikenakan zakat bila dia sudah mencapai 85 gram emas murni, atau jika dirupiahkan dengan harga 1 gram emas Rp 500 ribu maka sekitar Rp 42 juta lebih. Bila gajinya setiap bulan sebesar itu, maka wajib dikenakan zakat. a�?Tetapi kalau tidak cukup (nisab) tinggal dia berinfaq atau bersedekah saja,a�? terangnya.

Dengan gaji antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan, menurut MUI para ASN belum diwajibkan berzakat.A� Zakat baru bisa ditarik bila hartanya sudah mencapai satu nisab.

a�?Mereka belum wajib berzakat karena penghasilannya belum mencapai nisab,a�? kata Mustamiuddin.

Tapi bila ASN diminta bersedakah maka tidak jadi masalah, berapapun gajinya tidak jadi soal. Sedekah tidak harus menggu nisab, jumlahnya pun tidak ditentukan. a�?Itu sudah difatwakan oleh MUI, kalau pemerintah macem-macem atas nama zakat, belum, tapi kalau atas nama infaq boleh saja,a�? katanya.

Menurutnya yang lebih pantas berzakat adalah anggota DPR. Mereka punya penghasilan sangat besar, dan mestinyaA� sangat pantas dipotong untuk zakat tiap bulan. Jangankan DPR pusat, DPRD provinsi saja gajinya besar. Selain itu ketua pengadilan tinggi agama, para kontraktor, dan sebagainya. Mereka sudah lebih dari Rp 40 juta tiap bulan.A� a�?Mestinya dipotong untuk zakat,a�? tegasnya.

Pentingnya Transparansi

Sementara itu, langkah pemerintah yang hendak memungut zakat dengan memotong gaji para PNS diingatkan agar dibarengi transparansi pengelolaan dana zakat. Dengan demikian, para aparatur sipil negara tidak akan ragu-ragu mengeluarkan zakat penghasilannya.

a�?Harus berbasis akuntabilitas dan transparansi, agar publik juga mengetahui distribusinya. Karena selama ini mereka kurang tahu,a�? kata Wakil Rektor Universitas Islam Negeri Mataram H Masnun Tahir kepada Lombok Post, kemarin.

Baginya, pengelolaan zakat yang transparan akan membuat lembaga amil zakat semakin dipercaya masyarakat. Spirit keterbukaan itulah yang harus dijunjung tinggi, karena yang dikelola adalah harta yang dikumpulkan dari orang banyak. Kalau pengelolaannya tidak akuntabel, publik akan bertanya-tanya.

a�?Kalau manajemennya bagus dan terbuka maka masyarakat juga akan tergerak,a�? ujarnya.

Ia menilai selama ini masyarakat cukup ikhlas menyalurkan zakatnya melalui lembaga-lembaga yang ada. Tinggal bagaimana para ASN atau publik bisa mengetahui kemana saja dana-dana itu disalurkan. Banyak media yang bis digunakan, seperti koran, terlevisi, radio, dan media internet.

a�?Jadi berbanding lurus antara keikhlasan masyarakat dengan pengelolaan yang akuntabel,a�? katanya.

Ia percaya lembaga-lembaga yang ada di NTB sudah bekerja profesional. Mereka telah mengelola semua zakat dengan baik. Tetapi masih ada opini miring bahwa yang makmur adalah pengelola, sementara yang diberikan bantuan tidak kunjung berubah nasibnya.

a�?Mohon maaf ini sepintas yang saya tangkap,a�? kata Masnun.

Terlepas dari itu, semangat Kementerian Agama untuk menerapkan zakat 2,5 persen dari penghasilan PNS adalah untuk mengoptimalkan peran zakat dalam pembangunan. Politik pengelolaan zakat sebenarnya sudah lama, itu dibuktikan dengan adanya undang-undang dan banyaknya peraturan daerah yang mengatur soal zakat.

a�?Apa yang dilakukan Menteri Agama inikan untuk ASN yang sudah mencapai nisab, kalau tidak ya tidak dibebankan,a�? katanya.

Meski demikian, Masnun mengatakan, mafaat zakat sangat besar dan luar biasa bisa memberikdan dampak sosial. Dengan zakatlah umat Islam diuji kesalehan sosialnya. Karena dengan dana yang dikeluarkan mereka bisa membantu banyak orang miskin. a�?Tidak ada cerita orang rajin zakat hidup miskin,a�? katanya. (ili/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka