Ketik disini

Headline Metropolis

Human Trafficking Marak, Dibungkus Beragam Modus

Bagikan

Sebagai kantong tenaga kerja, NTB menjadi sasaran empuk jaringan transnasional kejahatan perdagangan orang (human trafficking). Ini dibuktikan dari kurun waktu dua tahun terakhir. Tak kurang dari 7 tenaga kerja asal NTB menjadi korban perdagangan orang. Beruntung, tidak saja berhasil memulangkan korban, kepolisian juga mengungkap pelakunya.

=== = == ==

Jumlah tujuh warga NTB yang menjadi korban perdagangan orang, hanya sebagian kecil. Seperti fenomena gunung es, kejahatan ini menyimpan lebih banyak lagi korban di balik pengungkapan kepolisian.

Mereka yang menjadi korban, umumnya tak sadar masuk dalam perangkap. Apalagi para sindikat kejahatan ini, menjalankan bisnisnya dengan rapi. Tak jarang menggunakan sistem sel terputus saat merekrut calon korban.

Ada beragam modus yang biasanya dilakukan untuk menjerat korban. Pertama, pelaku memberikan iming-iming gaji besar dengan bekerja di luar negeri. Kedua, korban diberangkatkan sebagai TKI formal, namun setelah tiba di negara penempatan malah menjadi asisten rumah tangga ilegal.

Modus ini, sempat dilakukan dua pelaku asal Dompu, yakni UA dan SU. Dari hasil penyidikan kepolisian, keduanya telah melakukan dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TTPO). Korbannya enam warga Dompu yang diberangkatkan ke Turki.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Kedua tersangka memiliki peran yang nyaris serupa. Sama-sama sebagai perekrut calon tenaga kerja untuk bekerja di luar negeri. Bedanya, tersangka SU merekrut langsung dari daerah asal korban, yakni di Dompu.

Selanjutnya, korban diserahkan kepada UA, warga Bima yang berdomisili di Jakarta. Dari sana, keenam korban diberangkatkan menuju Turki. Untuk memuluskan rencananya, keberangkatan mereka dibiayai langsung perusahaan yang memberangkatkan.

Bukan itu saja, setiap korban dijanjikan gaji besar dengan masa kerja hanya 2,5 tahun. Korban TPPO keduanya, di antaranya merupakan orang terpelajar. Dua orang bahkan lulusan sarjana kebidanan dan perawat. Namun, karena iming-iming manis dari pelaku, mereka mau untuk berangkat menuju Turki.

Menurut pengakuan pelaku, yakni SU, dirinya tidak mengetahui persis berapa gaji yang ditawarkan. Dia hanya diminta untuk mencari calon tenaga kerja saja. Selain enam orang tersebut, mereka sudah mengirimkan 10 orang ke luar negeri. Orang-orang tersebut direkrut langsung oleh dirinya dan UA.

a�?Sudah ada 10 orang yang berangkat,a�? aku SU.

Modus ketiga adalah memberangkatkan korban dengan dokumen palsu. Untuk modus ini, juga menimpa tenaga kerja asal NTB. Kali ini korbannya adalah Juliani, tenaga kerja wanita asal Lombok Utara (Lotara).

Penanganan perkaranya berawal dari penyelidikan kasus Rabitah, mantan TKW dari Lotara. Juliani sendiri merupakan adik dari Rabitah. Dari sana, polisi menetapkan HU dan IJ sebagai tersangka. Keduanya diduga memberangkatkan Juliani, yang saat itu masih di bawah umur, dengan memalsukan dokumen.

Selain Juliani dan TKW asal Dompu, awal Februari ini, 25 orang calon tenaga kerja nyaris menjadi korban. Gara-gara calo mereka nyaris dijual ke Timur Tengah menjadi pembantu rumah tangga. Beruntung, aparat menggerebek tempat penampungan mereka di Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Para calon TKW tidak tahu jika pengiriman pembantu rumah tangga ke Timur Tengah dilarang. Seperti Aslimiah, warga Pringgarata, Lombok Tengah (Loteng). Dia ditawari bekerja sebagai cleaning serviceA� di Arab Saudi. Dengan iming-iming gaji besar, ia pun berangkat ke Jakarta dengan biaya sendiri.

a�?Baru dua hari di sana sudah digerebek,a�? tutur Aslimiah.

Hal senada dialami Fitriah, asal Montong Sapak, Kecamatan Praya, dia dibawa sponsor berinisial MA.A� Sebagai biaya pemberangkatan, dia dijanjikan uang Rp 2 juta, tapi dana itu tidak pernah diterimanya. Sampai akhirnya dia dipulangkan pemerintah.

Beda halnya dengan Makiah, warga Gawah Pudak, Sekotong, Lombok Barat (Lobar). Dia A�mengaku baru pertama kali akan berangkat ke Arab Saudi. Ia dan suaminya tertarik karena dijanjikan gaji bagus dan pekerjaan tidak berat. HM A�sponsor yang memberangkatkannya memberinya uang Rp 2 juta, sebagai bekal dalam perjalanan.

a�?Saya tidak tahu kalau ke sana (Arab Sudi) dilarang,a�? katanya.

Proses penegakan hukum terhadap TPPO, memang cukup kompleks. Selain modus yang beragam, banyak orang yang menjadi korban justru tidak melapor karena merasa bukan menjadi bagian dari kejahatan human trafficking.

a�?Banyak modusnya. Misalnya, dari Lombok, kadang mereka disuruh berangkat sendiri ke Jakarta. Dari Jakarta, langsung berangkat ke luar negeri,a�? ujar dia.

Karena itu, pengungkapan TPPO tidak bisa dilakukan kepolisian seorang diri. Mereka juga membutuhkan peran aktif dari pemangku kepentingan, yang terkait langsung dengan persoalan buruh migran ini.

a�?Ini kan transnational crime, polisi tidak bisa bekerja sendiri untuk penanganannya,” tambah Kasubdit IV Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Pujewati.

Terlepas dari itu, Pujewati mengimbau kepada penyedia jasa pengiriman tenaga kerja, untuk tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Memanfaatkan kondisi warga NTB yang ingin bekerja, tapi difasilitasi dengan cara yang tidak benar.

“Siapa pun yang terkait, besar atau kecil keuntungan yang didapat, akan tetap mendapat hukuman yang sama,” tegas Pujewati.(wahidi akbar sirinawa/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys