Ketik disini

Headline Metropolis

Satu Ton Sabu Gagal Edar, Ribuan Nyawa Selamat

Bagikan

BATAM-Keberhasilan KRI Sigurot-864 menggagalkan penyelundupan satu ton sabu mendapat apresiasi Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Minggu (11/2) Hadi bertolak ke Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Batam untuk bersua dengan seluruh awak kapal perang tersebut.

Dia mengaku bangga lantaran dengan segala keterbatasan, anak buahnya mampu bekerja maksimal. Bagaimana tidak? Apabila berhasil diseludupkan dan beredar, seluruh sabu yang dibawa kapal MV Sunrise Glory itu berpotensi mengancam jutaan nyawa.

Hadi menjelaskan bahwa dengan wilayah yang didominasi perairan, alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL memang belum sepenuhnya ideal. Namun, kondisi itu tidak lantas membuat prajurit matra laut minim prestasi.

“Masih bisa operasi sesuai kemampuan yang ada,” ungkap orang nomor satu di institusi TNI tersebut. Sukses menggagalkan sabu dengan jumlah luar biasa banyak adalah salah satu bukti nyata. Sebab, keberhasilan itu tidak diperoleh dengan mudah. Mengingat kapal MV Sunrise Glory sudah lama menjadi incaran aparat.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Selain sudah jadi target sejak tahun lalu, kapal tersebut juga bukan pertama kali masuk wilayah Indonesia dengan tujuan serupa. Yakni menyelundupkan sabu. Berdasar data dari Badan Narkotika Nasional (BNN), setidaknya sudah tiga kali kapal itu masuk Indonesia. Namun, baru kali ini aparat berhasil menangkapnya.

“Hal itu adalah salah satu bagian dari prestasi bersama,” ucap Hadi. Sebab, TNI AL tidak bergerak sendiri. Mereka juga dibantu oleh BNN, Polri, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan instansi lainnya.

Lantaran setara dengan menyelamatkan jutaan nyawa, keberhasilan menggagalkan penyelundupan sabu tersebut dinilai tepat sebagai momentum untuk terus meningkatkan kerja sama antara TNI dengan instansi lainnya. “Saya minta TNI AL khususnya melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait. Utamanya kepolisian, BNN, dan Bea Cukai,” pinta Hadi.

Itu penting karena upaya penyelundupan sabu yang dilakukan menggunakan kapal MV Sunrise Glory turut menegaskan kembali bahwa Indonesia masih menjadi pasar besar bagi bandar narkotika.

Bukan hanya pasar besar bagi bandar di dalam negeri, melainkan juga bagi pemasok dari luar negeri. “Didukung oleh produsen dan pengedar lintas negara,” kata Hadi.

Untuk itu, tindakan tegas dan keras harus terus dilakukan. Jangan sampai, narkotika semakin merajalela dan merusak bangsa. Dia pun mendorong BNN, Polri, serta instansi lain yang lebih concern mengurus masalah narkotika terus bergerak. TNI memastikan bakal selalu mendukung mereka. “Sehingga upaya mereka (bandar dan pengedar) melalukan penyelundupan di wilayah NKRI bisa dihalau seperti yang kita lihat (di kasus kapal MV Sunrise Glory),” tambah panglima.

Selaras dengan keterangan Hadi, Ketua DPR Bambang Soesatyo menyampaikan bahwa kerja sama antara TNI, Polri, BNN, Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu, serta instansi lainnya harus diteruskan. Bila perlu semakin diperkuat. Tidak hanya itu, pejabat yang akrab dipanggil Bamsoet itu pun meminta aparat menindak tegas seluruh dalang dibalik peredaran narkotika di tanah air. Termasuk yang berperan dalam upaya penyelundupan menggunakan kapal MV Sunrise Glory.

“DPR menyarankan tenggelamkan kapal ini (MV Sunrise Glory) dan hukum mati pelakunya,” kata dia tegas.

Sementara itu, Kepala BNN Komjen Budi Waseso menuturkan bahwa sinergitas antara instansinya dengan TNI, Polri juga instansi lain penting untuk menekan potensi masuknya narkotika melalui berbagai jalur. Dengan kerja sama yang baik, peluang bandar memasok narkotika semakin kecil. Kemudian peluang untuk memutus jaringan yang ada juga kian besar apabila kerja sama antar instansi kuat. “Jaringannya harus kami musnahkan dan berantas,” ucap dia.

Tidak sampai di situ, kerja sama dengan otoritas di luar negeri juga tidak kalah penting. Pria yang dikenal dengan panggilan Buwas itu mencontohkan, sabu yang berupaya diseludupkan menggunakan kapal MV Sunrise Glory. BNN mendapat tambahan informasi berkat kerja sama dengan otoritas di luar negeri.

“Info yang kami dapat (sabu) itu sebenernya berasal dari Tiongkok. Dan kami bekerja sama kemarin dengan Australia. Mereka juga menginformasikan kepada kami,” beber dia.

Selain itu, informasi tambahan juga dia peroleh dari otoritas di Thailand. Namun demikian, dia belum bisa membeberkan secara detail jaringan yang mengatur penyelundupan tersebut. Sebab, Buwas mendapat informasi kapal itu memuat sabu sebanyak tiga ton. Hanya saja, dia belum tahu pasti dua ton sabu lainnya berada di mana.

“Sedang kami kembangkan bersama TNI AL. Masih dicari kerena informasi yang kami dapat pertama adalah tiga ton dari kapal itu,” bebernya.

Dia pun membenarkan bahwa kapal yang tertangkap saat menyamar menggunakan bendera Singapura tersebut bukan kali pertama masuk Indonesia dengan tujuan menyelundupkan sabu. “Jadi, kami akan dalami, kami kembangkan seluruhnya,” kata dia tegas.

Yang pasti, sambung Buwas, jaringan yang mengendalikan penyelundupan tersebut merupakan jaringan internasional. Mereka kerap menyelundupkan narkotika dalam jumlah besar. Termasuk dua kali penyelundupan yang mereka lakukan sebelumnya. “Jumlahnya besar-besar,” ucap dia.

Untuk itu, pengembangan terus dilakukan agar proses yang dilakukan oleh BNN bersama TNI, Polri, dan instansi lainnya tidak berhenti sampai menggagalkan penyelundupan saja. Melainkan sampai jaringannya terbongkar tuntas.

A�Penyergapan Dalam Setengah Jam

Ketika KRI Sigurot-864 menangkap kapal MV Sunrise Glory, mereka tengah melaksanakan tugas Operasi Pengamanan Perbatasan Indonesia – Singapura 2018. Adalah Mayor Laut (P) Arizona Bintara yang memimpin seluruh awak kapal perang tersebut. Ketika diwawancarai kemarin, dia menjelaskan bahwa proses penyergapan kapal pengangkut sabu lebih dari satu ton itu tidak lama. Bahkan tidak lebih dari satu jam. “Kami pengejaran (sampai penyergapan) setengah jam. Kemudian pemeriksaan sekitar dua jam,” ucap dia.

Prosesnya berlangsung ketika KRI Sigurot-864 tengah berpatroli di perairan Selat Philips. “Kami menemukan kapal berbendera Singapura melintas keluar dari alur yang disediakan untuk internasional,” terang Arizona.

Lantaran merasa bertanggung jawab dan berwenang melaksanakan pemeriksaan, pengejaran dilakukan. “Karena ada sedikit upaya untuk melarikan diri. Kami kejar dengan merapat dan kami laksanakan pemeriksaan,” beber dia. Meski sama sekali tidak ada perlawanan maupun kontak senjata, dia dan anak buahnya tetap mengamankan kapal tersebut.

Sebab empat awak kapal yang menumpang di kapal itu tidak membawa dokumen lengkap. Bahkan diduga menggunakan dokumen palsu. Untuk itu, dia langsung melapor kepada komando atas. Dari sana perintah membawa kapal tersebut ke pangkalan terdekat keluar. “Perintahnya dibawa ke (Lanal) Batam. Saya bawa ke Batam,” imbuh Arizona.

Melalui pemeriksaan lanjutan di Batam, diketahui bahwa kapal tersebut membawa muatan sabu dengan berat mencapai satu ton. Atas keberhasilan itu, kemarin Arizona berikut anak buahnya dan beberapa petugas BNN, Polri, serta Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu mendapat penghargaan dari panglima TNI. (syn/JPG/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka