Ketik disini

Headline Kriminal

Tersangka TPPO Buka Mulut, Polisi Buru Pelaku Hingga Jakarta

Bagikan

MATARAM-Kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Turki terus bergulir. Dua tersangka dengan inisial UA dan SU rupanya hanya sebagai perantara saja. Mereka menjalankan perintah dari seseorang di Jakarta untuk mencari calon tenaga kerja dari wilayah Dompu dan Bima.

Kuasa hukum kedua tersangka, Yan Mangandar mengatakan, kliennya telah mengungkap beberapa fakta selama pemeriksaan di tingkat penyidikan. Salah satunya, terkait nama lain yang terlibat dalam kejahatan perdagangan manusia ini.

“Ada beberapa nama yang sudah disebutkan,” kata Yan, kemarin (12/2).

Nama yang telah disebutkan itu, kata Yan, dianggap kliennya sebagai bos mereka. Fakta tersebut terungkap ketika pemeriksaan terhadap tersangka dengan inisial UA.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ order=”desc”]

Bos itu yang selama ini mendanai dan menyuruh UA mencari korban untuk dipekerjakan di Turki. Guna meyakinkan korban, kepada UA, si bos menyebut bahwa dirinya memiliki perusahaan penyaluran tenaga kerja resmi di Turki. Bukan itu saja, bos juga menjanjikan gaji besar dengan jaminan keamanan kepada korban.

Yan mengatakan, kliennya baru pertama kali bekerja dengan bos. Dari perekrutan itu, SU dan UA mendapat keuntungan sekitar Rp 2 juta. “Mereka baru ketemu dua kali saja dengan bos itu. Ketemunya di Jakarta,” ungkap dia.

Selama melakukan perekrutan, tersangka mengaku tidak melakukan paksaan. Setelah korban setuju, mereka diminta untuk mengurus sejumlah dokumen kependudukan. Korban juga diajak untuk mengurus paspor dan diberikan uang saku.

“Setelah semua lengkap, mereka diantar ke Jakarta. Di sana menginap beberapa hari di rumah UA,” kata Yan.

Beberapa hari di rumah UA, korban kemudian dijemput seseorang dengan inisial B. Orang tersebut mengaku sebagai penghubung UA dan bosnya. “Ada orang yang menjemput lagi. Penjemputan itu juga atas perintah bosnya,” tuturnya.

Setelah korban berada di tangan bos, kedua tersangka mengaku tidak mengetahui proses selanjutnya. Meski demikian, UA sempat beberapa kali menanyakan kepada bosnya, mengenai keadaan korban. Pertanyaan itu kemudian dijawab bahwa kondisi korban baik-baik saja.

“Tersangka baru tahu kalau kondisi korban seperti itu setelah diperiksa penyidik,” ungkap Yan.

“Mereka juga menyampaikan permintaan maaf kepada korban dan keluarganya, karena merasa ditipu sama bos dan B itu,” tambah dia.

Lebih lanjut, menurut Yan, kepolisian perlu juga untuk menindaklanjuti keterangan yang diberikan kliennya. Menangkap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kasus ini. “Ini kan berjejaring. Tidak mungkin kalau klien saya sendiri. Jadi dari keterangan itu bisa dikembangkan lebih jauh,” tandas Yan.

Sementara itu, Dirreskrimum Polda NTB Kombes Pol Kristiaji mengatakan, pendalaman terhadap kasus itu tetap dilakukan jajarannya. Termasuk menyelidiki jaringan ke atas dari kedua tersangka.

“Iya itu juga. Kan masih ada yang kita kejar ini di Jakarta,” kata Kristiaji. (dit/r2)

A�

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka