Ketik disini

Feature Headline

Bangga dengan Adab Para Santri

Bagikan

Beberapa waktu terakhir murid tak menghargai guru menjadi topik yang hangat. Di pesantren seolah memberi bukti menjadi tempat yang tepat menempa akhlakul karimah. Tak hanya pintar, santri pun dituntut memiliki prilaku terpuji.

***

SETELAH disambut keramahan kiai, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan santri di Ponpes Bustanul Huffaz, Sampang, Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi segera beranjak. Masih ada pondok di Pamekasan yang harus dituju. Kendaraan melaju cepat. Ponpes tujuan adalahA�Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba). Waktu acara sedikit molor. Setelah 20 menit berlalu, perjalanan mulai masuk ke dalam kampung. Mengejutkan, begitu hendak masuk ke ponpes. Ada ribuan santri berbaris rapi dari jalan hingga menuju pondok

“Ini dari tadi lho menunggunya,” kata Udo Yamin Majdi.

Ya, ribuan santri yang berbaris hingga kiloan meter menyambut alumnus Universitas Al-Azhar,A�Kairo, Mesir. TGB pun disambut Dewan Aa��wan Ponpes Muba RKH M. Tohir Abd. Hamid. Sebelum mengisi seminar kepada santri, gubernur santri ini bertemu dengan sejumlah ulama, kiai, dan alumni Al-Azhar di aula pesantren. Di tempat itu TGB juga berkesempatan menyaksikan video pendek sejarah dan perkembangan Ponpes Muba. Ingin menunjukkan kemampuan santri, Kiai Tohir meminta santrinya unjuk kemampuan satu per satu santri disuruh berkomunikasi bahasa asing. Mulai bahasa Arab, Inggris, Mandarin, Korea, Prancis, Jepang,A�dan bahasa asing lainnya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ order=”desc”]

“Coba giliram satu-satu. Kalau Korea saya tahunya banyak.menggunakan hamida, hamida,” ucap TGB.

Penyampaian santri Muba dengan bahasa asing disimak TGB dengan serius. Sembari berkelakar, gubernur dua periode ini menyebut bila kemampuan santri luar biasa tersebut harusnya diikuti santri lainnya.

“Meski saya sendiri tak paham. Kalaupun salah tak tahu, tapi saya yakin benar,” ujar TGB tersenyum.

A�TGB kemudian di daulat memberi motivasi ribuan santri Muba. Santri boleh berada di tempatA�yang jauh dari keramaian. Boleh saja berada di dusun atau kampung. Tapi jika memiliki ilmu, iman, dan akhlak, santri itu nanti bisa menjelajahi dunia.

Gubernur terbaik 2017 juga mengingatkan santri agar memiliki akhlak mulia. Dia sepakat dengan slogan Ponpes Muba yang berbunyi, Kesopanan lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan. Slogan itu memang sesuai dengan ajaran Islam untuk memerhatikan akhlak. Seorang ulama menanyakan kepada muridnya. Pertanyaan yang disampaikan bukan berapa kitab yangA� sudah dihafal, berapa juz Alquran yang dihafal.

“Tapi, yang ditanya oleh ulama itu apakah kamu sudah selesai ngaji kitab Taa��limul Mutaallim? Ini pentingnya akhlak,a�? terangnya.

Dewan Aa��wan Ponpes Muba RKH M. Tohir Abd. Hamid menilaiA�TGB adalah sosok pemimpin yang memiliki latar belakang keagamaan yang kuat. Dia juga mampu menjalankan roda pemerintahan.

Penghormatan istimewa dari para santri yang terjadi di Ponpes Muba dengan berjajar di sepanjang jalan, kembali terulang keesokan harinya saat TGB keA�LPI Al-Hamidy, Banyuanyar. TGB benar-benar dibuat kagum. Sampai membuka jendela mobil dan memberi salam pada para santri.

“Ini istimewanya santri. Adab yang terbentuk karena kebiasaan,” kata TGB.

Pada kesempatan tersebut, TGB menggelar dialog kebangsaan dengan para kiai dan lora. Sejumlah lora pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Di antara mereka banyak yang bertanya berkenaan dengan pemerintahan di NTB, ekonomi, dan pendidikan.

a�?Alhamdulillah hari ini kita ditakdir oleh Allah bertemu langsung dengan Bapak Zainul Majdi dalam rangka silaturahmi dengan kiai muda dengan para habaib di tempat yang sangat sederhana ini,a�? kata Pengasuh LPI Al-HamidyA�RKH Muhammad Rofii Baidhowi saat menyampaikan sambutan.

Kiai Rofii Baidhowi menilai TGB merupakan gubernur yang bisa dikatakan sukses. Di sela-sela kesibukanA�menjadi gubernur, dia masih menyempatkan dan tidak meninggalkan tradisi kepesantrenan. Seperti mengadakan muhadarah ammah, daurah ilmiyah, dan kegiatan-kegiatan lain dengan para habaib dan ulama. Kiai sepuh ini bahkan mendoakan setelah berkantor dari NTB, selanjutnya TGB berkantor di Monas.

Suasana akrab tergambar begitu jelas. TGB pun kembali diminta bisa memberi motivasi santri di Banyuanyar. TGB dinilai sebagai patron yang layak dicontoh, dengan latar belakang pesantren, sanggup memberi kontribusi untuk negeri. Usai menjumpai santri, TGB diajak menikmati makanan sate madura. Bersama para ulama Cucu Maulanasyeikh TGH M Zainuddin Abdul Madjid ini membaur. Sebelum meninggalkan ponpes, mendadak TGB kembali masuk. Ia menyapa tukang sate di pondok.

“Ini sate madura terenak yang pernah saya rasakan,” ucapnya sembari merangkul tukang sate. (FEBRIAN PUTRA, Madura/r8/bersambung)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka