Ketik disini

Feature

Santri Bisa Memberi Kontribusi untuk Negeri

Bagikan

Kedatangan Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi ke Madura bergaung cukup luas. Gubernur santri ini pun diikuti aktivitasnya. Termasuk ketika mengisi pengajian di ponpes.

***

USAI berjumpa kiai sepuh H Sholeh Qosim, Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi langsung menuju Bangkalan, Madura. Sejak melintasi Jembatan Suramadu, tak ada hambatan berarti. Hampir satu jam setengah TGB berada di kendaraan. Sebelum akhirnya tiba di Demangan, Bangkalan. Lokasi wisata religi yang terkenal di Bangkalan. Masjid megah dengan arsitektur cantik ada di wilayah ini.

Begitu tiba, TGB langsung menanyakan dimana lokasi makam yang dituju. Gubernur santri ini akan ziarah ke makam KH Kholil atau yang kerap disebut Syaikhona Kholil Bangkalan. Ulama yang punya peran penting melahirkan para muassis (pendiri) pondok pesantren (ponpes) terkenal di Madura dan Jawa.

Sebut saja pendiri Ponpes Tebuireng Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Ponpes Bahrul Ulum Tambak Beras KH Wahab Chasbullah, pendiri Ponpes Denanyar KH Bisri Syansuri ataupun pendiri Ponpes Salafiyah Sukorejo, Situbondo RKH Asad Syamsul Arifin. Buah dari restu Syaikhona Kholil lahir jamiyyah terbesar Indonesia. Nahdlatul Ulama.

Usai menunaikan Salat Zuhur berjamaah, TGB menuju bagian kanan masjid. Di sanalah lokasi makam Syaikhona Kholil. Usai memanjatkan doa, TGB beranjak untuk melanjutkan ke tujuan berikutnya. Di penghujung pintu keluar seorang pria langsung bersalaman. Lelaki berkopiah ini pun terus mengikuti TGB.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ order=”desc”]

“Jadi ya, mau ke Radar Madura?,” tanya dia.

Lelaki ini baru dikenal, namun menawarkan diri untuk mengantar ke kantor media cetak lokal Group Jawa Pos. Sedan hitam hitamnya pun langsung berada di depan mobil TGB. Tak sampai sepuluh menit, rombongan pun tiba di kantor Radar Madura. Awak media langsung menyambut doktor ahli tafsir ini. Begitu TGB masuk, pria yang sedari tadi mengikuti di Makam Syaikhona Kholil pun memperkenalkan diri.

“Saya Mahfud, karena tahu ada TGB saya menunggu di makam. Saya dari pagi menunggu, saya memang berharap bisa jumpa, beliau itu pemimpin masa depan,” terangnya.

Meski di dalam kantor Radar Madura puluhan menit, pria ceking ini tak kunjung beranjak. Ia menunggu sampai silaturahmi gubernur dua periode ini berakhir. Entah tahu dari mana, yang jelas dengan detail dia tahu jadwal TGB selama berada di Madura.

Usai dari kantor Radar Madura, sesuai jadwal TGB akan mengunjungi ponpes pertama di Pulau Madura. Tujuannya adalah Ponpes Syaikhona Kholil yang berada tak jauh dari Alun-Alun Bangkalan. Tiba di ponpes ini, TGB disambut hangat. Pengasuh ponpes RKH Fakhrillah Aschal bersama Ketua PCNU Bangkalan KH Makki Nasir bergiliran memeluk TGB. Salah satu gubernur terbaik 2017 ini langsung dibawa ke aula pondok. Disana ada ratusan santri dan pengurus NU Bangkalan menunggu.

KH Makki Nasir didaulat untuk menyampaikan kata sambutan atas nama ponpes. Dalam sambutannya Kiai Makki mengingatkan soal berbangsa dan bernegara. Salah satu yang penting adalah menjaga toleransi. Kebhinnekaan yang ada harus dijaga.A�Santri yang hadir serius menyimak. Beberapa membawa buku, mereka menuliskan apa yang disampaikan dari forum ini.

Kepada santri, TGB menyampaikan, ponpes tak hanya menuntut ilmu. Ponpes tempat menempa diri. Dalam perjuangan umat, semangat perlawanan dalam penjajahan, menggelora dari ponpes.

“Sebagai anak ponpes, mari menghargai. Dari pondok akan menjadi bintang-bintang,” kata gubernur dua periode ini.

Syaikhona Kholil, lanjut TGB, semua kiprahnya. Para santri harus menghargai dan memberi penghargaan. Sanad ilmu Maulanasyeikh TGH M Zainuddin Abdul Madjid sama dengan Syaikhona Kholil. Pohon ilmunya satu dan sama. Tokoh ahlusunnah waljamaah kuat, karena kelompok para ulama. Islam ahlusunah waljamaah yang menjagaA� Indonesia. TGB pun memberi nasihat supaya para santri memanfaatkan waktu.A� 24 jam sehari semalam yang membedakan adalah yang hidup di dalamnya dan bisa memanfaatkan. Usia para santri adalah usia menyerap.

“Mumpung muda serap. Karena kalau tua susah,” ucapnya.

Tak hanya komunikasi satu arah, TGB pun memberikan kesempatan bertanya. Diantara pertanyaan yang ditujukan kepada TGB adalah soal mengikis kemungkaran dalam politik. Menurut TGB, politik bila dari awal ada niat menjatuhkan, maka akan menjatuhkan. Bila niatnya untuk memberi manfaat, maka akan bermanfaat. Politik itu membersihkan badannya, kemudian mengisi dengan yang baik.

Di Ponpes Syaikhona Kholil ada pemandangan menarik saat TGB bersama RKH Fakhrillah Aschal akan salat di musala setempat. Ratusan santri langsung mengikuti dari belakang, dengan cepat mereka berwudhu. Mereka semua ikut menjadi makmum. Begitu jamaah usai, tak lama posisi santri langsung membelah dalam dua sisi. Kiai Fakhrillah bersama TGB akan keluar musala, santri berbaris rapi. Menunduk hormat menanti para ulama keluar dari musala. Tak dibuat-buat, semua santri tak ada yang bersuara. Sunyi. Musala asli peninggalan Syaikhona Kholil ini menjadi saksi ketundukan dan penghormatan santri pada ulama.

Usai dari Ponpes Syaikhona Kholil, TGB langsung menuju Sampang. Tujuannya adalah Ponpes Bustanul Huffadz asuhan KH Aunur Rofiq Mansur. Di ponpes para penghafal Quran, sambutan santri dan warga sekitar ponpes cukup luar biasa. Kepada para santrinya Kiai Aunur Rofiq memberi motivasi, latar belakang pesantren tak membuat santri kalah. Terbukti Gubernur NTB sudah memberi contoh. Latar belakang santri, hafal Quran, namun sanggup menjadi pemimpin tertinggi di pemerintahan.

A�”Teladan ini harus bisa kalian ambil,” katanya.

Kembali di ponpes ini, TGB memberi motivasi kepada santri. Para santri mendapat nasehat supaya betul-betul mendalami dan memghafalkan Al Quran. Berani memasang target berapa lama harus hafal.

Para santri adalah bintang-bintang yang akan menjadi cahaya pada sekitar. Santri harus bisa menjadi contoh. Bagi para penghafal Quran, tak perlu merisaukan apa yang akan terjadi nanti. Salah satu kelebihan para hafidz adalah kemuliaan dari Alloh. Kemulian itu yang menurut TGB juga dialaminya. Berkah dari Al Quran membuatnya bisa menjadi gubernur hingga dua periode. TGB pun yakin santri dari Bustanul Huffaz bisa memberi kontribusi untuk negeri ini. (*/r8/bersambung)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka