Ketik disini

Headline Metropolis

Tetap Optimis di Tahun Anjing Tanah

Bagikan

MATARAMa��Bahagia menyelimuti hati para keturunan Tionghoa di Mataram. Jumat (16/2) kemarin, mereka merayakan pergantian Tahun Baru Imlek ke 2569.

Sekedar untuk diketahui, Tahun Baru Imlek diadopsi dari zaman Kaisar Wu (Dinasti Han Barat). Penghitungannya sendiri dengan metode lunar atau berdasarkan pergerakan bulan. Tahun Baru imlek 2569 kali ini diliputi shio anjing tanah.

a�?Seperti biasa, kami berharap tahun ini mendatangkan kebaikan dan rizki yang melimpah,a�? kata Chang Kok, pria Tionghoa yang datang bersama keluarga berdoa di Vihara Avalokitesvara, Cakranegara, Mataram.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Sebuah harapan terbesit di hati Kok. Tahun ini tetap mendatangkan kebaikan bagi ia dan keluarga. Pria yang mengaku jadi pengusaha di luar daerah itu, selain menitipkan harapan soal rizki dalam doanya, ia ingin tahun ini juga tetap aman dan damai.

a�?Saya tetap berharap tetap aman di tahun ini,a�? ujarnya.

Shio anjing tanah dalam keyakinannya, memang banyak menghadirkan tantangan. Salah satu cara menetralisir ramalan buruk di tahun shio anjing tanah, yakni dengan rajin beribadah. Seperti yang ia lakukan dengan keluarganya saat ini dengan mendatangi vihara. Ia yakin cara ini, akan banyak membantu karir, kesehatan, dan perlidungan dari segala bala.

a�?Iya, harus lebih rajin, seperti saat ini,a�? ujar pria itu sembari tersenyum.

Selain Kok, penjaga vihara yang juga keturunan Tionghoa Tei Long juga menyampaikan harapan serupa. Pria yatim piatu itu, berharap tahun ini tetap mendatangkan kebaikan bagi hidupnya.

a�?Ya semoga lebih baik tahun ini,a�? ujarnya.

Long juga sempat bergumam soal jodoh. Ia ingin, ada jalan kebaikan, mempertemukan dirinya dengan jodoh yang terbaik bagi hidupnya.

Tahun baru Imlek, biasanya diisi dengan saling berkunjung dengan sanak saudara. Tapi, Long lebih memilih menunggu para umat Budha keturunan Tionghoa datang ke vihara. Sebagai penjaga ia punya kewajiban untuk tetap memastikan keadaan vihara tetap bersih, apalagi selama musim hujan seperti saat ini.

Edi Sutanto, guru agama Budha di SMKK Kesuma MataramA� yang juga tinggal di area Vihara Avalokitesvara, mengaku menikmati perayaan tahun baru Imlek ini. Pria yang berasal dari Tegal Maje, Tanjung, Kabupaten Lombok Utara ini, awalnya sempat mengaku sulit beradaptasi dengan tradisi Tionghoa.

a�?Kalau Imlek kan tradisi warga Tionghoa, sedangkan vihara adalah tempat peribadatan para penganut agama Budha. Awalnya saya agak canggung dengan tradisi ini,a�? kata Edi.

Tapi lambat laun, ia mulai bisa memahami dan menikmatinya. Tradisi yang ada di seputar perayaan Imlek pun banyak diketahui Edi. Meski di dalam darahnya tidak mengalir keturunan Tionghoa.

a�?Salah satunya yang sangat khas di tahun baru dan harus ada yakni kue lapis,a�? ujar pria yang mengaku mulai bergabung dengan vihara sejak tahun 2009 ini.

Kue lapis diyakini punya filosofi yang baik bagi warga Tionghua. Yakni pesan kerukunan dalam kergaman. Seperti halnya, kue lapis meski ada perbedaan warna, di antara setiap susunannya, tapi tetap bisa menyatu dengan baik.

Harapan inilah yang diinginkan setiap warga vdi tengah masyarakat Lombok. Meski ada perbedaan kulit dan tradisi, tapi tetap bisa hidup rukun, berdampingan, dan saling mengasihi.

a�?Karena itu wajib mereka sediakan kue lapis, sebagai makanan khas di rumah-rumah selama perayaan Imlek ini,a�? tandasnya. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka