Ketik disini

Feature Headline

TGB Disebut Sebagai Satrio Pinandito

Bagikan

Silaturahmi Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi selain ke Solo, juga menyasar kawasan Pantai Utara Jawa. Sejumlah hal menarik dan kisah penuh makna dialami. Di antaranya sebutan TGB sebagai Satrio Pinandito.

***

USAI mengisi acara di Ponpes Modern Assalam, Solo, Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi langsung meluncur ke Kajen, Pati. Tak sendiri, TGB disertai KH Abdul Muiz Aziz pengasuh Ponpes Al Aziziyah, Denanyar, Jombang yang akrab disapa Gus Muiz. Perjalanan darat memakan waktu sekitar empat jam. Sebelum tiba di Ponpes Raudlatul Ulum, TGB ziarah ke Makam KH Mutamakkin.

Sesepuh yang akrab disapaA�Mbah Mutamakkin hidup di masa pemerintahan Amangkurat IV sampai dengan Paku Buwono II sekitar abad XVIII. Menyebarkan agama Islam di Desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Keturunan Mbah Mutamakkin mendirikan ponpes di Pati dan sekitarnya.

Bagi siapapun yang masuk ke Pati, ziarah ke Mbah Mutamakkin ini menjadi kewajiban. Di antara tokoh yang kerap ziarah kesana tiap melintas ke Pati adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ziarah TGB ke Mbah Mutamakkin pun mendapat kesempatan istimewa, biasa pintu makam hanya dibuka pada waktu tertentu, gubernur santri ini mendapat kesempatan hingga masuk di dalam makam.

Sementara itu di sekitar makam begitu banyak santri yang tengah murojaah (menghafal ulang) Quran. Semasa hidup, Mbah Mutamakkin dikenal sebagai ulama yang memiliki pengetahuan luas. Oleh banyak santri, barokah keilmuan Mbah Mutamakkin diyakini tetap terpancar hingga kini. Itu yang membuat santri selain ziarah, biasa mempelajari ulang kitab di sekitar makam.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ order=”desc”]

Sekitar sepuluh menit TGB yang didampingi Gus Muiz. Usai berdoa, kepada penjaga makam TGB menanyakan makam yang ada di sekitar Mbah Mutamakkin. Di antara yang disebut adalah mantan Rois Am PBNU KH Sahal Mahfudz. Secara khusus TGB pun mengirimkan doa bagi Kiai Sahal.

“Pondok yang kita tuju jauh,” tanya TGB kepada Ustad Rosyad alumni Al Azhar yang menyambut.

“Dekat hanya beberapa meter,” jawab Rosyad.

“Ya udah, kita jalan saja,” ucap TGB.

Sepanjang jalan TGB dan Ustad Rosyad pun berbincang. Dari penuturan Ustad Rosyad, di sekitar makam Mbah Mutamakkin banyak pondok pesantren. Di antaranya adalah Raudlatul Ulum yang akan dituju TGB. Ponpes ini diasuh oleh KH Abdullah Umar Fayyumi atau akrab dikenal Gus Umar. Setelah berjalan sekitar 200 meter, belasan orang berkopiah menyambut TGB.

“Assalamualaikum, ahlan wa sahlan bikhudurikum,” ucap pria berkopiah hitam mengenakan pakaian batik.

Pria ini adalah Gus Umar Fayyumi, kiai muda yang dikenal memiliki wawasan luas. Pengajiannya begitu mudah dicerna dan disukai kalangan muda. Dua ulama muda yang baru pertama jumpa ini pun langsung akrab berbincang.

“Saya sudah menunggu waktu ini,” kata Gus Umar.

Dikatakan, nama TGB cukup dikenal. Selain sebagai Gubernur NTB, TGB juga sebagai ulama. Bahkan hafal Quran. Tak banyak di negeri ini ada perpaduan antara umara (pemimpin) dan ulama. Pada kesempatan tersebut TGB disuguhkan minuman kelapa kopyor khas Pati.

“Enak juga rasa kelapa ini,” kata TGB.

Bincang-bincang di ndalem (rumah) Gus Umar yang disertai canda dan makan siang, berlangsung akrab. Gus Umar menyebut Gubernur NTB dua periode ini sebagaiA�Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu. Dalam falsafah Jawa gubahan Ronggowarsito, Satrio Pinandito diartikan sebagai pemimpin yang juga ulama. Pemimpin seperti ini disebut Gus Umar dibutuhkan negeri ini. Gus Umar pun sempat bertanya apa TGB merasa sebagai Satrio Piningit.

“Panjenengan (anda) merasa Satrio Piningit?” tanya Gus Umar.

Pertanyaan ini dijawab TGB dengan gelengan kepala disertai senyum. Ketua Ikatan Alumni Al Azhar Indonesia ini justru banyak melempar senyum terkait beberapa pertanyaan Gus Umar terkait kepemimpinan nasional. Seperti Satrio Pinandito, Satrio Piningit pun dalam karya Roggowarsito disebut sebagai pemimpin komplit penyelamat bangsa. Pemimpin yang sanggup membawa negara ke arah lebih baik.

Seolah tak puas, Gus Umar bersama para pengasuh dan santri mengajak TGB ke musala ponpes. Di hadapan para santri Gus Umar mengatakan, bila TGB sosok pemimpin tak hanya jago di pemerintahan namun juga jago dalam hal agama.

“Beliau sering memberikan nasehat dan masukan pada umat,” kata Gus Umar.

Hanya saja, lanjut Gus Umar, TGB harus mengurangi ceramah yang banyak menggunakan bahasa Arab. Tak banyak masyarakat yang paham dan mencerna bahasa Arab. Akan luar biasa bila TGB ceramah dengan banyak memakai bahasa yang mudah dicerna masyarakat.

“Apalagi kalau datangnya ke wilayah Pantura,” sambung Gus Umar tersenyum.

Dalam tanya jawab pengasuh dan santri di antara yang menjadi pembahasan adalah soal dorongan supaya TGB tampil di pentas nasional. Selain itu ada dorongan supaya TGB bisa menjadi contoh pemimpin yang cerdas dan bersih. Di antara salah satu penanya, Ustad Rosyad menyebut, telah menyiapkan relawan yang akan berjuang untuk mengenalkan TGB di kawasan pantai utara (Pantura).

Mendapat dorongan ini, TGB menjawab, menghargai dan berterima kasih dengan dukungan berbagai pihak. Untuk menjadi pemimpin, semua bermuara pada niat. Sepanjang niatnya untuk membangun bangsa dan baik, maka akhirnya pun akan baik.

“Mari kita niatkan yang baik untuk Indonesia. Kalaupun ada yang bergerak, harus dengan cara yang baik,” pesan TGB.

Rosyad bercerita, bila di Pati bermunculan individu yang secara sukarela ingin memperkenalkan TGB secara luas. Tak banyak pemimpin nasional dengan kemampuan agama luar biasa. Kebanyakan pemimpin Indonesia, dominan sebagai politikus. Kerja-kerja untuk bangsa murni berjalan secara politik.

“Seolah lupa, negeri ini butuh pemimpin yang dekat dengan Allah. Supaya negara selamat,” katanya.

Ditambahkan, dengan kedatangan TGB ke Pati semakin memantapkan dukungan dari masyarakat. Masyarakat yang menghendaki TGB menjadi pemimpin. Tak perlu meniru gaya politikus yang ramai-ramai mencalonkan diri sendiri.

“Untuk beliau (TGB) biar kami yang mencalonkan,” imbuhnya. (FEBRIAN PUTRA, Rembang*/r8/bersambung)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka