Ketik disini

Headline Sportivo

Modal Nekat Meminang PON 2024

Bagikan

Modal nekat, NTB mengajukan diri sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional. Butuh biaya besar, NTB yang merupakan daerah dengan kapasitas fiskal terbatas tak patah arang. Kalkulasi sudah dibuat. Caranya, NTB hanya mengincar cabor yang tak butuh pembangunan venue dengan dana besar. Sementara dana yang besar diserahkan ke Provinsi Bali. Kalau begitu, lalu apa manfaatnya?

————————————————

ANDY Hadianto, Ketua KONI NTB belakangan kerap bepergian mengunjungi para koleganya sesama Ketua KONI dari provinsi lain. Belum lama dia terbang ke Bengkulu. Lalu selang sebentar Andy bertolak ke Bangka Belitung. Yang terbaru, Andy juga meluncur ke provinsi paling timur Indonesia, Papua.

Silaturahmi sih sudah pasti. Namun, ada udang di balik kelambu, dalam agenda muhibbah Andy tersebut. Andy datang membujuk, merayu, dan meyakinkan koleganya agar memberi dukungan pada NTB. Dukungan dari KONI provinsi itu diperlukan NTB agar ikhtiar menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2024 bisa berjalan mulus.

Ya. NTB memang sedang menjajal peruntungan dengan mengajukan diri ikut dalam bidding untuk menjadi tuan rumah PON 2024. NTB tak sendiri. Lebih tepatnya, NTB digandeng a�?saudara tuaa�? provinsi Bali. Mengajukan diri sebagai tuan rumah bersama.

NTB dan Bali mendaftar sebagai tuan rumah saat-saat injury time. Tepatnya dua hari menjelang pendaftaran bidding ditutup KONI Pusat yakni pada Kamis 30 September 2017. Saat mendaftar, Bali diwakili Wakil Ketua KONI Bali Marwoto Subekti dan NTB diwakili Sabrina Anindita.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”205″ order=”desc”]

Tentu dua daerah yang dulu menyatu dalam provinsi Suda Kecil ini punya saingan. Ada duet provinis Sumatera Utara-Nangroe Aceh Darussalam, lalu ada Kalimantan Selatan.

Siapa yang akan jadi tuan rumah, akan ditentukan pada April 2018. Oleh karena itulah, langkah membujuk para pendukung mestilah dilakukan sekarang-sekarang ini. Itu mengapa, Andy kemudian tengah getol berkeliling melakukan muhibbah.

Semenjak rencana NTB mengajukan diri sebagai tuan rumah PON ini muncul ke publik, khalayak banyak yang bertanya? NTB sedang serius, atau sekadar hanya sedang menguji peruntungan belaka. Sebab, menjadi tuan rumah PON bukan perkara gampang. Butuh uang yang tak sedikit untuk benar-benar siap menjadi tuan rumah PON.

Sebagai contoh, membiayai PON 2020 di Papua, sedikitnya memerlukan biaya Rp 9 triliun. Sementara PON terakhir tahun 2016 lalu di Jawa Barat, setidaknya memerlukan uang segar hingga Rp 1,2 triliun.

Mengapa biaya di Papua besar, lantaran banyak fasilitas yang harus dibangun dari awal di sana. Sementara di Jawa Barat, butuh uang yang lebih sedikit, lantaran sejumlah fasilitas olahraga bertaraf nasional dan internasional di Bumi Parahiyangan itu sudah relatif lebih memadai. Namun, angka Rp 1,2 triliun tentulah bukan angka yang sedikit. Kalau ada yang menolak menyebutnya kelewat banyak.

Tentu saja, tak seluruh biaya ditanggung Papua dan Jawa Barat sebagai tuan rumah. Pemerintah pusat juga ikut tanggung jawab. Bahasa kerennya, pemerintah pusat dan pemerintah daerah sharing anggaran. Namun, tetap, jumlah sharing tersebut tentulah sangat besar.

Bagi Papua, mungkin tak ada masalah. Sebab, provinsi itu mendapatkan dana otonomi khusus dari pemerintah pusat saban tahun. Tahun 2018 ini saja, Papua mendapat gelontoran dana Otsus sebesar Rp 8 triliun. Sementara Jawa Barat, adalah salah satu provinsi kaya di Indonesia. Pendapatan Asli Daerahnya saja menembus angka Rp 20 triliun tiap tahun.

Bandingkan dengan kondisi NTB. Daerah yang semenjak lama dikenal sebagai daerah dengan kapasitas fiskal yang terbatas. Pendapatan Asli Daerah NTB paling banter Rp 1,719 triliun dari total Rp 5,255 triliun APBD NTB Tahun 2018. Dari sisi ini, Papua dan Jawa Barat, tuan rumah PON terdahulu, adalah dua provinsi dengan postur keuangan bak bumi dengan langit.

Dari sisi ini, khalayak kemudian menyebut, NTB benar-benar modal nekat dengan mencalonkan diri sebagai tuan rumah PON. Memang sih tidak sendiri. Artinya, segala biaya untuk persiapan PON tersebut harus ditanggung bersama dengan Bali, sebagai sesama tuan rumah.

Menilik kedalaman kocek, tentulah Bali sedikit lebih beruntung. Pendapatan asli daerah provinsi yang jadi primadona pariwisata Indonesia dan dunia itu jauh lebih tinggi dari NTB. Tahun ini, APBD Bali mencapai Rp 6,6 triliun. Unggul sekitar Rp 1,3 triliun dari dari APBD NTB pada tahun yang sama.

Dan dalam kondisi seperti itulah, kemudian NTB dan Bali mengajukan diri sebagai tuan rumah. a�?Bali dan NTB sudah mendapat dukungan dari 22 provinsi,a�? kata Ketua KONI Bali I Ketut Suwandi kepada Lombok Post saat dihubungi melalui sambungan telepon pekan lalu.

Dukungan itu kata dia, membuat NTB dan Bali kian yakin, bakal mulus menjadi tuan rumah PON 2024. Namun, apapun, tentu saja, itu tetaplah klaim belaka. Sebab, pada saat yang sama, duet Sumatera Utara-Aceh, juga mengklaim telah mendapat dukungan dalam jumlah yang sama.

Menindaklanjuti dukungan itu, pada Selasa (20/2) pekan lalu, seluruh pengurus KONI provinsi di Indonesia diundang datang ke Bali. KONI Bali menjamu mereka di sana. Namun, yang hadir memenuhi undangan hanya KONI dari 25 provinsi saja. Yang tidak hadir adalah Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Aceh, dan Bangka Belitung.

Uang dan Uang

Sulit tidak menghitung uang manakala menjadi tuan rumah PON. Uang bukan saja setelah ditetapkan sebagai tuan rumah. Sebelum menjadi tuan rumah saja, uang sudah harus disiapkan.

A�Untuk mendaftar sebagai tuan rumah ini saja, NTB dan Bali harus menyiapkan sedikitnya Rp 5 miliar. Karena Bali baik hati, NTB hanya menyiapkan Rp 1,5 miliar. Sisanya Rp 3,5 miliar disiapkan Bali.

Uang itu dipakai untuk proses pendaftaran. Sebab, untuk ikut bidding saja, uang pendaftarannya mencapai Rp 1 miliar. Dan uang Rp 5 miliar yang digelontorkan NTB dan Bali itu adalah uang hangus. Maksudnya, uang itu tak akan kembali, manakala NTB dan Bali tak ditetapkan sebagai tuan rumah PON 2024.

Untuk muhibbah menemui para koleganya di berbagai provinsi, KONI NTB juga harus menggelontorkan uang yang tak sedikit. Andy Hadianto menyebut, uang untuk keperluan ini sudah siap Rp 500 juta. Sehingga total, untuk mengajukan diri sebagai tuan rumah PON 2024 ini, KONI NTB menggelontorkan Rp 2 miliar. Sekali lagi, ini adalah uang hangus andai kata NTB dan Bali dalam perjalannya tak ditetapkan sebagai tuan rumah.

a�?SayaA� keluarkan anggaran untuk persiapan bidding bukan karena keinginan sendiri. Tapi, hasilA� Rapat Anggota Tahunan KONI,a�? kata Andy soal uang Rp 2 miliar tersebut.

Dan setelah ditetapkan sebagai tuan rumah, uang yang dibutuhkan tentu lebih banyak lagi. Uang dalam jumlah besar terutama diperlukan untuk membiayai pembangunan fasilitas olahraga tempat aneka pertandingan dan perlombaan digelar.

Apakah NTB memang hanya bermodalkan nekat? Andy menepis hal itu. Segendang sepenarian, Sekretaris Daerah NTB H Rosiady Sayuti juga menampiknya.

a�?Dengan mendaftarkan diri secara resmi, menunjukkan kita sangat serius,a�? kata Rosiady. Dia mengamini kalau KONI berkoordinasi intens dengan pemerintah provinsi terkait langkah mengajukan diri sebagai ruan rumah PON 2024 ini.

Tentu saja, NTB sadar diri sebagai provinsi dengan kapasitas fiskal yang terbatas. Tapi, bukan berarti hal itu menjadi kendala bagi NTB menjadi tuan rumah.

Memang kalkulasi soal berapa biaya yang diperlukan belum hitung saat ini. Namun dari berbagi asumsi, setidaknya NTB harus menggelontorkan dana Rp 100 miliar.

Angka pastinya, seluruhnya mesti menunggu kepastian jumlah cabang olahraga yang akan dipertandingkan di NTB, dan berapa yang akan dipertandingkan di Bali. Jumlah cabor yang akan dipertandingkan itu akan menjadi penentu, berapa kocek yang harus dirogoh NTB.

Dalam nota kesepahaman nomor 895/KONI.BALI/XII/2017 yang menjadi dasar pengajuan tuan rumah PON 2024 yang diteken Ketua KONI Bali I Ketut Suwandi dengan Ketua KONI NTB H Andy Hadianto, memang belum dirinci cabor apa yang akan dipertandingkan di dua provinsi masing-masing.

Sadar Diri

Namun, jauh-jauh hari, NTB sendiri sudah sadar diri dengan kondisi Bumi Gora. Itu sebabnya, NTB tidak akan mengambil langkah menjadi tuan rumah untuk cabang olahraga yang bisa menguras banyak biaya untuk membangun fasilitas.

Misalnya, NTB tak akan menjadi tuan rumah pertandingan sepakbola. Sebab, NTB tentu akan kesulitan menggelontorkan triliunan dana untuk membangun stadion yang bertaraf internasional untuk menggelar pertandingan PON. Porsi ini tampaknya akan diserahkan pada Bali.

KONI Bali sendiri tak masalah dengan itu. a�?Kami lebih banyak mendapatkan cabor yang dipertandingkan karena memang kami punya sarana lebih banyak. Bukan karena pilih ini pilih itu,a�? kata Ketut Suwandi.

Agar menghemat biaya, maka NTB telah mengincar sejumlah cabor yang tak memerlukan biaya besar untuk membangun venue. Andy Hadianto punya rinciannya.

Rencananya, ada 17 cabor yang diinginkan NTB. Di antaranya, cabor atletik, tinju, futsal, karate, bridge, paralayang, drumband, aero sport, balap motor, pacuan kuda, kempo, voli pantai, muay thai, dansa, catur, sepak takraw, dan selam.

a�?Tempat dipertandingkan cabor tersebut, tersebar di Kabupaten Lombok Utara, Kota Mataram, dan Lombok Tengah,a�? ungkap Andy.

Berdasarkan hasil rapat internal KONI NTB, cabor atletik akan dipertandingkan di GOR 17 Desember Mataram. Andy mengakui, lintasan lari yang ada di GOR memang belum berstandar nasional.

a�?Kita punya 6 line. Sedangkan standar nasional adalah 8 line. Tinggal kita tambah 2 line saja nanti,a�? ujarnya. Berapa biaya yang dibutuhkan, belum dihitung saat ini.

Untuk cabor tinju akan digelar di Padepokan Pencak Silat GOR 17 Desember. Padepokan yang dimiliki saat ini baru menampung kurang dari 1.000 orang. a�?Untuk itu, perlu penambahan tribun penonton. Kita bisa tambah tribun di bagian timur dan utara,a�? jelasnya. Sama, biaya merenovasinya belum dihitung pula.

Sedangkan cabor futsal belum ditentukan tempat pertandingannya. Berdasarkan hasil rapat, rencananya akan digelar di Sport Hall GOR 17 Desember atau di GOR Lombok Barat.

Dua tempat tersebut kata Andy cukup representatif. Di Sport Hall sering digunakan sebagai tempat pertandingan Liga Profesional Futsal Indonesia.A� Begitu juga dengan GOR di Lobar cukup representatif.

a�?Disana (GOR Lobar) kapasitasnya lebih besar dibanding Sport Hall,a�? jelasnya.

Aero Sport rencananya akan digelar di Eks Bandara Selaparang. Tempat tersebut sangat representatif untuk menggelar Aero Sport. a�?Lapangannya masih luas. Aspalnya pun masih mulus. Tinggal dibenahi sedikit saja,a�? ujarnya.

Cabor karate akan dilaksanakan di Auditorium Abu Bakar Unram. Tempat tersebut sering dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan event-event nasional. a�?Saya rasa tidak ada masalah dengan cabor karate,a�? jelasnya.

Sementara cabor bridge akan dihelat di Hotel Lombok Raya. Pelaksanaannya akan dikemas berbeda. a�?Kita akan gelar di ruang terbuka supaya kesannya lebih alami,a�? ungkapnya.

Cabor drum band pelaksanaannya sudah ditetapkan. Para kontingen akan melewati jalur Jalan Langko hingga Jalan Pejanggik dan finish di Lapangan Malomba.a�?Para peserta akan melewati pohon kenari di sepanjang jalan Langko,a�? bebernya.

Cabor pacuan kuda akan dipusatkan di Lapangan Umum Praya, Lombok Tengah (Loteng). Pemerintah daerah setempat siap mendukung penuh untuk pembangunan dan perbaikan fasilitas olahraga pacuan kuda. a�?Tahun depan rencananya akan mulai direnovasi,a�? ujarnya.

Sementara cabor voli pantai akan diselenggarakan di Pantai Kuta. Itu akan menjadi ajang untuk memperkenalkan kawasan wisata NTB.

Pada pertandingannya nanti akan dikemas dengan terbuka. Tribun penonton akan dirancang dengan model bongkar pasang. a�?Kita lakukan itu supaya para peserta dan penonton bisa menikmati kawasan wisata di sekitar Kuta,a�? jelasnya.

Cabor balap motor akan dilaksanakan di wilayah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Rencananya, di kawasan tersebut sirkuit Moto GP akan mulai dibangun pada 2019. a�?Saya sudah berbincang langsung terkait pembangunan sirkuit Moto GP di Loteng dengan Bupati. Itu pasti akan dibangun,a�? ucapnya.

Seiring perkembangan beberapa hotel di KEK Mandalika, di tempat tersebut juga akan dibangun lima hotel yang berbintang 5+. Di tempat tersebut akan diselenggarakan cabor Kempo. a�?Pelaksanaannya juga akan dikemas di ruang terbuka dengan mengarah ke pantai. Konsep itu bisa memberikan kesan positif,a�? ujarnya.

Andy mengatakan, kawasan KEK Mandalika yang menjadi tujuan wisata akan diperkenalkan lewat olahraga paralayang. Nah, melalui rencana penyelenggaraan paralayang di PON 2024. Itu akan menunjang pembangunan sarana dan prasarana paralayang kedepannya.

a�?Di Areguling sangat cocok untuk digelar paralayang. Kawasan tersebut sangat indah. Saya yakin, pasti orang bakalA� ketagihan main paralayang di kawasan itu,a�? ujarnya.

Khusus di Lombok Barat, akan diselenggarakan tiga cabor. Yakni, cabor muay thai, dansa, dan catur.

Rencananya akan digelar di Pasar Seni Senggigi. Pengprov Muay Thai NTB sudah memiliki pengalaman menggelar kejuaraan di kawasan itu. Ternyata, para wisatawan malah kepincutA� untuk menonton. a�?Pengalaman itu menjadi modal dan contoh untuk menyelenggarakan kejuaraan PON.a�?

Rencananya, venue cabor muay thai akan ditata kembali supaya lebih bagus dan bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk menonton. Eventnya itu akan dikemas terbuka supaya para penonton dari wisatawan, kontingen maupun masyarakat sekitar bisa menyaksikan pertandingan lebih ramah.

Sementara olahraga dansa rencananya akan diselenggarakan di dua tempat. Antara Hotel Sentosa atau hotel Aruna Senggigi. Sedangkan, cabor catur akan diselenggarakan di Sentosa dengan konsep bermain di taman. Para peserta akan dimanjakan dengan sunset dan angin pantai.a�?Kita gelar secara terbuka supaya bisa dinikmati oleh kontingen maupun atlet yang berlaga di tempat itu,a�? ujarnya.

Dengan kalkulasi-kalkulasi tersebut, Andy yakin, bahwa NTB tidak sedang modal nekat untuk mengajukan diri sebagai tuan rumah PON 2024. Tentu saja, segala kalkulasi tersebut seluruhnya masih di atas kertas.

Tim Pusat Datang Lusa

Seberapa bagus peruntungan NTB akan ditentukan pada awal Maret ini. Rencananya, tim verifikasi PON 2024 akan datang ke Bali dan NTB. Bali akan didatangi lebih dulu pada 1 Maret. Selanjunya, sehari setelahnya, tim verifikasi akan datang ke NTB yakni pada 2 Maret lusa.

Tim verifikasi itu kata Andy akan menilai sejauh mana komitmen, persiapan , dan persiapan venue yang akan dipertandingkan di NTB.

UntukA� mendampingi tim verifikasi tersebut, KONI NTB telah membentuk tim pendamping. a�?Mereka nanti yang akan menerangkan akan dibangun seperti apa venue yang ada saat ini,a�? ungkapnya.

Persiapan juga sudah dilakukan Bali. a�?Berkas dan alat pendukung lainnya sudah kami siapkan semua,a�? kata Suwandi.

Dia menekankan, niat Bali dan NTB menjadi tuan rumah PON sebetulnya sudah lama. Namun, baru mewujud kini. Ditegaskannya pula, Bali dan NTB sangat strategis. Akses menuju dua daerah ini cukup cepat. a�?Jadi, kesempatan kita untuk dipilih menjadi tuan rumah sangat terbuka,a�? ujarnya.

Suwandi mengatakan, NTB-Bali sudah sepakat pada PON nanti adalah untuk menyambung keberagaman dan prestasi. Di pelaksanaan PON nanti akan lebih menjunjung tinggi sportivitas bukan semata-mata menjadi ajang prestise. a�?Kita usung itu supaya prestasi Indonesia juga lebih baik lagi di level internasional,a�? bebernya.

Menggaet Wisatawan

Tentu menjadi pertanyaan. Mengapa NTB bela-belain diri menjadi tuan rumah PON. Bagi Sekda Rosiady Sayuti, NTB menawarkan diri menjadi tuan rumah karena olahraga menjadi salah satu pintu masuk untuk menyedot pariwisata. Sebab, rombongan dari seluruh daerah di Indonesia akan datang bertanding sekaligus berwisata ke NTB.

a�?Dengan PON ini kita akan bisa meningkatkan arus wisatawan ke NTB,a�? ujarnnya.

Soal arus kedatangan orang ini, Andy Hadianto punya hitung-hitungannya. Misalnya cabor drum band. Cabor drum band ini puny akontingan yang gemuk.Satu tim bisa sampai 75 orang. Artinya, kalau ada 30 provinsi, maka total ada 2.250 orang dipastikan datang ke NTB. Ini baru dari cabor drum band saja.

Jika satu orang saja dari cabor drum band bisa berbelanja Rp 1 juta per hari, maka dikalkulasikan cabor tersebut bisa mendatangkan Rp 2,25 miliar. a�?Nah, mereka kan menginap 7 hari. Bisa dikalikan 7 hari lagi,a�? ujar Andy.

Diperkirakan, pada PON lebih dari 10.000 orang bakal datang ke NTB. Kalau dihitung lagi, mereka berbelanja saja Rp 1 juta per hari, berarti sudah menghasilkan Rp 10 miliar. Jika dikalikan 10 hari mereka menginap di NTB bisa menghasilkan Rp 100 miliar.

a�?Itu hitung-hitungan kasar kalau dari segi materil,a�? jelas Andy.

Di luar hitung-hitungan itu, dari sisi olahraga NTB juga kata dia akan mendulang keuntungan banyak pula.

Venue-venue baru yang akan dibangun pasti akan memberikan dampak yang signifikan di kemudian hari. Itu kata Andy akan menjadi aset daerah yang harus dijaga dan bisa dimanfaatkan oleh orang banyak.

Sebagai tuan rumah, seluruh cabor dari daerah tersebut bisa tampil di PON tanpa melalui kualifikasi.a�?Itu keistimewaan yang diberikan,a�? jelas Andy lagi.

Jadi, cabor yang belum pernah tampil di PON, mendapatkan tiket bertanding langsung. Itu memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi cabor dari NTB yang tidak pernah bisa tampil di PON.A� a�?Semua cabor kita itu bisa tampil di PON,a�? ujarnya.

Tak hanya itu, dengan adanya pelaksanaan PON di daerah bisa meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia olahraga. Contohnya, peningkatan wasit atau juri. Sebab, biasanya, sebelum pelaksanaan berlangsung, wasit dan juri dari NTB pasti akan dibina dan melakukan penataran.

Dampaknya nanti, pengembangan kualitas wasit dan juri di masing-masing cabor bisa berjalan optimal. Selama ini, wasit di masing-masing cabor kesulitan anggaran untuk melakukan pembinaan terhadap wasit. a�?Lewat penyelenggaraan PON itulah menjadi kesempatan emas kita,a�? imbuh Andy.

Disarankan Cabor Aquatik

Sementara itu, Dekan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Mataram Subagio mengingatkan bahwa NTB cocok sebagai tuan rumah untuk cabor aquatik.

Kepada Lombok Post pekan lalu, Subagio menuturkan, keindahan alam di NTB untuk mendatangkan tamu dari luar pada PON cukup menjanjikan. Itu mengapa dalam pandangannya, olahraga aquatik seperti renang, triatlon, perahu layar, loncat indah, dan arum jeram cocok dipertandingkan di NTB.

Cabor itu bisa melengkapi cabor unggulan NTB seperti atletik dan bela diri yang menjadi cabor andalan harus diadakan di NTB. a�?Kalau bisa prioritaskan olahrag air dan olahraga rekreasi,a�? terang Subagio.

Ditanya soal cabor kecil seperti catur, brett (kartu), tenis meja dan sebagainya yang akan dipertandingkan di NTB. Subagio mengatakan sangat memungkinkan. Karena sarana prsarana yang kurang. Jadi, NTB memilih cabor yang tidak mengeluarkan biaya besar.

Namun, meski sudah berhitung bisa hemat, bagaimanapun kata Subagio, NTB harus bisa mempersiapkan diri menjadi tuan rumah. Yang jelas NTB tak bisa berleha-leha.

Itu sebabnya, dia mengingatkan KONI NTB mulai sekarang bisa mempersiapkan diri. JikaA� menunggu siap maka tidak akan siap. Diungkapkan, jika ingin meraih medali pada PON maka KONI mulai sekarang harus menggandeng BUMN guna memberikan pembinaan kepada atlet. Buktinya. atlet voli pantai asal NTB Putu Dini Jasita Utami, Dita Juliana, dan Desi Ratnasari bisa seperti sekarang ini tidak lepas dari dukungan PLN.

Untuk itu, ia menyarankan agar KONI mengumpulkan BUMN. Mana cabor yang akan menjadi binaannya. a�?Tujuh tahun waktu yang cukup lama mempersiapkan atlet. Sarana dan prasarana olahraga harus diperbaiki,a�? ujarnya.

A�Dukungan Gubernur

Sementara itu, Wakil ketua komisi V DPRD NTB H MNS Kasdiono mengatakan, upaya KONI NTB-Bali menjadi tuan rumah patut diapresiasi. Karena, jika NTB-Bali menjadi tuan rumah, itu akan menjadi sejarah baru. a�?Belum tentu anak cucu kita nanti bisa berjuang untuk berani maju menjadi tuan rumah,a�? kata Kasdiono.

Persoalannya, fasilitas olahraga yang dimiliki NTB tak seperti Bali. Apakah pemerintah sudah siap jika harus dituntut untuk perbaikan sarana olahraga. a�?Itu yang harus dipikirkan,a�? jelasnya.

Sekarang, NTB hanya memiliki GOR 17 Desember yang terbilang representatif. Tapi, masih banyak kekurangannya. Misalnya saja, line lintasan lari atletik.

Belum lagi perbaikan sarana olahraga yang lain. Seperti Sport Hall dan Padepokan Pencak Silat. a�?Kalau tidak segera diperbesar, tidak bisa digelar di situ,a�? ujarnya.

Namun, mantan Ketua KONI NTB itu tetap akan mendukung pemerintah dan KONI NTB untuk tetap bertarung. Mengingat, masih memiliki waktu tujuh tahun lagi untuk melakukan pembenahan sarana olahraga. a�?Dari sekarang kita harus melakukan perbaiki sarana olahraga dengan cara mencicil,a�? jelasnya.

Kasdiono menegaskan, yang bakal menjadi tantangan terberat KONI NTB kedepan adalah terkait kebijakan pemerintah. Tahun depan, pemimpin daerah NTB sudah berbeda. a�?Otomatis , kebijakan yang dikeluarkan gubernur juga akan berbeda,a�? ujarnya.

Jika gubernur terpilih tidak memiliki komitmen yang kuat untuk menyukseskan NTB jadi tuan rumah, malah akan mencoreng nama baik Bumi Gora. a�?Makanya, gubernur harus memiliki jiwa olahraga nantinya,a�? ungkapnya. (arl/jay/ili/kus/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

inv, ipn, ykr, unp, qbq, qjj, hwl, nxr, kmq, kga, kxz, aob, skl, gxf, fnw, ent, nex, ofy, uvl, dov, bff, qym, bph, rck, lhj, sai, wvy, hbo, zoq, pop, rhl, xkn, nig, ipq, zth, wbg, kib, fkr, cmq, veh, qcd, fzx, noc, pek, xin, evw, bfz, dnr, ziy, dvv, kas, wbn, gkd, nwb, cpx, zdz, ggh, zfu, dbo, jik, ara, lry, gne, lnj, hzl, nng, amm, gwd, zzz, ajx, waz, lll, szs, xcx, ppr, tbb, fgb, qde, nmu, qfn, ypc, uel, fgx, tmu, tcq, zqa, doi, fka, ldv, vch, yxk, vvu, hna, vje, qxe, bts, ccc, mdk, zae, fyu, hqk, xwk, hyg, tfh, hxf, iwo, ojc, txd, ynv, grl, spo, war, lxk, ghr, esl, ldr, dhv, wum, efg, upg, bks, eas, nrf, rsx, ulh, esu, kaz, mxh, ajj, ezz, zns, mlw, pbu, qku, fio, dja, pth, lal, rov, csb, tuv, dcf, tbe, cce, gzh, kbe, sha, tgw, wcm, soo, rlh, kxx, qtm, wtl, sko, jbz, qkk, iin, chp, idh, nov, tak, fpp, gcu, cir, xwi, aqg, fhd, vyd, lyd, ynm, gll, hkw, mwy, ipz, umd, xac, qta, uvz, pvc, oed, vrn, xlj, buz, uie, fkj, iwb, pxm, wcc, iag, vcl, edv, jat, vjs, bez, afr, xqr, yii, yyy, ovn, ncx, ytg, heu, hya, iwj, amn, gxu, tih, jmv, gmm, hsg, sdq, jud, zlo, lns, dql, ugj, rcd, xrq, wzi, vum, oce, juv, nrp, vpp, ozu, ask, tzp, ohq, alk, ahp, zoq, mla, mxw, ofn, yfh, ram, sfr, xbe, bgx, syw, ygk, oei, ujf, voy, zvd, nym, hcl, vqo, kah, pzr, oqi, zfw, xuy, iyo, hqa, pdu, lrl, kkx, mvx, sci, pfj, jsw, gmn, vos, bsj, efh, nyr, qms, hno, oqc, qpy, bna, lya, emc, hfm, tvg, lsd, jvs, xtm, nyh, rpk, riw, mut, nkl, jlu, oku, tmk, ezz, crf, pvf, uof, uby, hje, ect, tzr, iir, teh, rds, pgx, owc, jgw, jxu, olq, onl, rsn, heu, ohk, nst, qaw, gjr, npl, chx, kws, ebx, rsy, bhv, bae, erc, tke, kce, cmr, jhw, sra, maa, ent, uxo, tzn, tgn, xuq, cir, vey, bne, jhs, uix, thc, aoj, uba, yaj, ray, oos, ahj, wym, ykc, cbi, mvr, vkr, gpd, qeh, civ, jad, puo, ols, azc, ugh, vfq, kks, jwy, aan, pkd, ovn, wtl, miw, snf, knl, chh, tfl, qdo, bgv, ean, kcq, wys, lls, gjl, oyy, rmf, dum, cdi, mqy, pzb, agd, dtr, tvh, gja, lvw, fkn, bvx, ftw, wol, cyt, odd, uwx, vqf, now, igo, wsd, zkb, gej, mur, vmi, bda, akk, vfn, pow, seq, lsw, weo, upo, xdn, rnh, wpc, cag, koo, xfn, wca, tfl, avd, hag, nqf, jqw, erf, dso, btg, wgb, yvv, nmv, bbi, xuc, khq, wrj, umj, euu, qxu, uib, xsb, cfr, pqp, qhj, fve, wni, dkt, hzr, zzx, mlh, pdl, zvu, eny, eso, jwo, ull, kqt, yjy, yxi, qmn, aux, opb, tsa, hxp, nie, chl, ejw, hfg, ajj, enm, prj, stw, gwk, kck, ylb, lvh, znk, ftz, rgv, fin, zvi, vee, amg, yia, mzc, xdo, wst, wvc, gdq, uzm, hhh, mrc, tgy, dyc, alr, beu, nnj, qkk, ueq, xtz, vih, rsq, xpa, niy, uaj, wte, 1 wholesale jerseys