Ketik disini

Headline Metropolis

Soal Spa Esek-Esek di Kota Mataram, Mohan Minta Berangus, Satpol PP Berani?

Bagikan

MATARAM-Tim gabungan sudah turun. Memberikan sosialisasi dan pembinaan pada Spa dan Salon yang tak mengantongi izin. Tapi akar persoalan sesungguhnya belum tuntas.

Aroma lendir di tempat prostitusi berkedok Spa dan Salon akan terus kembali menggeliat. Seiring lemahnya kontrol dan pengawasan dari masyarakat dan pemerintah pada persoalan ini.

Sejumlah tempat Spa dan Salon yang diam-diam menyediakan servis kepuasan birahi barangkali hari ini sedang meredup. Tapi siapa yang bisa menjamin kondisi ini bisa permanen untuk jangka panjang.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram I Gusti Bagus Hari Sudana Putra tegas mengatakan prostitusi sudah tidak ada ruang di Kota Mataram. a�?Kecuali masyarakat sepakat untuk mengubah jargon kota,a�? terang pria yang karib di sapa Gus Ari ini.

Jargon Religius dan Berbudaya menjadi benteng yang sangat tangguh. Kota Mataram tak bisa mengikuti jejak Jakarta di bawah kepemimpinan Ali Sadikin kala itu yang lebih memilih melegalkan prostitusi dan perjudian. Tapi persoalannya Mataram saat ini seperti memakan buah simalakama. Maju kena, mundur pun kena.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Kota Mataram sangat mempertimbangkan banyak aspek setiap kali akan menindak tegas Spa dan Salon yang ditengarai sebagai tempat esek-esek. Pertimbangan itu pulalah yang membuat Satpol PP akhirnya lebih memilih melakukan solsialisasi dan pembinaan, dari pada penindakan berupa penutupan tempat usaha.

Padahal Kasatpol PP Kota Mataram Bayu Pancapati sebelumnya mengaku sudah mengantongi nama-nama Spa dan Salon beraroma lendir itu. “Tapi kalau memang setuju, ayo kita lakukan public hearing dengar aspirasi masyarakat soal ini (legalisasi prostitusi), kita paparkan ke mereka potensi PAD-nya,a�? tantang Gus Ari.

Cara ini dinilai lebih adil. Mengingat pertumbuhan kota saat ini sudah sangat pesat. Kondisi persepsi yang muncul di tengah masyarakat sudah banyak berubah. Barangkali legalisasi bisnis lendir ini bisa jadi jawaban, di tengah ketidakmampuan eksekutif membrangus Spa dan Salon nakal itu.

Tentu saja jika harus dilegalkan dengan persyatatan super ketat. a�?(Salah satunya) kita kenai mereka pajak yang tinggi,a�? ujarnya.

Tapi satu-satunya jalan memasuki proses legaliasi bisnis lendir itu tentu dengan merevisi moto kota. Moto yang selama ini tertulis religius dan berbudaya, sebaiknya diganti dengan kondisi terkini. “Misalnya Mataram Maju dan Modern!a�? sarannya.

Tapi usulan untuk merevisi jargon kota ditanggapi dingin oleh Plt Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana. Menurutnya ide ini terlalu jauh, sebab sampai saat ini pemerintah masih punya komitmen untuk melawan praktek asusila itu.

a�?Saya rasa saya setujulah dengan apa yang disampaikan Pak Mansur (Kabag Hukum),a�? ujar Mohan.

Peluang untuk melegalkan a�?bisnis dewasaa�� memang sudah tidak ada ruang lagi. Berbeda dengan halnya miras. Meski kedua-duanya masuk dalam kategori layanan haram, tapi Miras memiliki pijakan hukum untuk diedarkan dengan syarat yang sangat ketat. Seperti yang tertuang dalam Perpres RI nomor 74 tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol.

Dengan kata lain ada dasar hukum yang lebih atas. Sehingga menungkinkan bisnis ini bisa dibolehkan di tempat-tempat tertentu. Karena itu, Mohan tegas mengatakan bisnis ini tetap tidak boleh ada di kota.

a�?Untuk kegiatan-kegiatan yang berkedok tempat Spa atau ditengarai ada kegiatan hal yang prostitusi seperti itu, saya tidak akan tolelir itu!a�? ujar Mohan geram.

Mohan langsung mengatakan mendukung penuh. Segala usaha dan upaya yang dilakuakan Satpol PP dalam penegakan aturan di kota ini. Ia bahkan berharap tim Yustisi itu bertindak tegas untuk membrangus praktek haram ini.

a�?Saya minta tim Yustitisi pantau dan tertibkan itu!a�? perintah Mohan.

Pria berkaca mata itu juga marah, karena fakta para penguasha Spa dan Salon nekat bermain-main dengan pemerintah. Sembunyi-sembunyi memberikan layanan esek-esek yang sudah jelas-jelas ditentang oleh masyarakat kota.

a�?Saya ingatkan jangan main kucing-kucingan. Lebih baik kami yang akan tertibkan dari pada itu nanti jadi persoalan sosial!a�? geramnya.

Sementara bagi pengusaha Spa dan Salon yang murni layanan kecantikan, tapi belum mengantongi izin ia berharap agar para pemiliknya segera mendaftarkan diri. Jangan sampai tindakan Satpol PP justru membuat nama baik mereka rusak karena pemerintah terpaksa menutup. Sebab mereka tak mengantogi izin.

a�?Yang usahanya belum berizin, saya minta diurus izin. Karena itu dasar kami untuk melakukan pengecekan dan pengawasan,a�? tandasnya.

Politsi Gerindra I Gede Sugiartha juga menentang keras ada ruang praktek prostitusi dilegalkan di kota ini. Pria yang juga Ketua Komisi I ini tegas mengatakan, Kota Mataram tidak mau menerima PAD dari hasil haram.

a�?Kami tidak mau menerima hasil haram!a�? tegas Sugiartha.

Tetapi sebagai konsekwensinya ia meminta Satpol PP bisa bertindak lebih tegas dan garang lagi menindak Spa dan Salon yang sudah jelas-jelas menyalahi aturan.

a�?Jika tidak bisa tindak (oleh Satpol PP), tunjukan pada kami di mana esek-esek itu,a�? tantangnya.

Sugiartha mengaku gerah, dengan wacana-wacana legalisasi prostitusi di kota. hal ini menurutnya melenceng jauh dari moto kota. Ia pun tak setuju jika akhirnya untuk legalisasi prostitusi ini, moto kota harus ditinjau ulang.

a�?Kalau miras itu ada kepres, tapi kalau prostitusi ini dasar hukumnya apa. Tidak ada ruang. Tidak ada!a�? tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, Muhtar mengatakan, Satpol PP dan sejumlah OPD tidak perlu bertele-tele. “Sudah, jangan dibiarkan. Tindak saja,a�? tegasnya.

Ia juga berjanji mendorong agar ada regulasi yang jelas terkait usaha ini. Sehingga, tidak mengambang seperti saat ini.

Sedangkan Camat Cakranegara M Salman Rusdi mengaku belum tahu kalau ada Spa plus-plus ada yang beroperasi di wilayahnya. “Tapi kami berjanji akan terus melakukan pemantauan setiap hari,a�? tandasnya. (zad/tea/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka