Ketik disini

Headline Metropolis

Senjakala Cidomo Kota

Bagikan

MATARAM-Belum lama ini terjadi perseteruan antara jasa pelayanan transportasi konvensional dengan modern. Di tengah kabar kericuhan tersebut, mereka yang menyediakan jasa layanan transportasi tradisional sedikit pun tak angkat bicara.

Bukan karena tak tahu duduk perkara, tapi perkembangan zaman seperti membuat mereka harus bungkam. Ya, cidomo, alat transportasi yang menggunakan tenaga kuda tersebut masih bertahan tanpa diwarnai perseteruan para kusir.

Wayan, salah seorang kusir cidomo yang berasal dari Kuripan, Lobar, siang itu terlihat masih menunggu penumpang di pasar Karang Lelede, Mataram. a�?Ya, sudah satu jam lebih saya nganggur. Belum ada penumpang,a�? kata Wayan kepada Lombok Post, Senin (5/3).

Wayan dan cidomonya benar-benar sendiri. Tak ada satu pun cidomo yang menunggu penumpang bersamanya. Menurutnya, saat ini jasa transportasi tradisional cidomo seperti mati segan hidup pun tersisih. Alat transportasi yang memakai tenaga kuda tersebut memang kehilangan penumpangnya, seiring banyaknya tukang ojek.

Kemudahan mendapatkan sepeda motor yang disediakan perusahaan layanan kredit juga menjadi salah satu penyebab hilangnya penumpang Wayan dan kusir cidomo lainnya. a�?Kalau dulu kita bisa dapat Rp 10 ribu per hari. Waktu itu, uang segitu banyak sekali,a�? terang Wayan.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Sedang saat ini, dalam sehari ia menghasilkan Rp 50 sampai 60 ribu. Itu pun hitungan mendapatkan hari yang baik. A�Kalau tidak, maka Wayan akan pulang gigit jari.

Kusir cidomo yang kini sudah berusia 60 tahun itu mengaku perubahan zaman yang ia rasakan begitu cepat melewati kehidupannya. Dulu, cidomo bisa menunggu penumpang terminal, halte, depan sekolah, bahkan sampai di depan hotel. a�?Dulu saya menunggu anak pulang sekolah di depan Hotel Mataram,a�? katanya mengenang kejayaan para kusir di masa lalu.

Tapi, kini para penumpang cidomo hanya bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional. Di mana ada pasar tradisional, di sana ada alat transportasi tradisional juga. Namun bukan berarti di pasar tradisional cidomo bisa mendapatkan banyak penumpang. Karena kebanyakan orang sudah memiliki alat transportasi sendiri.

a�?Tarif cidomo sekarang tinggi. Bisa Rp 5 sampai 10 ribu. Tapi itu, masalahnya penumpang sepi,a�? terang Wayan.

Terpisah, Cukup Wibowo, Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Mataram mengatakan alat transportasi tradisional seperti cidomo akan bisa bertahan selama pasar tradisional juga masih bisa ditemukan.

Pasar tradisional dan alat transportasi tradisional menurut Cukup merupakan satu kesatuan. Hal tersebut tak bisa dipisahkan bila memandang alat transportasi sebagai kebutuhan dalam kehidupan sosial masyarakat.

a�?Jadi orang masih menggunakan cidomo karena di sana ada transaksi yang masih bersifat sosial, yakni tawar menawar. Sama halnya dengan pasar tradisional,a�? terang Cukup dengan cermat.

Menurutnya, pola hidup modern yang ditandai dengan praktis dan efisien lambat laun akan menggeser keberadaan cidomo. Besar kemungkinan secara total. Bila pada waktunya nanti perkembangan zaman memberikan kemudahan, maka senjakala cidomo pun akan terlihat di depan mata.

Akan tetapi ia juga menepis apa yang baru saja dibayangkan. Sebab menurutnya, di kota-kota besar seperti Jakarta, Jogjakarta, Bandung, dan Surabaya, ia masih menemukan pasar tradisional dan begitu juga alat transportasi tradisional. a�?Waktu saya ke Bangkok, di sana juga masih ada alat transportasi tradisionalnya,a�? terang Cukup.

Oleh karena itu, Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Mataram itu mengatakan sangat sulit untuk melihat gambaran kapan cidomo akan benar-benar tidak dibutuhkan lagi oleh masyarakat. Akan tetapi keadaan tersebut menurutnya seperti sudah berada beberapa meter dari pandangan mata. (tih/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka