Ketik disini

Kriminal

Tersangka Menghilang, Dinas LHK Terbitkan DPO

Bagikan

MATARAM-Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB menerbitkan surat Daftar Pencarian Orang (DPO) atas nama Sahdun. Masuknya Sahdun dalam DPO,A� karena yang bersangkutan dianggap tidak kooperatif memenuhi panggilan penyidik untuk menjalani proses tahap dua.

Penyidik Dinas LHK Astan Wirya mengatakan, berkas perkara dalam kasus yang menjerat Sahdun telah dinyatakan lengkap. Dalam perkara tindak pidana kehutanan ini,A� penyidik PNS juga menetapkan tersangka lainnya, yakni Idin.

Kedua tersangka diketahui tidak ditahan selama proses penyidikan. Ini karena pada awalnya tersangka kooperatif selama pemeriksaan yang dilakukan penyidik PNS. Selain itu,A� penyidik juga telah menyita barang bukti berupa satu unit truk dan kayu jenis Sonokeling.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ order=”desc”]

“Dalam setiap pemeriksaan dia hadir.A� Karena itu tidak ditahan,” kata Astan.

Proses pemberkasan terhadap keduanya pun berjalan lancar.A� Hingga akhirnya jaksa peneliti menyatakan berkas perkara tersangka telah lengkap pada Desember lalu.

Masalah muncul ketika penyidik PNS akan menindaklanjuti hal itu. Ketika hendak melakukan proses tahap dua,A� melimpahkan tersangka dan barang bukti ke Jaksa Penuntut Umum (JPU),A� tersangka atas nama Sahdun menghilang.

Dia tidak memenuhi surat panggilan yang dilayangkan penyidik. Tidak kooperatifnya tersangka,A� membuat Dinas LHK menerbitkan DPO atas nama Sahdun. Surat itu ditembuskan kepada Polda dan jajarannya.

“Kita juga sudah melakukan upaya pencarian. Kalau sudah tertangkap, bisa segera dilakukan tahap dua,” jelas Astan.

Sebelumnya, Tim gabungan dari TNI dan Dinas LHK NTB berhasil menyita tiga truk berisi kayu sonokeling, akhir Agustus 2017. Kayu yang berjumlah 15,39 meter kubik tersebut diduga merupakan hasil pembalakan liar dari hutan di wilayah Sekotong Timur, Lobar.

Dari hasil penyidikan, petugas akhirnya menetapkan dua orang tersangka. Yakni, Sahdun dan Idin. Keduanya diduga kuat berperan aktif dalam aksi pembalakan liar di TKP.

Maraknya penebangan liar kayu jenis Sonokeling, diduga kuat karena banyaknya permintaan ekspor. Ini membuat cukong kayu dari luar negeri memanfaatkan oknum masyarakat untuk mengambil kayu Sonokeling dari dalam kawasan hutan.

Hal ini membuat hutan di wilayah NTB menjadi sasaran illegal logging. 15,39 meter kubik kayu itu sendiri, diambil dari kawasan hutan negara, masuk dalam Kelompok Hutan Marejebonga RTK-13, di Desa Mareje Timur, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat (Lobar).

Dalam menjalankan aksinya, pelaku melakukan pembalakan liar di Hutan RTK-13 saat malam hari. Ini untuk menghindari aksi mereka diketahui petugas.

Dalam sangkaan pasalnya, tersangka diduga kuat melanggar Pasal 83 ayat 1 huruf b Jo Pasal 12 huruf e dan atau Pasal 16 Jo Pasal 18 ayat 1 huruf a dan atau Pasal 87 ayat 1 huruf e Jo Pasal 12 huruf m Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

(dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka